
"Ada Bom di dalam, kalian semua jangan masuk!" teriak Kanaya berusaha mengingatkan, tetapi semua orang hanya melirik sekilas sambil tersenyum sinis. Tidak ada yang percaya dengan apa yang dikatakan Kanaya.
"Aku serius, anakku berusaha mengeluarkan orang-orang yang ada di dalam." ucap Kanaya kembali, berteriak sebisa mungkin agar semua orang bisa mendengarnya.
"Loh, bukan kha itu Kanaya?" tunjuk Reyhan yang baru turun dari mobil. Pandangannya langsung tertuju kepada Kanaya yang berdiri di pintu masuk.
"Benar, itu gadis yang pernah mencuri di pusat perbelanjaan." ucap Mizuki membenarkan.
Gilang yang mengira jika dirinya di tipu oleh Reyhan, segera berbalik dan melihat wajah Kanaya. Hatinya yang sedang di landa ke gundaan pun terobati. Dia berlari dengan cepat menghampiri Kanaya sambil memeluknya dengan erat seolah tidak ingin melepasnya lagi.
"Akhirnya, kau kembali." ucap Gilang yang hampir meneteskan air mata.
"Kau ini siapa?" dorong Kanaya dengan keras membuat Gilang mundur beberapa langkah. Kanaya pun terkejut ketika melihat wajah Gilang.
"Presdir sombong nan pelit?" ucap Kanaya dengan mata membulat. Tiba-tiba wajah terkejut Kanaya pun berubah menjadi tatapan panik. Dia menghampiri Gilang sambil menarik jasnya.
"Akhirnya kau datang, tolong Rendy. Dia masih ada di dalam," mohon Kanaya.
"Itu mudah, kita tinggal masuk saja ke dalam dan menemui Rendy." jawab Gilang sambil tersenyum senyum.
"Tidak bisa. Ada orang yang meletakkan bom di depan apartemenmu." ucap Kanaya membuat tiga orang yang berdiri di hadapannya terkejut setengah mati.
"Apa? Bom?" tanya Gilang yang memegang kedua tangan Kanaya agar tidak menggoyangkan tubuhnya.
"Bagaimana bisa?" tanya Mizuki.
"Siapa orang yang melakukannya?" tambah Reyhan.
__ADS_1
Kanaya berusaha bernafas dengan tenang, ingin menjelaskan semuanya kepada Gilang. Tetapi, suara orang yang berteriak membuat Kanaya menoleh melihatnya.
"Lihat! Ada anak kecil yang berlari dengan membawa bom!" tunjuknya ketika melihat Rendy keluar dari pintu masuk dan berbelok menuju jalan yang sepi.
Semua orang mulai panik, banyak yang sudah berlari menjauh. Masih ada beberapa orang yang membuka ponselnya untuk mengabadikan momen ini. Amarah Kanaya meluap melihat Rendy membawa peledak yang terus berbunyi semakin keras.
"Rendy! Apa yang kau lakukan? Turunkan peledak itu, itu bom, Rendy!" ucap Kanaya yang menjadi panik.
Walau mendengarkan suara Kanaya, Rendy terus berlari menjauh sebisa mungkin. Dia mencari tempat terbuka agar peledak itu bisa di buang dan tidak memicu kebakaran.
"Rendy membawa bom?" tanya Gilang dengan mata membulat.
"Apa yang kau lakukan di sini, kau kan papa nya Rendy. Ambil alat peledak itu darinya." perintah Kanaya yang mendorong tubuh Gilang.
"Gilang, aku minta maaf. Aku rasa aku tidak bisa ikut campur masalah keluargamu. Tolong selesaikan dulu baru kita bahas masalah pekerjaan. Aku mau kembali menemui nenek." ucap Reyhan yang buru-buru masuk ke dalam mobil.
"Hei, dasar penakut. Kalau mau pergi ajak aku juga." ucap Mizuki yang ikut berlari masuk ke dalam mobil. Gilang hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah Reyhan dan Mizuki.
Gilang berusaha mencari keberadaan Rendy yang membawa pergi alat peledak itu. Tetapi, tiba-tiba Gilang mendengar suara ledakan yang begitu besar, tidak jauh dari tempatnya.
DUAARRR... DUAARRR..
Sebuah gedung runtuh karena terkena. Dengan cepat, Gedung itu runtuh membuat semua orang bertambah panik. Terlebih Kanaya yang takut terjadi sesuatu dengan Rendy. Mobil polisi bergerak cepat ke tempat kejadian.
"Kanaya, aku tidak bisa menemukan Rendy." ucap Gilang memberi laporan.
"Jangan-jangan dia tertimpa runtuhan gedung itu. Kita harus mencarinya." ucap Kanaya berlinang air mata. Dia menarik tangan Gilang seolah memohon kepadanya. Hati Gilang sampai tersentuh.
__ADS_1
"Ayo kita cari Rendy bersama, aku yakin dia masih ada. Anak itu cukup pintar, tidak akan membiarkan dirinya terluka seperti ini." ucap Gilang menenangkan Kanaya yang menangis tersedu-sedu.
"Kau janji padaku, Rendy masih hidup kan?" kata Kanaya di sela tangisnya sambil mendongak melihat wajah Gilang yang sesungguhnya.
"Tentu saja, aku papanya jadi sangat yakin." balas Gilang berusaha menampakkan senyumannya. Walau dirinya juga merasa sedih, takut Rendy benar-benar menghilang dari hidupnya.
Gilang dan Kanaya lalu ke tempat kejadian. Gilang dengan cepat bertanya kepada polisi yang sedang memperhatikan orang-orang yang mengangkat beberapa reruntuhan di sebabkan oleh ledakan itu. "Apa anak kecil yang anda temukan di sini?" tanya Gilang seketika.
"Maksud bapak? Kami tidak menemukan satupun korban di sini. Gedung ini sudah sangat lama dan tidak di gunakan lagi. Jadi tidak ada korban." jelas petugas polisi.
"Baiklah. Kalau kau menemukan anak kecil yang tertimpah reruntuhan gedung, tolong hubungi aku. Aku ingin memastikan sesuatu." ucap Gilang sambil menyodorkan kartu nama nya.
"Baik, pak."
Gilang lalu membawa Kanaya pergi dari sana. "Jadi kemungkinan besar Rendy selamat kan?" ucap Kanaya yang sangat berharap.
"Iya, aku yakin sekali."
"Entah apa yang terjadi dengan kami, selama ini aku dan Rendu hidup dengan tenang saja sampai datang ke kota ini. Niatku baik datang ke sini, aku hanya ingin menyekolahkan Rendy di tempat yang istimewa dan tempat yang dia sukai. Dia berusaha untuk masuk ke sekolah khusus orang kaya itu, walau kami berasal dari keluarga miskin. Rendy sampai mengejer beasiswa. Tetapi, karena kami datang ke kota maka Rendy pun sering mendapat masalah yang membahayakan dirinya. Aku memilih kembali ke desa dan tetap saja, Rendy ingin kembali ke sini." jelas Kanaya yang meneteskan air matanya kembali.
"Maaf, aku tidak bisa melindungi kalian. Aku tidak menyangka akan seperti ini." ucap Gilang yang penuh dengan rasa bersalah. Dia menganggap dirinya tidak bertanggung jawab sebagai seorang ayah untuk Rendy. Rasa menyesal pun muncul.
"Kanaya, kau istirahat dulu di apartemenku. Biar aku yang cari Rendy. Aku juga akan menghubungi orang-orangku agar dia memperketak penjagaan di sekitarmu." ucap Gilang.
"Aku tidak butuh itu, aku maunya Rendy. Hanya dia yang bisa menjagaku."
"Aku akan mencari Rendy untukmu, kau harus tinggal di apartemenku dulu. Aku jamin kau aman di sana. Kejadian seperti ini, tidak akan pernah terulang." ucap Gilang menekan perkataanya agar Kanaya bisa mengerti dirinya aman.
__ADS_1
"Baiklah. Kabari aku jika kau berhasil menemukan Rendy." ucap Kanaya dengan suara perlahan.
Gilang lalu membawa Kanaya ke apartemennya, tetapi sebelum mereka masuk, Gilang menghubungi anak buahnya untuk memperketak keamanan di sekitar apartemen ini. Semua orang masuk harus di periksa, jangan sampai membawa alat peledak lagi seperti bom.