
Rangga meneteskan air matanya perlahan di kala ia melihat anak nya yang sedang berada di inkubator rumah sakit tempat di mana Rosa menghembuskan nafas terakhirnya .
Rasa bersalah Rangga pada anak nya begitu besar , ia merasa selama ini tak bersikap selayak nya ayah yang baik dan juga suami yang baik untuk istri dan anak nya itu .
Ia Selalu bersikap dingin pada Rosa meskipun wanita itu selalu tersenyum pada dirinya , ia juga jarang menemani nya ke rumah sakit untuk sekedar menemani nya memeriksa kan kandungan . Ia lebih memilih bersenang senang dengan dunia nya sendiri , ia adalah seorang ayah yang egois mementingkan perasaannya sendiri dari pada perasaan anak dan istrinya .
lelaki yang masih mengenakan pakaian serba hitam itu melangkah kan kaki nya perlahan menuju di mana anak nya berada .
Ia memasukan jari telunjuk nya ke dalam inkubator , ia ingin merasakan genggam kecil dari anak nya itu . Baru saja Rangga memasukan tangan nya , anak nya itu sudah menggenggam tangan nya dengan erat .
Rangga yang melihat nya tersenyum kecil , sejenak ia merasa sedikit terhibur dengan tingkah lucu anak lelaki nya itu .
" Kamu tau , papa baru saja pulang dari pemakaman ibumu . maafkan papa ya nak , kamu harus hidup tanpa kasih sayang dari seorang ibu karena papa . Maaf telah membuat mu dan ibumu menderita selama ini , papa berjanji tak akan mengulangi kesalahan yang sama . Papa akan selalu ada di samping mu , menjaga mu dan menggantikan peran ibumu untuk mu sayang . Papa mohon tumbuh lah dengan sehat dan bahagia . " ucap Rangga menangis .
Baru kali ini Rangga merasa sangat sedih hingga tak mampu berkata apa apa lagi.
" Yang sabar , loe pasti kuat kok . " ucap seseorang yang baru saja datang menepuk pundak nya pelan .
" Terimakasih Jordan . " ucap Rangga berusaha tersenyum meskipun matanya saat ini masih berkaca kaca dan terlihat sembab karena menangis .
" Rencana loe selanjutnya mau bagaimana . Apa loe akan meninggalkan Siska atau loe mau menikahi dia dan menjadikan wanita itu sebagai pengganti Rosa?"Tanya Jordan pelan .
Sebenarnya lelaki itu tak ingin menanyakan hal itu di saat saat seperti ini namun ia begitu penasaran dan ingin mengetahui apa keputusan yang sahabatnya ambil untuk masa depan nya dan juga anak nya itu .
" Entah lah .Aku sedang tak ingin membahas hal itu , saat ini yang harus gue pikir kan adalah membesarkan anak ku dan memberikan ia kasih sayang yang tak bisa ia dapatkan dari ibunya . " ucap Rangga tersenyum sendu .
" Apapun keputusan loe nanti nya , gue bakal selalu mendukung nga .." ucap Jordan membuat Rangga sedikit tersenyum lebih lebar lagi .
" Terimakasih ... " Ucap Rangga sebelum kembali mengamati pergerakan anak nya . Jordan yang melihat Rangga begitu sayang pada anak nya itu pun menjadi tak tega .
...
...
...
__ADS_1
Di lain sisi Siska terdiam , sejak tadi ia menghubungi Rangga namun lelaki itu sama sekali tak menjawab telpon bahkan pesan dari dirinya . Sebenarnya Siska ingin membicarakan masalah ia ingin pergi meninggalkan lelaki itu namun karena Rangga sama sekali tak merespon telvon dan pesan yang ia kirimkan akhirnya Siska memutuskan untuk pergi tanpa memberitahu Rangga .
Wanita itu sudah membulatkan tekad nya untuk meninggalkan Rangga dan memulai kehidupan nya yang seperti dulu lagi . Saat ini ia berjalan ke arah almari mengeluarkan pakaian dari dalam lemari itu satu persatu dan memasukan nya ke dalam koper .
setelah itu Ia berjalan menuju meja samping ranjang nya , ia mengeluarkan sebuah cincin dan kalung yang pernah Rangga berikan pada dirinya . ia menatap kalung dan cincin itu dengan tersenyum .
setelah itu ia mengambil bolpoin dan sebuah kertas putih dan ia pun menulis kan beberapa kata di kertas yang ia letakkan di atas cincin dan kalung tersebut .
Setelah di rasa cukup Siska pun memandang ke sekeliling kamar . Ia merasa sedih karena akan meninggalkan kamar yang sudah ia tempati selama 4 bulan lebih .
" Aku pasti akan merindukan kamar ini kembali . " ucap nya pelan . kemudian wanita itu menarik koper yang ia telah siapkan , meninggalkan Apartemen milik Rangga .
Kaki kaki Alma menapaki jalanan aspal , ia akan kembali ke kampung nya . Memulai hidup nya seperti dulu kala , Ia terus berjalan dengan menggunakan syal pemberian bapak nya .
Cukup lama ia berjalan hingga sebuah mobil berhenti tepat di samping nya , Siska menghentikan langkah kakinya . Ia bertanya tanya siapakah pemilik mobil yang saat ini berhenti di samping nya itu .
Seorang pria yang masih mengenakan jas dokter nya turun dari mobil itu . Siska terkejut ia tak menyangka akan bertemu dengan dokter yang ia kenal itu .
" Dokter Ibra " sapa Siska membuat dokter itu tersenyum ramah .
" Saya mau pulang ke kampung halaman saya , sudah lama saya tak pergi ke sana . " ucap Siska pada Ibra .
" Mau aku antar kan ?" Tanya Ibra pada gadis yang baru di kenal nya itu .
" Tak usah dokter kampung saya sangat jauh dari sini ,jadi saya baik bus saja . " ucap Siska menolak karena merasa tak enak hati pada lelaki di hadapannya itu .
Ibra ingin berkata lagi namun ia urungkan kala melihat syal yang melingkar di leher wanita itu .
" Itu seperti tak asing " batin Ibra memperhatikan syal di leher Siska .
" Ya sudah dokter saya takut ketinggalan bus jadi saya pergi dulu ya . " Ucap Siska tak ingin kepergian nya di tunda lagi .
" Kalau saya tak boleh mengantarkan kamu ke kampung mu boleh kan saya mengantar mu ke terminal ?" tanya Ibra kembali tersenyum dan tak menatap syal di leher Siska lagi karena ia pikir mungkin itu hanya kebetulan saja .
" Em ...apa tak merepotkan dokter ?" Tanya Siska takut jika merepotkan lelaki di hadapannya itu .
__ADS_1
" Tidak , kebetulan jadwal ku di rumah sakit sudah selesai jadi saya bisa mengantarkan kamu . " ucap Ibra tersenyum .
" Baiklah saya dengan senang hati menerima tawaran dokter . " ucap Siska ikut tersenyum juga . Kemudian ke dua orang itu kembali masuk kedalam mobil milik Ibra .
" Siska sebenarnya saya tak ingin menanyakan hal ini tapi kalau saya tidak bertanya saya akan sangat penasaran jadi apa kamu keberatan jika saya bertanya tentang hal ini ?" tanya Ibra membuat Siska mengerutkan dahinya .
" Tanya apa dokter ?" Tanya siska penasaran .
" Syal di leher kamu itu , em maaf aku belum pernah melihat mu memakai nya sebelum nya . ?" Tanya Ibra berusaha mencari tau apakah dugaan nya benar atau tidak , Karena ia juga tak yakin .
" Ini pemberian bapak . " ucap Siska tersenyum . Ibra menghela nafas nya perlahan , ia merasa tak yakin mendengar Jawaban Siska itu .
" Boleh kah saya melihat nya ?" tanya Ibra masih penasaran . Siska melepaskan syal itu dan menyerahkan nya ke tangan Ibra .
Di syal itu tertulis sebuah nama yang tak asing baginya . "Diandra Safaluna " lirih Ibra pelan kemudian ia menatap siska tak percaya .
" Ada apa dokter ?" Tanya Siska penasaran .
" Bisakah kamu tak pulang ke kampung mu untuk Sementara waktu , aku harus memastikan sesuatu . Ini berkaitan dengan masa depan mu . " Ucap Ibra pada Siska .
" tak bisa , saya harus pulang sekarang . tekat saya sudah bulat dokter . " Ucap Siska tak ingin terlalu lama berada di kota itu lebih lama dan membuat keyakinan nya untuk berubah goyah lagi .
" Ck ... Baiklah kalau begitu tapi bisakah saya mengetahui alamat mu di desa ?" Tanya Ibra yang membuat Siska bingung , ia merasa ada hal yang Ibra ketahui tentang syal di tangan lelaki itu .
" Nanti saya catat alamat rumah saya , tapi bisakah dokter menjalankan mobilnya . Siska bisa telat jika dokter tak kunjung menjalankan mobil nya . " ucap Siska membuat Ibra menepuk dahinya pelan , saking penasarannya ia pada syal di leher Siska ia jadi lupa menjalankan mobilnya .
" Saya jadi lupa ... Ya sudah ayo saya antar kamu ke terminal . " Ucap Ibra mulai menjalankan mobilnya perlahan .
..
...
...
Kira kira ada hubungan apa ya Ibra dengan syal itu . Ikuti terus kelanjutan ceritanya jangan lupa like komen vaf dan hadiah .
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti untuk kami para author .