Anak Bak Dewa

Anak Bak Dewa
Bab 16. Benar-benar Rendy


__ADS_3

Gilang dan Kanaya sampai di depan rumah Dirgantara. "Ini kan rumahnya Kek Dirgantara?" ucap Gilang yang memperhatikan rumah di hadapannya.


"Siapapun yang punya rumah, aku tidak mau tahu. Yang jelas, aku harus mencari keberadaan anakku, Rendy." kata Kanaya yang berjalan lebih dulu, tidak sabar menemui Rendy. Dia ingin melihat kondisi anaknya baik-baik saja atau tidak.


"Kanaya, tunggu!" teriak Gilang menarik tangan Kanaya untuk menjauh dari sana.


"Kau ini apa-apa?" protes Kanaya yang berusaha melepas kedua tangannya.


"Kita tunggu bantuan dulu, setauku rumah ini banyak jebakannya."


"Apa? Orang apa yang membuat jebakan bodoh di rumah ini?"


"Kau pasti tidak percaya, tetapi coba lihat ini." ucap Gilang yang mengambil kayu dan melemparnya masuk ke pekarangan rumah Dirgantara. Dengan cepat, kayu tersebut di serang pisau yang tiba-tiba keluar dari tanah.


"Ya ampun, mengerikan sekali." ucap Kanaya yang terkejut sambil mundur beberapa langkah.


"Aku sudah bilang kan? Coba kalau kau ada di sana. Pasti sudah tertusuk." duga Gilang.


"Lalu bagaimana dengan anakku? Apa dia baik-baik saja?" tanya Kanaya yang menjadi panik. Dia takut Rendy sudah berubah menjadi mayat hidup di dalam sana.


Di dalam rumah Dirgantara, tiga orang anak buahnya langsung bangkit setelah merasa kepalanya tidak pusing lagi. Rendy menekan remotnya dan dengan cepat sofa di atas meja mengenai kepala Dirgantara. Al-hasil, kaki Rendy bisa lepas.


"Aduh... Kepalaku..."


"Ya ampun, bos juga di siksa. Apa ini karma karena dia terlalu jahat?" ucap anak buahnya yang mengemudi mobil tadi.


"Bisa jadi, tetapi dia tidak boleh mati sekarang. Kita masih belum di bayar." ucap Si kalem yang ikut berdiri setelah tubuhnya di timbun pintu.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan?"


"Bawa anak manja itu keluar dan kita pun aman. Setelah itu, kita urus si bos. Seperti dia pingsan."


"Benar, padahal hanya sofa yang menimpah kepalanya. Aku saja, pintu masih bisa hidup dan bernafas." ucap Si kalem yang memegang kepalanya memastikan.


Orang yang menangkap dan membawa tubuh Rendy lalu berlari ke arah Rendy. "Hei, anak kecil. Sudah cukup bermainnya. Kau harus segera pergi dari rumah ini!" perintah si tegap.

__ADS_1


"Benarkah, kalian tidak akan bohong?" tanya Rendy yang waspada.


"Kenapa juga kami haris bohong, cepat keluar. Kami matikan jebakannya." jawab Si kalem yang menekan saklar seperti saklar lampur di belakang tivi.


"Baiklah, tolong bukakan pintu dan beri aku jalan." Kata Rendy memberi perintah.


"Anak kecil selalu saja memberi perintah. Apa dia tidak tahu, dirinya bisa berdosa kalau memerintah orang yang lebih tua darinya?" ucap Si pengemudi dengan wajah kesal tetapi dia menuruti perkataan Rendy dan membukakan pintu.


"Terima kasih banyak, penculik baik. Aku bawa remot ini, takut kalian menyalakan jebakannya lagi." kata Rendy sambil menunjukkan remot yang dia pegang.


"Dia pikir kita mau bermain-main dengannya? Tidak ada waktu, aku harus mengurus bosku lalu mendapat gaji." kata Si kalem yang mengangkat tubuh bosnya ke sofa.


Terlihat pemandangan luar, Rendy dengan cepat berlari sambil memperhatikan empat orang anak buah Dirgantara.


Kanaya yang sedang duduk menunggu bantuan, tiba-tiba bangkit ketika melihat pintu rumah terbuka. Dia memperhatikan sangat lama hingga akhirnya matanya menangkap sosok anaknya yang berlari ke arahnya.


"Iti benar anakku?" tanya Kanaya dengan suara kecil sambil terus memperhatikan Rendy.


"Tidak mungkin, bukannya banyak jebakan di rumah ini?" ucap Kanaya kembali seolah tidak percaya. Dia pun mengucak matanya mengira jika dirinya melamun dan melihat Rendy.


"Mama..." teriak Rendy dengan memberi senyum manis kepada mamanya.


"Dia benar Rendy." ucap Kanaya yang berlari menghampiri anaknya.


"Lihat dulu kakinya, apa masih tampak di tanah atau tidak?" teriak Gilang memperingati.


Kanaya tidak peduli, dia terus berlari menghampiri Rendy dan memeluk pangeran kecilnya dengan erat seolah tidak ingin melepasnya. Air mata pun tidak bisa di bendung Kanaya, begitu pun Rendy.


"Ma, walau hanya beberapa jam saja, Rendy sudah sangat merindukan mama. Rendy rindu suara marah-marah mama." kata Rendy berbisik kepada mamanya.


"Maafkan mama, Rend." balas Kanaya.


Gilang tersenyum haru melihat Rendy kembali dengan aman. Para bantuan yang Gilang pesan sudah datang. Mereka semua terkejut melihat Rendy sudah bersama Kanaya.


"Lan, kau mengeluarkan Rendy seorang diri?" tanya Reyhan.

__ADS_1


"Bukan, anak itu keluar dengan sendirinya." jawab Gilang masih fokus melihat kemesraan anak dan ibu di depannya.


"Apa? bagaimana bisa?" tanya Reyhan seolah tidak percaya. Ini pertama kalinya mendengar seorang anak kecil berhasil mengalahkan para penculik yang bertubuh besar.


"Dia anak yang luar biasa, sama seperti diriku sewaktu kecil." ucap Gilang seketika.


Di dalam rumah Dirgantara, anak buahnya merawat bosnya dengan baik. Dia sampai mengompres kepala bosnya yang terkena sofa bunga tadi.


"Apa kepala bos baik-baik saja?" tanya si tegap.


"Bagaimana kalau dia sampai lupa ingatan? Yang memberi kita gaji siapa?" ucap si pengemudi merasa khawatir.


"Bos baik-baik saja. Kepalanua tidak menonjol berarti vas bunga tadi tidak membuat kepala bos penyok." jawab si kalem menepis semua kekhawatiran teman-temannya.


"Benar, kepalanya masih rata. Coba pegang!" tambah Si tagap.


Tidak berselang lama, Dirgantara perlahan membuka kedua matanya. Dia langsung bangun dengan kaget. "Dimana anak itu? Apa dia masih ada di sini?" tanya Dirgantara dengan menatap satu per satu anak buahnya.


"Maaf, bos. Karena bos tadi pingsan, kami tidak bisa melanjutkan permainannya. Jadi, aku suruh anak itu pergi." adu Si kalem berterus terang.


"Apa?" Kek Dirgantara melototkan kedua matanya mendengar pengakuan anak buahnya. Dia lalu memukul kepala anak buahnya satu per satu dengan keras.


"Kalian sudah gila? Kita sudah bersusah payah menculiknya dan malah kalian membiarkannya pergi? Pikir pake otak!" teriak Dirgantara dengan amarah.


"Bos, kami belum gila. Mungkin nanti." jawab Si pengemudi.


"Perasaan hanya kami saja yang menculik anak itu di pusat perbelanjaan, bos tidak ikut sama sekali." ucap Si kalem.


"Benar. Kita juga kalau berpikir pasti selalu menggunakan otak. Tidak mungkin menggunakan otot, Bos." ucap Si tegap yang membantu teman-temannya.


"Apa? kalian tidak mendapat gaji." kata Dirgantara yang memasang wajah dingin dan datar mendengar semua keluh anak buahnya.


"Loh, bos. Aku kan tidak menyahut, apa masih dapat gaji?" ucap salah satu anak buahnya yang berdiri sambil menyodorkan kedua tangannya meminta.


"Kamu juga sama." ucap Dirgantara sambil berjalan meninggalkan anak buahnya.

__ADS_1


"Iya, gagal dapat gaji lagi. Apa kita memang bodoh?"


"Makanya, kalau berpikir ya pake otak bukan otot."


__ADS_2