
Setelah menikmati makan malam bersama mama dan papa nya, Rendy dan Kanaya segera pulang. Di tengah perjalanan, Kanaya tiba-tiba membahas pembicaraan anaknya tadi. "Kenapa kau menyuruh laki-laki sombong itu duduk di tempat kita?" tanya Kanaya yang penasaran.
"Apa mama tidak merasakan sesuatu ketika ada dia di sana?" tanya Rendy balik.
"Sesuatu seperti apa?"
"Iya, mungkin tidak asing atau orang yang mama kenal. Bisa saja kan?" tanya Rendy dengan wajah serius.
"Rendy, kau itu selalu bicara aneh. Kau sampai membahas dirimu secara terang-terangan. Tidak punya papa, lahir lebih dulu, kau tahu mama benar-benar malu. Itu aib, Rendy. Entah apa yang dipikirkan presdir sombong itu, wajahnya tampak sedih dan bingung. Apa dia pura-pura seperti itu tetapi di dalam hatinya, dia tertawa mengejek kita." jelas Kanaya panjang lebar dengan penuh kekesalan.
Rendy hanya termenung, anak kecil yang berusia enam tahun itu berusaha membuat mama dan papa mengingat kejadian masa lalu. Dia berniat menyatukan kembali mereka berdua sebelum terlambat.
"Jangan lupa, uang yang kau janjikan kepada mama?" sahut Kanaya memperingatkan.
"Iya, Ma. Aku tidak akan lupa." jawab Rendy dengan suara lemah. Kanaya menjadi bingung, dia pun mengajak anaknya membeli makanan ringan agar wajah Rendy kembali ceria.
"Kita singgah beli makanan dulu." ajak Kanaya sambil menarik tangan Rendy. Benar saja, ketika memasuki toko, senyum Rendy kembali menghiasi wajahnya. Dia sampai bersemangat mengambil beberapa makanan ringan dari rak.
Di tempat lain, Gilang duduk termenung di dalam mobilnya. Wajah tampannya mengeluarkan air mata. "Bagaimana jika orang yang aku tiduri waktu itu juga hamil dan punya anak. Aku bisa menghancurkan masa depannya." ucap Gilang dengan suara perlahan. Dia takut perempuan itu mengalami hal yang sama seperti yang dikatakan Rendy.
"Apa aku cari tahu saja keberadaan dia?" pikir Gilang.
Alvin baru pulang setelah bersenang-senang dengan teman-temannya. Dia malah melihat mobil Gilang berhenti di depan rumah neneknya.
"Gilang datang? Kenapa?" tanya Alvin yang bingung. Setaunya, Gilang selalu menginap di apartemen pribadinya, jarang sekali berada di rumah neneknya kecuali jika ada masalah dengan Friska. Gilang selalu datang meminta pendapat dengan sang nenek.
Alvin mendekati mobil Gilang dan melihat sepupunya masih berada di dalam mobil sedang menangis. "Hei, Gilang! Kau tidak apa-apa di dalam?" teriak Alvin sambil menepuk pintu mobil Gilang. Sontak, Gilang kaget dan segera menghapus air matanya lalu menurunkan jendela mobilnya.
"Ada apa, Vin?" tanya Gilang balik.
"Seharusnya aku yang bertanya. Kau sedang dalam masalah?" tanya Alvin seketika.
__ADS_1
"Tidak."
"Jangan bohong, aku melihatmu menangis tadi. Sudah bicara dengan nenek?"
Gilang tidak menjawab, dia lalu menjalankan mobilnya dan memarkir di pekarangan rumah neneknya. Turun dan berjalan masuk ke dalam rumah. "Lan, tunggu!" teriak Alvin berlari menyusul Gilang.
"Aku datang, nek." ucap Gilang ketika membuka pintu, tetapi semua lampu sudah mati. Ini sudah tengah malam, tak satu pun orang masih bangun di rumah itu kecuali Alvin yang berada di belakangnya.
"Langsung tidur saja, semua orang sudah tidur. Kau mau tidur di kamarmu?" tepuk Alvin.
"Aku mau tidur di kamar Reyhan,"
"Apa? Kenapa? bagaimana jika di kamarku saja?" teriak Alvin, tetapi Gilang sudah masuk di kamar Reyhan.
Reyhan tidur dengan nyenyak sambil memeluk bantal gulingnya. Gilang langsung membuang dirinya di kasur membuat Reyhan terkejut dan bangun seketika.
"Ayo tidur, sudah tengah malam." pinta Gilang sambil menarik selimut.
"Apa? Kau pikir aku setan?"
"Ah, aku hampir berpikir seperti itu."
"Iya, setan memang selalu menemani tidur orang jombol, kau harus hati-hati." ucap Gilang memperingatkan.
Keesokan Harinya...
Semua penghuni rumah terkejut melihat Gilang yang menginap di rumah. Mizuki sampai berlari memegang pipi Gilang untuk memastikan apa itu benar keponakannya.
"Kau itu kenapa lagi, Mizuki?" tanya Gilang dengan senyum manisnya.
"Kenapa kau menginap di sini?" tanya Mizuki penuh rasa penasaran.
__ADS_1
"Aku mau bertemu nenek." ucap Gilang sambil memeluk neneknya. Gilang memang dekat dengan neneknya karena hanya dia yang tersisa di dunia ini. Kedua orang tua Gilang sudah meninggal dan mau tak mau Gilang yang menjadi ahli waris dan mengurus semua masalah perusahaan ayahnya. Gilang pun memperkerjakan bibi dan kedua sepupunya untuk membantu dirinya.
"Itu bagus jika kau masih mengingat rumah. Sebentar lagi kau akan menikah dan sudah tidak bisa bersama nenek lagi." jelas nenek Rani dengan senyum di wajah tuanya.
"Iya, nek. Tetapi, aku ingin menunda pernikahanku terlebih dulu." ucap Gilang yang membuat semua orang terkejut. Persiapan pernikahan Gilang sudah 100% tidak mungkin menundanya.
"Lan, apa ada masalah?" tanya Reyhan begitu paham dengan perilaku Gilang.
"Aku ingin mencari tahu gadis yang sudah aku tiduri di hotel waktu itu. Aku takut sekali, dia mengalami banyak masalah karena ulahku. Aku harus membantunya, bagaimana pun aku orang yang membuatnya melakukannya." ucap Gilang dengan tatapan mata sendu.
Sang nenek mengelus pundak cucu tertuanya. "Iya, cari dia. Jika dia punya anak, kau harus menikahi perempuan itu. Itu sudah menjadi tanggung jawabmu sebagai seorang ayah." ucap nenek Rani mendukung keputusan Gilang.
"Lalu, bagaimana dengan Friska?" tanya Mizuki mengingat mak lampir itu.
"Ya ampun, Mizuki. Untuk apa kau memikirkan Friska, jelas dia tidak akan memikirkan dirimu. Gilang juga tidak menyukainya, dia hanya menuruti perkataan papanya." jelas Alvin membela.
"Iya, baiklah."
Semua orang tersenyum puas di rumah nenek Rani. Sementara di kosan Kanaya, masalah terus saja datang menyerangnya. Kanaya baru pagi harus berdebat dengan pemilik kosan.
"Jadi, maksud anda aku harus membayar pajak dua kali lipat? Wah, anda bisa untung besar, bu kos." ucap Kanaya sambil menggeleng kepalanya.
"Harus bagaimana lagi, sebuah kebutuhan sedang naik. Kalau kamu tidak mau membayar, keluar dari sini sekarang juga." perintah ibu kos dengan mengancam.
"Aku yakin, ibu kos ingin mengambil keuntungan banyak. Mentang-mentang aku berasal dari desa, anda seenaknya memanfaatkanku. Beruntung, anakku yang genius itu sudah pergi ke sekolah. Kalau tidak, dia bisa menyerang ibu kos dan memasukkan ibu kos ke penjara." tegas Kanaya.
"Apa? berapa umur anak anda?" tanya ibu Kos dengan wajah panik.
"Enam tahun!" jawab Kanaya dengan bangga.
"Ha ha ha, kau bercanda. Anak sekecil itu bisa membuat aku masuk penjara? Aduh, ibu ini selalu saja bercanda berlebihan." ucap ibu kos tidak percaya.
__ADS_1
"Lihat saja nanti. Jika Rendy sudah pulang, aku beritahu dia. Biar dia memasukkan anda ke penjara." ancam Kanaya tetapi ibu kos malah mengangguk dan tertawa terbahak-bahak.