Anak Bak Dewa

Anak Bak Dewa
Bab 17. Penjelasan Kanaya Terhadap Anaknya.


__ADS_3

Rendy duduk terdiam di kosan sambil menatap Kanaya yang mondar mandir di hadapannya.


"Mama tidak tahu harus bilang apa lagi." kata Kanaya yang merasa pusing sambil memijat pelipisnya.


Kanaya lalu menoleh dengan tajam ke arah Rendy. "Rendy, coba jelaskan apa alasan kamu di culik. Pasti ada sesuatu yang membuat mereka menculik dirimu. Jangan-jangan itu karena kamu punya keahlian meretas sistem?" tanya Kanaya menebak.


"Iya, Ma." jawab Rendy dengan lantang.


"Iya, sekarang masalahnya semakin membesar. Bagaimana bisa mereka tahu? Apa kau memberitahunya atau dirimu tertangkap basah?" tanya Kanaya dengan suara meninggi.


"Maaf, Ma." jawab Rendy singkat sambil menunduk.


"Aku jelaskan satu kali lagi, Rendy. Dengarkan baik-baik. Kau tidak boleh mengulangi kesalahamu ini, jangan meretas sistem apapun itu. Berperilakulah seperti anak kecil pada umumnya, jangan menarik perhatian banyak orang." jelas Kanaya


"Lalu, Ma. Kita dapat uang darimana kalau aku tidak melakukannya?" tanya Rendy dengan wajah polosnya dan mata sendu.


"Soal uang, aku yang memikirkannya. Kau tahu, apa yang kamu lakukan tindakan kriminal. Kemarin, aku tidak menegurmu dan malah membiarkanmu. Tetapi kali ini, aku benar-benar takut setengah mati. Jangan pikirkan uang lagi dan belajarlah dengan baik. kita punya kafe untuk membantu perekonomian kita." jelas Kanaya panjang lebar.


Rendy hanya menghela nafas, dia tidak mau merepotkan mamanya. Tidak ada pilihan baginya selain menurut atau Kanaya akan semakin marah padanya. Rendy benci membuat mamanya menangis dan meneteskan air mata. Dia sudah sangat bersyukur karena Kanaya masih mau mengurusnya seorang diri sampai saat ini. Padahal, Kanaya menghadapi banyak sekali ujian, mulai dari hujatan dan dihindari banyak orang. Sungguh sulit bagi Kanaya, tetapi dia masih tetap mempertahankan Rendy.


"Ma, Rendy minta maaf. Rendy mengaku salah." ucap Rendy sambil berjalan mendekati mamanya. Dielus tangan lembut Kanaya kemudian di cium berkali-kali.


"Rendy janji tidak akan bermain-main lagi. Maaf yah, Ma." mohon Rendy.


Kanaya tersentuh melihat tingkah anaknya, rasa marah yang meluap-luap dalam dirinya hilang seketika. Wajah polos dan imut anaknya membuat hatinya kembali tenang.


"Maafkan mama juga jika terlalu keras dengan Rendy. Tetapi, semua itu mama lakukan karena sangat sayang dengan Rendy. Benarkan?"


"Iya, Ma. Rendy paham." ucap Rendy sambil memeluk Kanaya.


Malam harinya, Kanaya memberikan kejutan kepada Rendy. Laptop berwarna merah yang Rendy pilih sebelumnya berhasil Kanaya beli dengan harga diskon. Dengan senang, Rendy melompat-lompat di lantai.

__ADS_1


"Terima kasih, Ma. Akhirnya Rendy punya laptop baru." ucap Rendy bergembira.


"Aku lebih senang, aku beli dengan harga diskon sampai lima puluh persen. Lumayanlah." ucap Kanaya tersenyum lebar.


"Tetapi, darimana mama tahu kalau ini laptop yang Rendy mau?" tanya Rendy.


"Itu, tadi aku ke toko laptop dan mereka bilang sempat ada anak kecil menunjuk laptop merah sebelum di culik. Karena aku yakin itu kau, aku pun membeli laptop ini dengan harga diskon. Mereka memberikannya sebagai permintaan maaf karena tidak melapor saat kamu di culik dan malah melihatnya saja." jelas Kanaya.


"Ah, pantas mereka mau memberi diskon." ucap Rendy sambil menganggukan kepalanya.


"Sudah, coba pakai. Apa itu bagus?" perintah Kanaya. Dengan cepat Rendy membuka laptop itu menggunakannya beberapa lama hingga akhirnya mengajukan jempol ke arah Kanaya.


"Baguslah kalau kamu suka." jawab Kanaya seketika.


Di sebuah apartemen Gilang, Friska langsung masuk tanpa permisi. Dia tahu apa sandi apartemen Gilang jadi tidak perlu menunggu Gilang. Setelah Gilang datang, dia malah terkejut melihat Friska sudah ada di dalam apartemennya sambil duduk menikmati jus.


"Kau sudah pulang sayang?" sapa Friska.


"Aku ini tunanganmu tentu tahu semua sandi baik itu rumah nenekmu, apartemenmu, bahkan sandi ponselmu." jawab Friska dengan santai.


"Apa Reyhan belum memberitahumu keputusanku?" ucap Gilang dengan alis mengerut.


Friska membuang gelas minumnya lalu memeluk Gilang seketika. "Lan, kau tidak boleh membatalkan pernikahan kita. Kau sudah janji akan menikahiku dan kita itu sudah sangat dekat, Lan." mohon Friska dengan air mata menetes.


"Friska, aku minta maaf. Aku sedang mencari orang yang aku tiduri enam tahun lalu. Kalau dia sampai punya anak, aku harus tanggung jawab." kata Gilang sambil mendorong tubuh Friska menjauh.


"Bagaimana kau bisa tahu kalau itu dia. Bisa saja, dia memanfaatkan dirimu, Lan. Pura-pura punya anak darimu padahal dari orang lain." titah Friska yang tidak terima.


"Sudah cukup, sebaiknya kau pulang!" perintah Gilang dengan tegas. Pikiran Gilang masih sumpet gara-gara Rendy di culik tadi.


"Lan, kau boleh meniduriku juga jika itu membuatmu untuk menikahiku. Lakukan sekarang!" ajak Friska sambil menarik bajunya bersiap melepaskannya. Gilang terkejut mendengarnya, dengan cepat dia keluar dari apartemennya sebelum Friska menjadi gila karenanya.

__ADS_1


"Aneh, Friska memaksaku menikahinya. Pasti ada yang tidak beres, aku harus selediki." ucap Gilang yang masuk ke dalam mobilnya.


Friska yang begitu menghormati dirinya, malah terlihat murahan di depan Gilang. Sungguh hal ini yang membuat Gilang penasaran apa yang terjadi dengan Friska. Gilang pun menginap di rumah neneknya, tetapi sebelum itu dia mengganti kata sandi rumah neneknya karena Friska sudah tahu.


Keesokan Harinya..


Rendy di antar Kanaya ke sekolah. Di depan gerbang, Teman Rendy datang menghampiri Kanaya. "Halo, tante. Aku temannya Rendy, Alex," ucap Alex bersuara lembut sambil mengulurkan tangannya kepada Kanaya.


"Kanaya," balas Kanaya dengan tersenyum manis.


"Ibumu masih muda, Ren." puji Alex menoleh ke arah Rendy.


"Tentu saja, dong. Mamaku gituloh." jawab Rendy sambil mengajukan jari jempolnya.


"Ha ha ha, kalian pintar sekali memuji. Apa aku semudah itu yah," ucap Kanaya dengan wajah merah merona.


"Ma, Rendy dan Alex masuk ke dalam dulu. Jangan lupa jemput Rendy sesuai janji Mama tadi." kata Rendy sambil mengajukan jari kelingkingnya.


"Iya, aku tidak akan lupa. Sudah, masuk dan belajar dengan baik. Kamu juga Alex." perintah Kanaya sambil mengusap lembut rambut Rendy dan Alex. Mata Alex sampai berbinar-binar, selama ini dia belum pernah mendapat sentuhan manis dari seorang ibu.


"Terima kasih, tante." ucap Alex tersenyum dengan kedua mata sendu, ingin menangis.


"Sama-sama, sayang." jawab Kanaya sebelum pergi.


"Sudah, ayo masuk!" perintah Rendy sambil menggandeng tangan Alex.


Sehabis mengantar Rendy, Kanaya kembali le kafe yang sudah di tunggu Riani di sana. "Lama, Naya. Kayak bukan habis antar Rendy saja." protes Riani yang bosa menunggu sedari tadi.


"Maaf, aku singgah beli makanan dulu. Kamu tidak mau?" tanya Kanaya sambil memperlihatkan kantung hitam yang dia bawa.


"Wah, aku tentu mau. Kau baik sekali hari ini." ujar Riani menarik paksa kantung yang di bawa Kanaya.

__ADS_1


__ADS_2