Anak Bak Dewa

Anak Bak Dewa
83. Semua Salah Kanaya


__ADS_3

Baru satu hari tinggal di rumah Kanaya, Gilang sudah merasa panas berlebihan. Maklum, rumah ibu Kanaya masih menggunakan rumah panggung. Tidak ada AC atau pendingin ruangan. Gilang terus saja mengipas dirinya dengan tangannya.


"Lan, aku demam. Badanku terasa panas!" teriak Alvin yang berlari ke arah Gilang.


"Benarkah? Lalu, kau pikir aku peduli. Aku juga bisa demam di sini." sahut Gilang.


Kanaya yang sempat memdengar pembicaraan dua orang itu, segera menghampiri mereka dengan senyum sinis.


"Kalau sudah lelah, sebaiknya kau pulang. Kalian anak kota, tidak seharusnya terdampar di desa." Ucap Kanaya yang menekan perkataannya.


"Hei, calon kakak ipar. Kau sepertinya sangat senang menjauh dari Gilang." sahut Alvin.


"Aku memang sangat senang, jauh lebih senang daripada yang kalian duga." jawab Kanaya dengan cepat.


"Lan, kau dengar kan? Kita sebaiknya pulang saja. Tidak ibu mertua, istrimu di sini juga tidak menghormati kita. Madu saja dia nanti di kota." ujar Alvin sambil menepuk pundak Gilang. Tangan Gilang menghempas tangan Alvin. Tatapannya langsung mengarah ke wajah Kanaya.


"Aku ini laki-laki sejati. Masa hanya perkara panas sudah membuat diriku mundur. Tidak akan, ini demi Rendy." ucap Gilang yang bersemangat sekali. Ibu Kanaya langsung menghampirinya, memberikan benih cabai yang siap di tanam.

__ADS_1


"Kalau begitu, buktikan padaku. Tolong tanam benih cabai ini di belakang rumah. Kau harus tahu bertani karena nanti akan menikah dengan anakku yang berasal dari petani. Mengerti?" ujar ibu Kanaya sambil tersenyum manis.


"Mengerti, ibu Mertua. Tugasnya, akan segera aku laksanakan." ujar Gilang yang langsung pergi sambil benih cabai yang telah di siapkan ibu Kanaya.


"Ibu ini apa-apaan sih, masa menyuruh Gilang seperti itu. Gilang kan bukan seorang petani, ibu membuatnya repot." protes Kanaya.


"Ibu sedang mengujinya, apa dia mampu melakukan pekerjaan dengan baik atau tidak? Dia itu kan harus di tes dulu tanggung jawabnya. Jangan sampai, dia kabur lagi seperti lima tahun lalu. Kamu yang akan menderita lagi." jelas Ibu Kanaya. Dia lalu pergi setelah mengatakannya.


"Tetapi, Bu..." Kanaya masih ingin memberi protes, dia tidak ingin Gilang di perlakukan seperti itu. Kanaya tahu seperti apa diri Gilang, dia lebih mahir mengurus perusahaan daripada bertani.


"Apa?" tanya Kanaya sambil melihat wajah anaknya.


"Apa mama peduli dengan papa? Mama sampai tidak terima, Papa di suruh-suruh oleh nenek. Jangan-jangan, benih cinta sudah tumbuh di hati mama. Apa Rendy beritahu papa saja?" tanya Rendy mengoda Kanaya.


Kanaya melangkah semakin dekat dengan Rendy sambil menunduk menatap anaknya dengan wajah datar.


"Rendy, kau mau mama memberitahukanmu satu rahasia?" tanya Kanaya dengan wajah serius.

__ADS_1


"Boleh, apa itu rahasia mama? Mama ingin mengakuinya?" tanya Rendy yang penasaran. Dia pikir, Kanaya akan berterus terang.


"Mama sempat kepikiran membawamu jauh dari kehidupan mama. Kau tahu itu dimana? Di panti asuhan!" titah Kanaya dengan tegas. Rendy sampai mundur ke belakang.


"Apa? Mama akan melakukannya? Kenapa?" tanya Rendy yang tidak terima.


"Pikirlah saja. Setelah Gilang tidak punya apa-apa, kau juga sudah menginvestasikan semua uangmu demi Gilang dan mama tidak dapat apa-apa, jadi mama rasa kau perlu di bawa pergi. Benar bukan?" tanya Kanaya yang mengancam anaknya. Dia mana berani melakukannya. Selain tidak tega, Kanaya akan terus di hantui ibunya sepanjang hidupnya.


"Mama tidak asyik. Jika papa nanti berhasil, kita juga di untungkan. Jika Rendy kaya, mama akan jauh lebih kaya lagi." ujar Rendy memasang wajah cemberut.


"Lalu? Sekarang, apa kau punya uang?" tanya Kanaya sambil tersenyum.


Rendy kaget setengah mati, dia lupa mengambil uangnya pada Alex. Rendy lalu berlari masuk ke kamarnya, menghubungi Alex. Sementara Kanaya, menatap kepergian anaknya dengan wajah bingung.


"Apa dia marah beneran? Aku kan hanya bercanda." Ujar Kanaya yang panik. Akan ada masalah jika Rendy sampai membuka mulutnya. Bukan hanya Ibu Kanaya yang akan marah, Gilang dan Alvin pun pasti ikut marah.


"Mati aku." tepuk Kanaya di dahinya.

__ADS_1


__ADS_2