
" Baiklah kalau begitu layani aku dengan baik maka aku tak akan menyentuh ibumu sama sekali Hany " ucap Rangga seraya mengusap pipi Siska lembut . Siska hanya diam lagi lagi ia tak bisa berbuat apa apa .
" Men de sah lah sayang , aku merindukan de sah Han mu yang merdu itu . " ucap Rangga setelah itu mulai men ciu mi bi bir Siska . Siska tak membalas ciu man itu sama sekali .
" Balas Ciu man ku . Katanya kamu mau melakukan apapun bukan . " ucap Rangga membuat Siska tak ada pilihan selain menuruti omongan Suami nya itu .
Ia mulai membalas nya meski ia tak ingin , keduanya ber ciu man cukup lama sesaat mereka lupa tentang masalah mereka berdua .Siska melepaskan Ciu man itu ketika ia sudah kehabisan nafas .
Rangga tersenyum tipis kemudian Lelaki itu kembali men ciu mi leher Siska seraya berbisik di telinga istrinya itu .
" Men de sah lah !" perintah rangga yang lagi yang tak bisa Siska tolak .
" Mas Rangga . " lirih Siska pelan .
Rangga tersenyum mendengar itu , lelaki itu semakin bersemangat menjelajahi tu buh mungil istrinya .
Semakin lama ciu man Rangga semakin turun kebawah membuat Siska memejamkan matanya erat saat ia tak kuasa menahan gelombang yang akan datang pada dirinya.
" Akh ..." teriak Siska pada akhirnya yang membuat Rangga semakin bersemangat .
Lelaki itu sudah tak tahan lagi , ia segera melepaskan pa kai an nya satu persatu dan memasukan peliharaan ke dalam sangkar yang sudah ter bi asa ia masuki .
" Akh ..." teriak Rangga ketika peliharaan nya itu berhasil me ma suk Ki sangkar emas milik Siska . Lelaki itu mulai menggerakkan tu buah nya perlahan semakin lama gerakan itu semakin cepat . Membuat Siska tak kuasa di buatnya .
Permainan mereka cukup panas hingga membuat ruangan itu terasa panas pula . Peluh keringat mulai membasahi ke duanya . Permainan mereka berlangsung cukup lama hingga pada akhirnya Rangga dan Siska tak kuasa lagi .
" Akh ... " teriak keduanya saat berhasil meraih puncak bersama sama .
Belum semenit Siska beristirahat lelaki itu sudah mulai menggerakkan Tu buah nya lagi yang membuat Siska tak berdaya hingga wanita itu lemas di buat nya . Mereka melakukan kegiatan itu hingga fajar menyingsing .
...
..
..
Saat ini Lisa tengah menyiapkan sarapan untuk putra nya , wanita setengah baya itu begitu heran karena tak bisanya putranya itu belum bangun di jam jam seperti ini .
__ADS_1
Karena sarapan yang ia buat telah siap , Lisa pun memutuskan untuk menghampiri sang anak di kamar nya . Kamar itu masih sepi bahkan tak ada siapa siapa di kamar itu karena tadi malam cucunya tidur bersama dengan nya .
" Kemana anak itu kenapa tak ada di kamar nya ?" tanya Lisa pergi meninggalkan kamar putra nya itu , ketika ia baru saja menutup pintu kamar itu sang anak baru datang dari ruang kerja nya yang tak jauh dari kamar putra nya itu .
" Kamu ...tidur di ruang kerja Rangga ?" tanya Lisa menatap anaknya itu tajam , mata wanita paruh baya itu meneliti pakaian sang anak yang begitu berantakan .
" Em. .. iya Rangga ketiduran di sana . " ucap Rangga pelan .
" Kamu berantakan sekali... Sudah sana mandi habis itu kita sarapan. " ucap Lisa pelan . Kemudian wanita itu tak lagi memperhatikan anak nya . Wanita itu kembali berjalan menuruni tangga demi tangga menuju meja makanya .
" Assalamualaikum " ucap Siska yang sudah rapi dengan pakaian nya , wanita itu memang terbangun lebih dulu dari pada Rangga . saat ini ia sudah berada di meja makan bersama dengan Lisa .
" Waalaikumsalam, kamu buat saya terkejut saja Siska . Gak tau datang dari mana eh tiba tiba saja nongol di sini . " ucap Lisa tersenyum .
" Maaf Bu , saya tadi hadis dari kebun belakang rumah sebentar . " ucap Siska pelan .
" Oh seperti itu , Eh ... kenapa pipi kamu biru Siska , seperti habis di pukul seseorang ?" tanya Lisa mengamati pipi pengasuh cucunya yang nampak lebam kebiruan .
" Ini ...em saya habis jatuh tak sengaja pipi saya terbentur sudut meja . " ucap Siska berbohong .
Lisa terdiam , ia tau Siska berbohong . Terkena sudut meja tak mungkin bisa separah itu pipinya , lagi pula lebam kebiruan itu seperti telapak tangan .
" Iya ...Riyan ada di kamar saya . Kamu masuk saja ke sana , pintunya gak di kunci kok . " ucap Lisa pelan . Sebenarnya wanita itu ingin bertanya lebih jauh tentang lebam di pipi Siska namun ia urungkan karena sepertinya Siska tak mau jujur pada dirinya .
" Iya Bu . " Ucap Siska pelan kemudian wanita itu berjalan menjauhi Lisa , Lisa hanya bisa menatap kepergian Siska dengan pandangan nanar .
Tak lama kemudian Rangga datang dan duduk di hadapan Lisa . Lisa menatap anak nya itu dengan senyuman manis nya .
" Nah gitu kan lebih enak di lihat nga ..Oh iya mama mau cerita tentang sesuatu . " ucap Lisa ingin bercerita tentang lebam di pipi Siska yang ia lihat tadi .
" Apa ?" tanya Rangga mulai mengambil nasi dan lauk pauknya ke dalam piring .
" Tadi mama lihat pipi Siska lebam seperti habis kena tampar seseorang ." ucap Lisa membuat Rangga gugup sampai menjatuhkan sendok yang baru saja ia pegang ke atas lantai .
" Kamu ini , kenapa tak hati hati . jangan di ambil biar mama ambilkan sendok yang baru . " ucap Lisa berlalu pergi menuju dapur nya .
Sedangkan Rangga hanya terdiam . Lelaki itu sungguh tak menyangka jika ibunya akan melihat lebam di pipi istri sirinya .
__ADS_1
" Ini sendok nya . " ucap Lisa memberikan sebuah sendok baru kepada Rangga . Rangga langsung meraih nya .
" Mengenai Siska tadi seperti dia baru saja mendapatkan kekerasan dari seseorang . Mama berniat membatu dia dan melaporkan nya ke polisi jika dia setuju nanti . " Ucap Lisa membuat Rangga memegang sendok di tangan nya erat erat .
" Mam kenapa ngurusin masalah orang lain sih , biarkan saja dia menyelesaikan masalah nya sendiri . Rangga tak setuju jika mama terlibat dalam masalah wanita itu . " ucap Rangga pelan .
" Memang nya kenapa ...?" tanya Lisa menatap anak nya itu heran .
" Karena Rangga takut terjadi apa apa sama mama . Sudah jangan bahas hal ini lagi , Rangga tak mau mendengar nya oke . " ucap Rangga memilih menyendok kan sesuap nasi kedalam mulutnya .
" Aneh ...biasanya dia paling senang membantu seseorang kenapa sekarang dia seperti itu ?" tanya Lisa dalam hatinya .
" Ibu maaf mengganggu , botol susu Riyan di mana ya . Saya mau membuat kan dia susu . " ucap Siska yang datang dengan menggendong Riyan di tangan nya .
" Eh ...cucu oma sudah bangun ya , Kamu ambil saja di dapur Siska tadi baru saya cuci dan rendam air panas . Sini biar Riyan saya gendong . " ucap Lisa mengambil alih Riyan dari gendongan Siska .
Rangga sama sekali tak menoleh , ia sibuk dengan makanan nya sendiri .
" Kalau tertidur seperti ini dia sangat mirip dengan rosa . " ucap Lisa mengusap pipi cucunya itu .
" Iya semoga saja sifatnya seperti ibunya . " ucap Rangga ikut menatap anak nya yang tertidur lelap .
" Rangga kamu tak berniat mencari pengganti Rosa nak , kasian anak mu pasti sangat membutuhkan sosok seorang ibu ?" tanya Lisa menatap anaknya itu dengan sendu .
" Tidak ma ... aku belum ingin menikah lagi . Sudah dulu ya Rangga mau berangkat ke kantor . Oh iya besok Rangga pergi keluar negeri ada urusan yang tak bisa di wakilkan jadi Rangga harus pergi sendiri . " ucap Rangga pada mama nya itu .
" Iya nak ." ucap Lisa setelah itu kembali memperhatikan cucunya. kemudian Rangga berlalu pergi setelah mencium pipi anak nya itu pelan . Lisa hanya bisa tersenyum melihat putranya yang begitu menyayangi Riyan , ia dalam hati berharap putranya itu segera menemukan pengganti Rosa agar keluarga mereka semakin lengkap dan bahagia .
...
...
...
Semangat ... semangat ... Tak perduli dengan komentar nyinyir , tetap semangat pokok nya .
Jangan lupa like komen vaf dan hadiah ya.
__ADS_1
Dukungan kalian sangat berarti untuk kami para author .