
"Ma, beli laptop." rengek Rendy sedari tadi. Dia sudah tidak sabar membeli laptop baru karena laptopnya sudah terbakar kemarin.
Rendy berlari ke tempat penjualan laptop dan melihat-lihat semua merek laptop yang ada di sana. Tiba-tiba matanya tertuju ke arah laptop dengan warna merah peka. "Wah, bagus sekali." ucap Rendy yang melihat laptop itu.
Rendy bergerak melihatnya dari dekat dan dirinya semakin menginginkan laptop berwarna merah itu. "Ma, aku mau ini!" teriak Rendy sambil menunjuk. Tidak mendapat sahutan dari mamanya, Rendy berbalik dan benar saja Kanaya tidak berada di belakangnya. Malah terlihat seorang pria bertubuh besar yang berada di belakang Rendy.
"Permisi, paman. Apa paman melihat mamaku?" tanya Rendy dengan wajah polosnya.
"Dasar anak nakal, cepat ikut aku." ucap pria tersebut yang langsung menangkap Rendy dan membawa tubuh Rendy keluar dari sana dengan mudah.
Sementara itu, Kanaya selesai belanja tas kecil yang dia lihat tadi. Dia baru sadar ketika menoleh ke belakang dan Rendy malah tidak ada. "Aduh, kemana lagi anak itu?" tanya Kanaya yang menjadi panik. Dia berjalan cepat mencari Rendy dimana-mana.
Tiba-tiba, mata Kanaya melihat Rendy di bawa oleh seseorang yang tidak di kenal keluar dari pusat perbelanjaan. Dengan cepat, Kanaya berteriak melihat anaknya di bawa pergi.
"Tolong! Ada penculik anak." Ucap Kanaya berlari mengejarnya. Rendy menoleh ke arah mamanya sambil melambaikan tangan.
"Dasar anak itu, walau di culik masih bisa bercanda." ucap Kanaya yang bertambah kesal.
Kanaya langsung keluar menabrak semua orang. Tidak ada yang di pedulikannya selain anaknya yang sedang di bawa. Rendy sudah masuk ke dalam mobil penculik itu. Kanaya tidak tahu harus melakukan apa. Sampai sebuah mobil hitam datang tepat di hadapannya. Dia langsung masuk tanpa permisi.
"Pak, tolong setir mobilnya dan ikut mobil di depan sana itu." tunjuk Kanaya memberi perintah.
"Siapa kamu?" tanya Seseorang dengan suara khasnya sehingga Kanaya tidak merasa asing. Ketika menoleh, Kanaya melihat presdir sombong yang mengemudikan mobilnya.
"Ya ampun, dunia ini benar-benar sempit. Aku terus saja bertemu kamu." ucap Kanaya yang merasa muak.
"Bukan salahku kali ini, kau yang naik di mobilku. Sekarang juga turun!" titah Gilang dengan emosi.
"Aku bakal turun tanpa di minta. Tetapi, ini masalah genting. Anakku, Rendy...."
"Aku tidak mau dengar alasan konyolmu. Sekarang juga turun!" ucap Gilang memaksa.
Tiba-tiba, mereka berdua di kejutkan dengan suara Rendy yang berteriak keras. "Mama.. Mama.. Tolong Rendy!" terik Rendy memperlihatkan dirinya dari mobil penculik itu.
__ADS_1
"Itu Rendy kenapa ada di sana?" tanya Gilang yang terkejut melihat anak kecil mengeluarkan kepalanya lewat kaca jendela. Seseorang laki-laki langsung menarik Rendy untuk duduk dan menutup kaca jendela mobilnya. Mobil yang membawa Rendy pun melaju.
"Rendy, Rendyku. Cepat kemudikan mobilnya." perintah Kanaya menepuk keras pundak Gilang. Tanpa bertanya, Gilang segera mengikuti mobil yang membawa Rendy.
"Lebih cepat lagi bodoh. Mereka semakin jauh." protes Kanaya.
"Kau seenaknya bicara bukan dirimu yang mengemudi. Ini tidak mudah, aku biasanya mengemudi dengan santai." ucap Gilang membela diri.
"Kau ingin mengemudi dengan santai melihat anakku dalam bahaya? Apa kau tidak punya hati?" kata Kanaya marah-marah.
"Kau yang salah tidak bisa menjaga anakmu, malah marah-marah padaku."
"Sudah cukup, fokus menyetir saja. Jika ada kesempatan, hadang mobilnya." perintah Kanaya.
Gilang mulai serius mengemudi. Mobil mereka saling kejar kejaran. Tiba berselang lama, ponse Gilang berdering.
"Lihat siapa yang menelpon." perintah Gilang.
"Harus aku yang melihatnya sementara aku mengemudi? Mau kita kehilangan jejak?"
"Iya, baiklah." ucap Kanaya menurut. Dia lalu mengambil ponsel Gilang dari saku celana.
"Dari Reyhan, apa aku perlu angkat?" tanya Kanaya setelah mengambil ponsel Gilang.
"Iya, cepat."
"Halo, Lan. Kau ada dimana, bukannya kita ada urusan di mal kamu?" tanya Reyhan seketika.
"Tunda dulu, ini ada masalah gawat dan genting. Seseorang menculik anak kecil, dia sekarang membawanya ke jalan raya. Aku berusaha mengejarnya, cepat kirim bala bantuan." Perintah Gilang dengan bersuara keras.
"Menculik anak kecil? Untuk apa kau melakukannya?" tanya Reyhan yang terdengar bingung dari seberang telepon.
"Hei, apa kau tidak merasa kasihan melihat anak kecil di culik? Aku bisa di bunuh ibuku kalau dia sampai tahu cucu tersayangnya di culik. Lakukan saja perintah presdir sombong ini, cepat kirim bantuan." teriak Kanaya sebelum mematikan ponsel Gilang.
__ADS_1
"Ini ponsel sepertinya harus di buang, tidak berguna." kata Kanaya yang kesal dan melampiaskan pada ponsel Gilang.
"Awas jika kau merusakinya. Itu harganya mahal, kau mampu menggantinya?"
"Benarkah? Ponsel sekecil ini harganya mahal? Aku tidak yakin." kata Kanaya ragu.
"Pikirkan keadaan anakmu dan simpan ponselku." ucap Gilang mengalihkan perhatian Kanaya.
"Benar, bagaimana keadaan Rendy di dalam sana. Apa sudah mati?" ucap Kanaya dengan wajah polosnya penuh kekhawatiran. Gilang hanya menggeleng kepala mendengarnya.
Di dalam mobil penculik Rendy, terlihat dua orang yang memegang Rendy dengan erat di pojok belakang. Satu orang mengemudi dan satu orang duduk di dekat pengemudi.
"Paman semua, kok berani sih menculik aku?" tanya Rendy dengan wajah polos nan imutnya.
"Ha ha ha, memangnya kami tidak berani?" ucap salah satu diantara mereka.
"Tidak takut mendapat karma buruk dariku?" ucap Rendy sekali lagi.
"Ya ampun, kau ini anak kecil banyak bicara sekali. Apa kau tidak tahu, mau di bawa ke mana?" kata orang yang duduk di dekat pengemudi.
"Mau di bawa pulang ke rumahku. Tetapi, jalannya bukan di sini, Paman." jawab Rendy.
"Ha ha ha, terlalu bodoh. Aku pikir dia anak pintar tetapi tidak tahu saja kalau dirinya sedang di culik. Anak yang di culik tidak di bawa pulang ke rumahnya." ucap Sang pengemudi sambil tertawa lebar.
"Benarkah? Apa ada penculik seperti itu?" kata Rendy kembali.
"Sudah, sebaiknya fokus mengemudi saja. Kita harus menghindar dari kejaran mobil di belakang kita. Setelah itu, baru kita menemui bos." ucap orang yang memegang Rendy yang terdengar kalem suaranya.
"Aku merasa senang ingin bertemu bos kalian. Sungguh suatu kebanggaan bagiku. Apa rumahnya masih jauh?" ucap Rendy sambil menoleh melihat kanan kiri, mencari petunjuk dirinya ingin di bawa ke mana.
'Bos mereka yah. Kalau begitu, orang yang menculikku hanya orang suruhan saja. Jadi, apa yang bisa aku lakukan dengan bos mereka?' guman Rendy di dalam hati dengan tatapan serius.
Tiba-tiba, salah satu orang yang menahan Rendy mengeluarkan bom gas air mata. Otomasi, banyak pengedara yang berhenti mendadak. Begitupun dengan mobil yang di tumpangi Kanaya.
__ADS_1