
Malam pun tiba dan Siska sudah kembali ke kamar nya . Wanita cantik itu menyisir rambutnya perlahan setelah itu ia mengikat nya .
Sejenak ia menatap cermin di hadapannya , lebam di pipinya masih membiru dan terasa nyeri . Di usap nya pipi itu perlahan , ia sungguh tak menyangka Rangga yang dulunya perhatian dan penuh kasih sayang terhadap dirinya kini berubah sikap nya dan berperilaku kasar .
Bahkan lelaki itu tega memukul dirinya hingga membuat pipinya membiru . Air mata yang sudah lelah Siska keluarkan dari kelopak matanya pun sudah tak mau menetes lagi , wanita cantik itu lelah menangis meratapi nasip yang tak berpihak kepadanya.
" Mungkin ini karma dari Allah karena aku telah menyakiti hati mbak Rosa . Aku hanya bisa pasrah kan semuanya pada Allah . Aku sudah lelah , mungkin Allah punya rencana tersendiri untuk ku . " Ucap Siska meraih jilbab nya dan mulai ia kenakan .
Tak lama setelah itu seseorang yang sangat membenci nya datang menghampiri dirinya . Siska sama sekali tak memperdulikan orang itu ia hanya diam seraya membetulkan posisi jilbab nya .
" Kamu sengaja bukan menunjukan lebam mu itu pada mama . Supaya apa kamu melakukan hal itu , apa kamu berusaha meminta bantuan mama ha ... Ingat kamu tak akan bisa lepas dariku Siska dan jangan sekali kali meminta bantuan mama lagi kalau tak mau ibu mu terluka . " ucap Rangga lagi dan lagi mengancam nya .
" Siapa yang meminta bantuan mas. Aku sama sekali tak melakukan hal itu , mama mu sendiri yang melihat luka ini . Lagi pula luka ini sangat membekas hingga tak bisa aku tutupi dengan make up lagi . Paham kamu . " ucap Siska tak tahan lagi karena Rangga Selalu saja menyalahkan dirinya .
Rangga terdiam , lelaki itu kini telah duduk diatas kasur empuk miliknya . Sedangkan Siska juga tak mengatakan apa pun lagi , Sebenarnya ia lelah berdebat dengan Rangga . Ia ingin mengakhiri semua namun sepertinya itu tak mungkin mengingat Rangga yang masih menyimpan dendam pada dirinya .
" Besok aku pergi ke luar negeri selama beberapa hari , jangan coba coba kabur dari rumah ini atau kamu akan tau akibatnya bagaimana . Dan jaga Riyan baik baik jika sampai terjadi apa apa dengan nya kamu orang pertama yang aku akan salahkan . Paham kamu . " ucap Rangga pada istri sirinya itu .
Siska tak menjawab apa pun , wanita itu hanya diam . Ia sungguh tak mungkin membiarkan sesuatu terjadi pada Riyan karena bagaimanapun ia sudah menganggap Riyan sebagai anak nya .
Wanita itu berjalan dan naik ke atas kasur . Ia membaringkan tubuhnya memunggungi Rangga . Ia tak ingin menatap lelaki yang telah berbuat kasar padanya itu .
Sedangkan Rangga juga tak perduli. Mereka saling acuh tak acuh meski dalam hati keduanya tersimpan rasa yang sama .
__ADS_1
Di lain sisi Ibu kandung Siska terus saja melamun . Ia sungguh memikirkan keadaan anak nya , sampai saat ini ia belum bisa menemukan Siska . Beberapa kali ia berdoa dan bersujud serta berusaha agar segera menemukan anak nya itu namun hasilnya selalu saja nihil .
Anaknya bagaikan di telan bumi . Kesal marah dan kecewa pada dirinya sendiri karena tak mampu menjaga dan melindungi anak nya dengan baik .
" Jangan terus merenung seperti itu tak bak untuk kesehatan mu ma . " ucap seseorang yang datang dengan membawa secangkir teh hangat yang ia letakan di hadapan wanita itu .
" Mama hanya Khawatir dengan adik mu Ibra , ini sudah seminggu lebih namun detektif yang kita sewa belum menemukan keberadaan nya . " ucap flora membuat Ibra menatap ibunya sendu . Di usap nya bahu ibunya perlahan .
" Mama yang sabar ya ... Kita pasti bisa menemukan dia lagi . " ucap Ibra menguatkan ibunya .
" Amiin semoga yang kamu katakan segera terjadi ." Ucap flora pelan.
" Ini minum teh hangat dulu , Ibra sudah buatkan khusus untuk mama Lo " ucap Ibra pada ibunya itu . Flora tersenyum , anak laki lakinya itu begitu perhatian terhadap nya .
Wanita itu langsung menegak habis teh yang anak nya buatkan .
" Maaf ma ...hehe." ucap Ibra terkekeh kemudian keduanya pun kembali mengobrol hingga tak sadar hari sudah semakin larut .
...
...
..
__ADS_1
6 Bulan berlalu .
Setiap hari Siska merasa hidup dalam siksaan , Rangga tak berubah sama sekali bahkan semakin parah saja . Ia sering memukuli Siska bahkan tak jarang ia mencaci maki wanita itu.
Hati wanita mana yang tak terluka mendapatkan perlakuan seperti itu dari suaminya .
Siska ingin lari dan pergi menjauh dari kehidupan Rangga . Ia ingin bebas dan bahagia menjalani hidup nya namun itu semua terasa mustahil bagi dirinya .
" Sampai kapan seperti ini terus . " ucap Siska pada dirinya sendiri , kemudian wanita itu bangkit dari duduknya dan ingin merapihkan tepat tidurnya yang sudah seperti kapal pecah .
Namun saat ia baru berdiri , tiba tiba kepalanya pusing dan rasa mual menyerang nya . Siska terdiam berusaha menahan apa yang akan keluar dari dalam perut nya namun semakin di tahan semakin tak sanggup . Akhirnya Siska pun berlari menuju kamar mandi dan menumpahkan isi perutnya kedalam wastafel kamar mandi itu .
" Ada apa dengan ku . " Ucap Siska menatap pantulan cermin di kamar mandi itu , pikiran nya berkelana mengingat sesuatu yang tak kunjung datang menghampiri dirinya lebih dari 1 bulan .
" Tidak mungkin kan ?" tanya nya pada dirinya sendiri , wanita itu segera melihat handphone nya dan benar saja . Ternyata dirinya sudah telah Datang bulan lebih dari sebulan .
" Apa aku hamil ?" tanya nya khawatir . Bukan ia tak suka jika dirinya mengandung . Ia hanya merasa belum siap dan takut jika anak nya akan hidup dalam siksaan yang Rangga berikan .
" Bagaimana jika benar , apakah mas Rangga akan marah . Aku harus memastikan ke dokter . jika benar aku hamil , aku harus menyembunyikan nya dari mas Rangga . Aku tak ingin dia tau dan menyuruhku untuk menggugurkan anak ini , anak ini tak tau apa apa dan tak bersalah . " ucap siska mengusap perut nya pelan .
" Kamu sedang apa di situ ?" tanya seseorang yang baru saja memasuki kamar Siska . Siapa lagi jika bukan Rangga .
" Aku merasa tak enak badan mas , boleh kah aku pergi kedokter nanti . Toh Riyan di jaga sama mama hari ini ." Ucap Siska meminta izin untuk keluar rumah . Rangga menatap nya seakan mencari tahu apa yang istri sirinya itu rahasiakan namun ia tak menemukan apapun di mata istrinya itu .
__ADS_1
" Baiklah aku mengizinkan mu dengan syarat kamu harus kembali ke rumah tepat waktu dan jangan coba coba untuk kabur karena aku mengawasi mu dari sini . " ucap Rangga pada istrinya itu .
Siska hanya mengangguk mengiyakan , yang penting baginya sekarang adalah memastikan apakah ia benar benar hamil atau tidak .