
kesokan harinya Rudra masih berada di depan ruangan Putri dengan seorang diri karena tadi malam Rudra meminta Mawar dan Fajar untuk pulang kerumah sebab hari ini Fajar akan masuk kantor dan ia tidak tega merepotkan mereka. tidak lama kemudian Risma pun sampai di rumah sakit lalu menemui Rudra dengan membawa beberapa baju ganti di tangannya serta sarapan untuk Rudra.
"apa kau sudah sarapan?" ucap Risma.
" belum Bu" jawabnya singkat.
"kebetulan sekali Ibu membawakan mu makanan, sebaiknya kau sarapan dulu" kata Risma sambil memberikan makanan itu padanya sementara itu ia pergi ke ruang ganti untuk menyalin baju nya.
Setelah Risma kembali dari ruang ganti ia pun melihat Rudra masih menyuap nasi dengan pandangan kosong nya membuat Risma khawatir akan kesehatan nya. Lalu ia pun menghampiri Rudra kemudian duduk di samping nya untuk menyuapinya.
"kau jangan seperti ini nak, nanti kau bisa sakit" kata Risma lalu Rudra pun kembali meneteskan air mata nya.
" kenapa selalu Putri yang terluka Bu, apa hanya Putri satu-satunya manusia di muka bumi ini? sehingga cobaan terus saja mengarah kepadanya" ucap Rudra.
" yang sabar nak, kau harus tetap kuat jika ingin istrimu segera sembuh" kata Risma menguatkan nya kemudian kembali menyuapinya.
tidak lama kemudian, salah satu Suster keluar dari ruangan Putri dan mengatakan kepada mereka kalau Putri sudah sadar dari komanya. Dengan cepat Rudra bangun dari tempat duduknya lalu masuk ke dalam ruangan Putri dan Risma berjalan di belakangnya.
"Rudra...akuuuu" ucap Putri berusaha untuk duduk namun ia masih merasa lemas.
"Suuuuuutttttttt,, diamlah sayang..jangan berkata apapun dulu atau banyak bergerak" kata Rudra.
"kau menangis?" lanjut Putri sambil mengusap air mata Rudra yang tengah duduk di samping ranjangnya.
" maafkan aku, aku tidak bisa menahan kesedihan ku setelah melihat keadaanmu seperti ini" ucap Rudra.
"tenanglah aku pasti baik-baik saja.. benar kan Bu?" Putri menoleh ke arah Risma.
__ADS_1
"ia Put, semoga kau cepat sembuh" kata Risma lalu membiarkan mereka berdua di dalam sana. Kemudian Rudra mengambil bubur yang telah di sediakan oleh suster pada meja kecil itu untuk menyuapi Putri.
" aku sedang tidak ingin makan Rudra, bagaimana kabar Indah di rumah" ucapnya.
"Indah baik-baik saja, Angel uang menjaga nya di rumah.. dan makan lah dulu sedikit saja" ucapnya membujuk lalu Putri pun perlahan membuka mulutnya karena kasihan melihat wajah Rudra sudah sangat lemas itu.
Setelah selesai menyuapi Putri, Risma pun memanggil Rudra untuk segera menemuinya di dalam ruang kerja nya lalu Rudra pun pergi kesana sementara ia meminta Putri untuk tidak lupa memencet bel ketika ia menginginkan sesuatu.
Sesampainya Rudra di sana, Risma pun memintanya untuk duduk kemudian ia memberikan hasil laboratorium nya kepada Rudra dan ia mengatakan pada nya kalau Rahim Putri tidak harus di angkat namun karena kejadian ini ia memiliki 30% harapan untuk bisa hamil. Mendengar ucapan Risma membuat Rudra kembali menangis karena ia bingung bagaimana menyampaikan itu pada Putri. Lalu ia pun mengambil keputusan untuk menyembunyikan itu dari nya dan semuanya terlihat baik-baik saja.
" kenapa kau ingin menyembunyikan semua ini Rudra? apa tidak sebaiknya kau memberitahu kan padanya" ucap Risma.
" aku tidak tega Bu, ini pasti akan sangat melukai perasaannya dan akan mengganggu mental nya nanti" kata Rudra dan Risma pun mengerti.
" baiklah kalau begitu simpan hasil Laboratorium itu baik-baik nak" pesan Risma.
"apa kata Ibu Rudra? kapan aku bisa segera pulang?" tanya Putri.
" kata Ibu, kau baik-baik saja sayang tidak ada luka parah namun kau masih harus di rawat dalam beberapa hari lagi" lanjutnya.
"kalau tidak ada luka parah, lalu kenapa aku harus berlama-lama di sini Rudra? kau tau kan aku tidak suka dengan rumah sakit?" Putri kembali bertanya sehingga Rudra kehabisan kata-kata untuk mengelabuinya.
Tidak lama kemudian Rindu pun menelpon Rudra dan memintanya untuk segera ke kantor karena hari ini ada meeting penting dan tidak bisa di wakili oleh nya. Namun Rudra tetap saja Rudra tidak bisa meninggalkan Putri sendirian lalu menutup teleponnya.
"pergi saja Rudra, aku tidak akan kenapa-napa jika kau khawatir hubungi saja kak Mawar nanti dia yang akan menemani ku disini" ucap nya lalu Rudra pun langsung menelpon Mawar.
Satu jam kemudian Mawar pun tiba di rumah sakit dan langsung masuk ke dalam ruangan Putri. Sementara Rudra langsung pergi ke kantor dan akan mandi di sana saja karena sudah tidak ada waktu lagi. Sesampai nya di kantor Rudra pun turun dari mobilnya dan melangkahkan kakinya dengan sangat cepat. lalu ia pergi untuk mandi setelah masuk di dalam ruang kerja nya yang sebesar kamarnya itu, tentu saja karena ia adalah orang kaya raya jadi didalam ruangan kerja nya sudah lengkap ada tempat tidur, lemari bajunya dan kamar mandi.
__ADS_1
Setelah ia selesai mandi Rindu langsung meminta nya untuk pergi ke ruang meeting sekarang karena beberapa orang di sana sudah lama menunggu kehadiran nya.
"permisi, maaf saya terlambat" ucap nya.
"tidak apa-apa pak, silahkan berpresentasi" lanjut salah satu penanam saham itu kemudian ia pun memulainya dengan di bantu oleh Rindu sehingga metting pun lancar.
" Waooowww hebat sekali, cara kerja kalian sangat kompak dan jenius semoga proyek kita ini menghasilkan suatu kepuasan" pujian mereka.
" terimakasih pak, kantor kami pun ikut senang bekerja sama dengan anda semua" lanjut Rudra lalu berjabat tangan dengan mereka semua lalu kembali masuk kedalam ruangan nya.
Sementara di rumah sakit Mawar memberitahu Putri tentang kecemasan dan kecurigaan nya terhadap Rindu namun Putri menanggapi nya dengan tenang sehingga membuat Mawar bingung.
"sebelum nya aku juga berpikir sama dengan mu kak, tetapi aku malah mencemaskan mu dan mas Fajar karena ia berawal dari kalian" kata Putri.
"tidak Put, ku rasa sekarang dia sudah tidak menyukai mas Fajar lagi tetapi Rudra..percayalah" lanjut Mawar.
"jika memang benar dia menyukai Rudra ku, tidak masalah selagi Rudra tidak memberi harapan padanya" lanjut Putri dan Mawar menggelengkan kepalanya karena mendengar ucapan Putri yang terlihat santai itu.
Sesekali Putri merasa keram di bagian perut nya hingga tak tertahan lalu Mawar pun keluar untuk memanggil Dokter dan Risma pun langsung memeriksa keadaan Putri.
" apa tadi kau memakan rujak pedas?" tanya Risma.
" ia Bu, tapi satu gigitan saja" ucapnya.
"perut mu saat ini tidak bisa menerima makanan pedas ataupun asam, jadi tahanlah dulu keinginan mu itu" kata Risma.
"baik Bu, tolong maafkan aku" lanjut Putri lalu Risma dan Mawar pun membiarkan nya untuk beristirahat.
__ADS_1