
Siska terbangun dari tidurnya , badan wanita itu terasa pegal bahkan ia merasa kan sakit di bawah sana . Wanita itu meringis saat menggerakkan tubuhnya perlahan lahan turun dari kasur . Badan nya masih lemas akibat kegiatan nya semalam , terbayang Rangga menyentuh nya berkali kali membuat ia jijik pada dirinya sendiri .
Ia tau tak seharusnya ia seperti itu mengingat saat ini ia telah bersetatus sebagai istri Rangga namun , ia juga tak mau di perlakukan seperti hewan . Ia sangat sakit hati , Rangga meninggalkan nya begitu saja setelah puas menggaulinya .
Wanita itu menghela nafas nya kemudian ia berjalan menuju sebuah cermin yang sangat besar , di sana ia bisa melihat seluruh tubuh nya memar karena perlakuan nya semalam .
Memar itu memiliki warna yang berbeda beda , ada yang keunguan ada kemerahan dan juga ada jingga . Sungguh seperti sebuah lukisan yang melekat pada tubuh indahnya .
" Apa mungkin ini karma yang aku terima karena telah menyakiti mbak Rosa ?" tanya Siska dalam hatinya . Sampai saat ini wanita itu belum mengetahui jika Rosa telah tiada dan itu yang membuat Rangga marah padanya .
" Aku harus bertemu dengan mbak Rosa dan meminta maaf padanya . Tapi bagaimana aku bisa keluar dari kamar ini dan apakah dia mau memaafkan aku , bagaimana Kalau dia mencaci maki ku dan memukul diriku " Ucap Siska sedikit ragu dengan keputusan nya apalagi saat ini ia sudah menjadi istri siri Rangga .
" Bagaimana jika mbak Rosa tau Suami nya sudah menikah dengan ku secara siri . " lirih Siska pelan .
" sudahlah kenapa aku berpikir seperti itu ,aku akan semakin menyakiti nya jika dia tau tentang semua ini . Lebih baik aku diam saja dan menerima jalan takdir ku . " ucap Siska pada akhirnya tak ingin egois dan membuat hati Rosa terluka.
Wanita itu berjalan menuju kamar mandi , ia guyur tubuh nya dengan air mengalir . Ia sungguh lelah dan mungkin rasa lelah nya akan segera hilang dengan ia mandi seperti itu .
Di lain sisi Bram dan anak buahnya baru saja tiba di desa tempat putrinya tinggal saat fajar . lelaki itu segera membuka pintu rumah anak nya perlahan .
" Siska ... Siska .Dimana kamu sayang ." panggil Bram memasuki rumah itu , perasaan lelaki paruh baya itu tak enak saat tak kunjung mendapatkan jawaban dari anak nya .
" Cari ke segala sudut rumah dan desa sampai ketemu . " ucap bram pada anak buah nya , tanpa berkata apa pun para pria berbaju hitam itu langsung menuruti perintah tuan nya .
Sementara Bram . Lelaki itu segera menuju kamar sang anak , di lihatnya kamar itu masih rapih namun yang membuat Bram heran adalah . telvon genggam sang anak yang tergeletak di atas kasur begitu saja .
__ADS_1
Ia tau anak nya bukan lah orang yang ceroboh , anak nya selalu membawa telvon genggam nya kemana mana . Bram beralih menatap lemari kayu milik anak nya itu , di bukanya lemari kayu itu paksa dan ia melihat pakaian anak nya masih lengkap di sana bahkan uang pemberian istrinya pun masih tersimpan dengan baik di lemari itu .
" Dia tak mungkin pergi jauh sendiri an tanpa membawa pakaian dan juga uang ini . Apa dia ke pasar atau kemana sebenarnya , kenapa telvon nya tak di bawa . Atau mungkin ada orang yang membawanya pergi , tapi jika memang benar siapa dia . Siapa yang berani menculik anak ku ?" tanya Bram pada dirinya sendiri . Lelaki itu terdiam sejenak ia tengah berpikir siapa orang yang kemungkinan telah menculik anak nya .
" Siapa pun itu aku harus menemukan nya dan membawa anak ku kembali ." ucap bram pada dirinya sendiri .
Tak lama hendphone lelaki itu berdering , Bram menatap layar handphone nya dengan nanar . itu adalah telvon dari istrinya . Istrinya pasti sangat khawatir dan ingin mengetahui apa yang terjadi namun Bram belum siap mengatakan nya ia takut istrinya itu sedih .
Istrinya itu baru saja bertemu dengan Siska setelah berpisah sangat lama , dan kini Siska malah hilang entah kemana . Bram tak bisa membayangkan bagaimana perasaan istrinya jika mengetahui hal itu .
Karena tak ingin mengatakan yang sebenarnya Bram lebih memilih mematikan handphone nya dan tak menjawab telvon dari istrinya itu .
" Maaf sayang , kali ini aku harus berbohong padamu . ini demi kebaikan mu . Tapi aku janji akan menemukan anak kita dengan segera . " ucap bram pada dirinya sendiri .
...
...
..
" Bayi siapa itu ... bagaimana mungkin di rumah ini ada bayi?" tanya Siska pada dirinya sendiri dengan dahi berkerut .
Namun tak lama setelah itu ia teringat pada Rosa dengan perut besar nya .
" Mungkin bayi mbak Rosa sudah lahir , mbak Rosa pasti sangat bahagia sekarang . Andaikan saja aku juga bisa memiliki anak pasti aku juga akan sangat bahagia. Namun sepertinya aku tak bisa memiliki nya dan aku tak ingin memiliki nya di saat kehidupan ku seperti ini . Aku tak ingin anak ku menderita dengan perlakuan ayah nya . " ucap Siska pelan kemudian ia kembali menatap cermin di hadapannya .
__ADS_1
" Sayang sudahlah jangan menangis ya nak ...cup cup cucu oma sayang . " ucap Lisa berusaha menenangkan cucunya yang saat ini tengah menangis dengan begitu keras nya .
" Sini biar Rangga gendong , siapa tau Rian kangen sama Rangga . " ucap Rangga berdiri dari duduknya . Saat ini mereka tengah berada di ruang kerja Rangga . tanpa menunggu lagi Lisa langsung menyerahkan cucunya itu pada Rangga .
" Anak papa sayang ... diam ya , papa di sini menemanimu . " ucap Rangga mengusap pipi anak nya perlahan .
" Lihatlah sepertinya memang benar yang kamu katakan , dia langsung diam saat berada di gendongan mu . " ucap Lisa tersenyum saat melihat anak dan cucunya . Tak lama pandangan Wanita itu teralihkan pada sebuah pintu kayu yang tak jauh dari tempat ia berdiri .
" Rangga itu pintu apa , mama baru sadar kalau di ruang kerja mu ini ada sebuah pintu ?" tanya Lisa penasaran . wanita itu ingin menghampiri dan membuka pintu kayu itu namun sebelum ia melakukan itu Rangga lebih dulu mencegah nya .
" Em ...itu ...itu , barang peninggalan Rosa aku simpan di situ ma jadi tak sebaiknya mama membuka nya . Aku tak mau mama sedih begitu pula dengan ku ." ucap Rangga berbohong .
" Oh mama kira itu tempat tersembunyi seperti di film film ." ucap Lisa bercanda seraya terkekeh pelan . Rangga yang mendengar itu pun sedikit merasa lega , ia senang ibunya percaya dengan apa yang ia ucapkan .
Rangga menatap pintu kayu itu dengan nanar , melihat pintu itu ia jadi penasaran apakah orang di dalam kamar itu sedang meratapi nasibnya atau bahkan sebaliknya .
..
...
...
Berusaha up ... meskipun mata ini tak bisa berkompromi hehehe .
Dukung terus author dengan berikan like komen vaf dan hadiah ya .
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti untuk kami para author .