
"Kau serius?" wajah Gilang tanpa tak percaya. Apa yang dikatakan Rendy mendadak baginya. Bagaimana tidak, Gilang sangat percaya dengan lima peninggi itu. Apalagi Martin yang membantunya sampai saat ini. Martin juga adalah orang yang berinvestasi pertama kali saat mendengar perusahaan Gilang bangkrut. Walau umur Martin masih kecil waktu itu, dia memaksa ayahnya melakukannya karena Gilang pernah menolongnya.
"Pa! Aku butuh bantuan kali ini. Berikan data informasi tentang Martin agar aku dan Alex bisa leluasa bergerak." ujar Rendy memohon.
"Tidak apa, itu pekerjaan rumah. Aku kenal banyak dengan Martin. Besok aku suruh sekertarisku mengirimkan padamu." ujar Gilang dengan santai. Setelah Rendy mengangguk, dia lalu meninggalkan Rendy masih dengan wajah kebingungan. Ini terlalu mendadak dan mengejutkan bagi Gilang. Gilang bahkan tidak sadar ada orang bermain dibelakangnya.
Keesokan harinya ketika Rendy menikmati sarapan pagi, Kanaya mengingatkan dengan janjinya. "Kau siap membawa pacarmu datang ke sini?" tanya Kanaya menggoda Rendy.
"Pacar apa, Ma?" tanya Rendy dengan wajah bingung. Kanaya memukul kepala anaknya perlahan.
"Kau lupa? Gadis yang Naila temui denganmu di taman. Kau berjanji mau membawanya bertemu mama papa!" ujar Kanaya dengan tatapan tajam. Jika sudah seperti ini, Rendy hanya bisa pasrah atau dia tidak akan mendapat jatah makan masakan mamanya.
"Aku tidak mungkin lupa, tetapi dia kembali keluar negeri kemarin. Itulah sebabnya wajahku tanpa kusam akhir ini." ujar Rendy memulai aktingnya. Naila tertawa sambil mencubit pipi abangnya.
"Kakak serius atau sedang berbohong pada mama?" tanya Naila.
"Dek, mana mungkin kakak berbohong. Mama kan tidak suka di bohongi!" balas Rendy melepas kecurigaan Kanaya dan Naila.
__ADS_1
"Baiklah, jika dia kembali pertemukan mama dengannya. Tidak sabar mama melihatnya seperti apa menantu idaman itu." ujar Kanaya yang tersenyum manis memimpikannya.
"Iya, Ma. Rendy harus pergi lebih pagi, ada urusan dengan Alex sebelum datang bekerja." ujar Rendy yang meminum jusnya dengan terburu-buru. Dia berlari keluar memakai motor barunya yang diberikan ayahnya sebagai hadiah kepulangannya dari luar negeri.
"Hei!" panggil Alex di depan toko buku yang tidak jauh dari rumah Rendy.
"Kau sudah dapat semua informasi itu?" tanya Rendy sambil mematikan mesin motornya.
"Ini sepertinya sangat sulit, banyak sekali rahasia mereka. Termasuk Martin, ada rumor dia merupakan pengedar narkoba. Tetapi aku juga mendapat kabar jika banyak orangnya bekerja di kepolisian." ucap Alex yang menampilkan wajah khawatir.
"Aku yakin dia meminta bantuan polisi untuk menangkap anak buahku. Bahkan sebelum aku datang ke sini, aku selalu di awasi. Baskemku juga di intai seseorang. Aku terpaksa memindahkan mereka semua." jelas Alex.
"Lalu yang lainnya? Pak Wawan, pak Dirga, kau sudah tahu siapa mereka?" tanya Rendy.
"Sudah, mereka hanya orang biasa saja. Tidak ada yang spesial tentang mereka. Mereka awalnya hanya orang miskin sepertimu, yang mendapat pekerjaan lalu mendadak kaya. Meski tidak wajar, tetapi semua itu tidak perlu di urus. Aku yakin, pak Martin itu yang memberinya uang karena dia yang memperkerjakan mereka." ujar Alex sekali membuat Rendy menaikkan alisnya.
"Orang biasa? Mereka sama halnya dengan kakek Gadis, dimanfaatkan." ucap Rendy mulai mengerti.
__ADS_1
"Hei, haruskah aku membunuh orang biasa itu atau kau punya rencana lain? Kau tahu sendiri, aku orang yang tidak suka menunggu lama. Ketika sudah bertemu musuh, langsung aku habisi saat itu juga." kata Alex yang bersemangat.
"Aku punya rencana, pergi cari tahu masalah ayahmu di kantor polisi. Pastikan dia tutup mulut tentang kita. Aku yakin, polisi itu pasti sudah bergerak mencari tahu semua." ucap Rendy yang menaiki motornya sambil melambaikan tangannya pada Alex.
Alex berdiri mematung, dia memurungkan wajahnya tidak menyangka mendapat misi paling mudah. "Aku rasa hari ini hari kasih sayang ayah, aku harus menjenguknya lagi?" ucap Alex yang menendang tong sampah sebelum pergi.
Di tempat kerja, Rendy langsung di sambut pak Wawan. Rendy di bawa ke ruangan rahasia dimana sebelumnya terjadi rapat disana. Saat Rendy ingin bertanya, Pak Wawan memukul keras wajahnya hingga mengalir darah segar dari pinggir bibirnya.
"Siapa kau? Kau tidak tinggal di kosan sempit itu kan? Kenapa nama orang tuamu tidak terdaftar?" tanya Pak Wawan yang menatap Rendy tajam. Senyum Rendy mengembang.
"Akhirnya kau juga tahu, tetapi apa harus kau memukulku juga?" balas Rendy yang bangkit lalu duduk di kursi, memutar kursi itu.
"Kau tidak takut aku bunuh?" tanya pak Wawan dengan kasar. Rendy malah tertawa dan berjalan santai mendekati pak Wawan.
"Kau hanya orang biasa yang menjilat kaki pak Martin. Kenapa aku harus takut padamu?" bisik Rendy dengan suara di tekan. Baru kali ini, Pak Wawan merasa di tusuk dengan kata Rendy. Jantungnya berdebat lebih cepat, rasa takutnya muncul dalam sekejap.
Rendy melambaikan tangan sebelum keluar dari ruangan itu. Dua orang menghalanginya, namun Rendy bergerak memukulnya dengan cepat hingga dua orang itu terkapar dalam hitungan detik. Mata pak Wawan takjub dan rasa takutnya bertambah.
__ADS_1