Anak Bak Dewa

Anak Bak Dewa
82. Di Introgasi Calon Mertua?


__ADS_3

"Papa! Jelaskan saja, jangan takut. Rendy mendukung papa!" teriak Rendy menyemangati Gilang yang gugup dihadapan ibu Kanaya.


"Mampus kamu, Lan. Siapa suruh mau ikut. Jadi bermasalahkan sama ibuku." Umpat Kanaya yang malah tersenyum melihat ketakutan Gilang.


"Om, eh salah. Ibu mertua, aku.." Kata Gilang terpotong-potong.


"Aku bukan ibu mertuamu, masih calon." jawab nenek Rendy dengan cepat.


"Lan, kalau bicara jaga mulut. Tuh, ibu mertuamu sudah menegur." Tambah Alvin.


Tatapan ibu Kanaya beralih ke arah Alvin. Dia lalu menggeleng kepalanya, anak muda susah di atur. Rendy mengangguk tersenyum manis ke arah mamanya.


"Jangan banyak gaya, ini semua salahmu anak kecil." ucap Kanaya sambil memberi kode pada Rendy untuk diam dan tidak ikut campur.


"Ala, paling mama yang akan dapat marah. Nenek lebih sayang pada Rendy." balas Rendy.


"Awas kau!" ujar Kanaya yang baru ingin bangkit menghampiri Rendy, namun langkahnya terhenti saat mendapat lirikan ancaman dari ibunya.

__ADS_1


"Maaf, Bu. Lanjutkan lagi rapatnya." ucap Kanaya yang kembali duduk tenang.


"Jadi, kau laki-laki yang tidak bertanggung jawab itu kan? Laki-laki yang sudah menghamili anakku? Lalu, untuk apa kau datang ke sini. Mencari masalah lagi dengan keluargaku?" tanya Ibu Kanaya dengan wajah panik.


"Bu.. Bukan, Bu. Aku ke sini mau bersilaturahmi." jawab Gilang dengan cepat.


"Kenapa harus bersilaturahmu sekarang? Apa jangan-jangan, kau sudah menghamili anakku lagi?" teriak Ibu Kanaya yang sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia terkejut dan sangat terkejut. Dia lalu beralih menatap perut Kanaya yang datar dan tidak terlihat membuncit.


"Kanaya, kau sudah membuat ibu kecewa dua kali. Apa yang ada di pikiranmu? Punya anak pintar seperti Rendy, tidak membuatmu puas?" ujar ibu Kanaya yang melototi anaknya.


"Bu, tolong pikiran negatifnya di jauhkan sedikit. Aku baru punya anak satu, sudah seperti singa yang berteriak keras setiap hari. Apalagi kalau dua." jawab Kanaya dengan enteng.


"Hemm.." jawab Kanaya. Ibunya kembali duduk tenang di kursinya sambil menghadap Gilang lagi.


"Hei, anak muda. Katakan sejujurnya, tujuanmu datang ke sini. Jangan membuat jantungku copot." Titah Ibu Kanaya sambil menunjuk Gilang.


Alvin tiba-tiba mengangkat kedua tangannya secara bersamaan, membuat Gilang, Rendy, dan Kanaya terheran-heran sekaligus bingung.

__ADS_1


"Bu, biar aku saja yang menjelaskannya. Aku tahu semua jalan ceritanya." ujar Alvin dengan penuh percaya diri.


"Jadi, Bu. Gilang baru keluar dari rumah sakit kemarin. Dia lalu mendapat kabar jika Rendy di culik Kanaya. Mau tak mau, Gilang terpaksa keluar dari rumah sakit dan mengikuti penculiknya. Akhirnya, kami berdua sampai di sini. Jadi semuanya jelaskan, bu." kata Alvin panjang lebar.


"Aku menculik anakku sendiri? Itu sepertinya rumus baru." sahut Kanaya.


"Benar, aku hampir mati kelaperan di kota, Nek. Beruntung, aku bertemu papa. Jadi, nenek jangan marah terus dengan papa. Nanti Rendy jadi marah juga sama nenek." bujuk Rendy pada neneknya sambil mengelus punggung ibu Kanaya.


"Tentu saja, tidak. Nenek tidak marah. Nenek hanya terkejut dan butuh penjelasan." ucap ibu Kanaya yang tersenyum manis melihat cucunya. Dia lalu menatap Kanaya seolah memberi ancaman pada anaknya yang satu itu.


"Kenapa ibu melihatku seperti itu? Jangan terlalu keras denganku, Bu. Rendy juga nanti marah loh." kata Kanaya yang menyadarinya.


"Ngak. Rendy tidak akan marah jika nenek marah dengan mama. Rendy hanya akan marah jika nenek memarahi papa." jawab Rendy yang semakin membuat Kanaya kesal.


"Benar-benar anak rasa neraka. Ingat, bocil. Surga ada di telapat kakiku." tunjuk Kanaya dengan wajah memerah.


"Nek, mama mulai marah!" adu Rendy. Terpaksa, Kanaya menahan emosinya yang sudah sampai di ubun-ubun. Dirinya tidak mungkin memarahi Rendy saat ibunya ada di sini. Surga Kanaya berada di kaki ibunya. Ucapannya bisa saja dikembalikan ibunya sendiri.

__ADS_1


"Hufft.. Sabar." ucap Kanaya sambil menghela nafas berkali-kali. Gilang dan Alvin tertawa melihatnya. Sekuatnya Kanaya melawan, bisa kalah juga jika berhadapan dengan ibunya.


__ADS_2