
"Hei, kau siapa? Bukannya kita seperti pernah bertemu?" tiba-tiba gadis yang di anggap aneh mengenal Rendy. Dia menarik tubuh Rendy dan memeriksanya.
"Benar, kau orang yang minta ganti rugi waktu di taman. Apa kau datang ke sini karena aku?" tanyanya dengan penuh percaya diri.
"Tidak apa, aku bisa memberimu uang. Aku punya banyak uang kok." tambahnya lagi yang tidak membiarkan Rendy bicara. Dia menarik tasnya dengan cepat, lalu membuka dompetnya dan segera memberikan Rendy bertumpuk lembaran kertas.
"Ini, sudah cukup?" tanyanya.
"Siapa kau sebenarnya? Datang ke sini mengira jika perusahaan ini milikmu?" tanya Rendy yang penasaran. Dia tidak mengenal anak aneh ini, tetapi sikapnya seolah menunjukkan keluarganya memiliki peran penting di perusahaan papanya.
"Aku? Kau pasti orang baru di kota ini. Mana mungkin tidak mengenalku." ujar gadis itu sebelum pergi.
"Apa? Dia seolah dirinya penting untuk aku tahu. Memangnya siapa dia?" ucap Rendy dengan wajah kesal. Baru pertama kali bertemu perempuan yang selalu membuatnya kesal bertubi-tubi. Rasanya dia ingin mematahkan tangan gadis itu.
Setelah selesai membuat kopi, Rendy kini mengambil perannya. Dia bergegas ke ruang rapat dimana rapat penting sedang berlansung.
__ADS_1
"Permisi, aku membawa kopi untuk orang-orang yang sedang rapat." ujar Rendy sambil menundukkan kepalanya ketika melihat dua orang pengawas sedang berjaga di ruang rapat.
"Kenapa harus ada dua orang yang menjaga tempat ini? Apa rapat ini tidak boleh di ketahui orang lain?" guman Rendy yang merasa aneh.
"Silakan masuk. Namun kamu harus janji, segera keluar setelah tugasmu selesai. Jangan menguping pembicaraan dan apapun yang kamu dengar, jangan di umbarkan kepada siapapun." Ucap salah satu pengawas memperingati Rendy.
"Benar. Jika kamu sampai melakukannya, jaminannya adalah dirimu. Kami tidak yakin kau bisa hidup lagi." pintah satunya lagi.
"Apa?" Rendy terkejut mendengar ancaman itu. Namun wajahnya langsung tertunduk kembali ketika melihat tatapan aneh dari mereka berdua.
Rendy segera masuk dan melihat semua orang peninggi di perusahaan papanya sibuk berbicara. Walau dirinya belum pernah dikenalkan pada peninggi perusahaan papanya, tetapi Rendy diam-diam memantau latar belakang setiap peninggi itu untuk memastikan perusahaan papanya berjalan lancar.
"Laporan yang aku terima, tidak ada mencurigakan dari gerak gerik mereka. Tetapi kenapa, mereka melakukan rapat tanpa adanya papa. Malah orang lain yang menduduki tempat duduk yang seharusnya milik papa." ucap Rendy di dalam hati.
"Hei, kau! Kenapa hanya berdiri di situ, segera berikan kami kopi!" perintah salah seorang yang melihat keberadaan Rendy. Semua mata pun tertuju pada Rendy. Dengan senyum yang di paksakan, Rendy bergegas menghampiri mereka, melayani mereka bak dewa.
__ADS_1
"Aku penasaran dengan pimpinan. Apa yang dia lakukan setelah kita berhasil mengambil alih perushaaannya?" tanya salah satu yang duduk di kursi milik papa Rendy.
Tangan Rendy reflek menjatuhkan kopi hingga mengenai paha salah satu peninggi itu. Semua orang yang duduk di ruang rapat kembali terkejut dengan ulah Rendy.
"Hei, anak berengsek. Apa yang kau lakukan? Kau mau kehilangan pekerjaanmu?" terik orang itu dengan label nama Rahmat.
"Maaf, Pak Rahmat. Aku sedang sakit saat ini." ucap Rendy yang menyadari kecerobohannya.
"Apa? Minta maaf seenaknya?" dia sepertinya tidak terima dengan perkataan Rendy. Wajahnya memerah dan kedua tangannya terkepal. Dia bersiap memukul Rendy dengan mengayungkan tangannya, namun sayang suara oang yang duduk di kursi pemimpin membuatnya menghentikan tindakannya.
"Sudah cukup! Dia hanya ob, kenapa kamu mempermasalahkannya? Kita sedang fokus dengan misi penting saat ini. Jangan membuang waktu dengan hal yang tidak berguna." ucapnya dengan tegas.
"Maaf, aku terbawa emosi." ucap orang itu membuat Rendy sadar. Kekuasaan kakek tua itu berperan penting dalam perusahaan papanya. Bahkan hanya dengan suaranya bisa membuat peninggi perusahaan langsung meminta maaf.
"Aku dengar, pimpinan berusaha membangun perusahaan ini dengan susah payah dan memulai dari nol. Dia di bantu oleh anaknya yang tengah belajar di luar negeri. Tetapi kita berhasil merebut tempatnya suatu saat nanti dengan mudah. Apa mereka berasal dari keluarga bodoh?" ucap salah satu peninggi perusahaan yang membuat Rendy mendongak melihat label namanya.
__ADS_1
"Benar-benar bodoh." ucap semua orang sambil tertawa. Tangan Rendy terkepal. Dia ingin sekali menampar wajah mereka satu per satu.