Anak Bak Dewa

Anak Bak Dewa
Bab 53. Kebakaran


__ADS_3

Ketika malam mendatang, Kanaya dan Rendy tengah berdiri di depan pintu rumah nenek Gilang. Mereka rencananya ingin menginap di rumah nenek Gilang karena nenek Gilang terus memanggil Rendy dan merindukan cicit kesayangannya itu.


"Oma, aku datang!" teriak Rendy ketika baru melangkah masuk. Kanaya pun mengekor di belakang anaknya.


Nenek Rani dan Reyhan pun langsung menyabut mereka berdua. Nenek Rani memeluk Rendy dengan sangat erat.


"Oma pasti sangat merindukanku, karena kita sudah tidak bertemu hampir tiga hari." kata Rendy yang tersenyum-senyum.


"Tentu saja Oma sangat merindukanmu. Karena merindukan cicit kesayangan Oma, Oma sampai meminta kamu dan mama-mu untuk datang menginap di sini." jelas Nenek Rani sambil menatap wajah Rendy dan Kanaya bergantian.


"Nek, biar aku yang menyiapkan makan malam. Sebaiknya nenek istirahat saja bersama Rendy." ucap Kanaya yang bergegas ke dapur.


"Tidak, kita bakal masak bersama-sama. Nenek juga ingin memasak bersama menantu nenek." ucap nenek Rani yang menyusul Kanaya ke dapur. Kanaya pun tersenyum senang sekaligus bahagia.


Tinggal Rendy dan Reyhan yang duduk saling berhadapan di sofa ruang tamu. Rendy pun memulai pembicaraan.


"Uncle Reyhan tahu tentang perusahaan Clady Group?" tanya Rendy seketika.


"Clady Group? Aku rasa tidak terlalu tahu banyak tentang perusahaan baru itu. Kenapa memangnya?" tanya Reyhan balik sambil menatap Rendy menyelidiki.


"Itu, aku sempat baca di berita jika Clady Group memilih menyembunyikan identitas presdir mereka. Kenapa yah, Uncle?"


Reyhan berpikir sebentar sebelum menjawab. Dia pun mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, "Setauku presdir lama mereka di timpah kecelakaan. Clady Group menyelidiki kecelakaan itu karena menduga jika kecelakaan yang menimpah presdir mereka bukan kecelakaan biasa. Mereka yakin jika ada orang yang terlibat dalam kecelakaan itu." ucap Reyhan, mengingat-ingat kejadian yang menguncangkan Clady Group sepuluh tahun lalu.


"Lalu, siapa nama presdir Clady Group, Uncle?" tanya Rendy yang ingin mendapat banyak informasi dari Reyhan.


"Enrahlah, aku tidak pernah bertemu dengan presdir Clady Group. Lagian, Gilang tidak pernah bekerja sama dengan perusahaan itu. Tetapi, aku pernah mendengar salah seorang mengatakan jika Presdir Glady Group adalah Azal." jelas Reyhan yang membuat Rendy tercengang.


"Itu tidak mungkin, Uncle. Bukannya pak Azal sudah di penjara, lalu tiba-tiba ada yang datang dan mengatas namakan dirinya sebagai presdir Clady Group. Orang itu adalah saudara Friska sendiri." tegas Rendy yang membuat Reyhan terkejut. Bukan karena Azal di penjara, tetapi Rendy tahu betul semua informasi itu dari mana.

__ADS_1


"Kau mendengar perkataan siapa?" tanya Reyhan yang kini beralih menatap Rendy dengan tatapan heran.


"Aku hanya melihat dari berita saja." jawab Rendy yang menurunkan intonasi bicaranya.


"Oh, aku kenapa tidak tahu masalah ini? Apa ketinggalan berita?" ucap Reyhan yang bangkit sambil menarik ponselnya yang sedari tadi mati. Reyhan pun menyalakan ponselnya dan melihat pesan dari Gilang.


"Rendy, tunggu di sini. Aku mau menelpon Gilang dulu." perintah Reyhan sambil menunjuk Rendy. Rendy hanya membalas dengan anggukan lalu beralih fokus ke laptopnya yang sempat dia bawa.


"Uncle bahkan tidak tahu mengenai perusahaan Clady Group. Sangat sulit mencari informasinya, apa orang ini sangat pintar dan lebih cerdik dariku?" ucap Rendy yang meng-scroll laptopnya.


Tiba-tiba, Rendy mendapat pekerjaan untuknya yang tidak melampirkan dari perusahaan mana. Ketika Rendy membalasnya dan bertanya, orang itu hanya bilang jika Rendy harus datang sendiri di kafe Wins.


[Apa harus malam ini?] balas Rendy yang mengetik cepat dari laptopnya.


^^^^^^[Iya, jika kau ingin mendapat pekerjaan ini.]^^^^^^


[Maaf, paman. Apa aku boleh tahu namamu? Darimana paman dapat nomorku ini?]


[Iya, baik, paman. Aku segera ke sana, sampai ketemu di kafe Wins.]


Rendy lalu mengakhiri chatnya dan langsung menutup laptopnya. Dia bersiap untuk segera pergi ke kafe Wins. Sementara orang yang mengirim pesan itu malah tersenyum senang melihat balasan Rendy. "Baik, sampai ketemu juga di sana. Semoga aku bisa melihatmu." ucapnya dengan tertawa senang lalu bangkit dan menarik jeket hitamnya. Bergegas pergi sebelum Rendy datang lebih dulu.


"Hei, Rendy. Kau mau ke mana? Kok pakai tas lagi?" tanya Kanaya yang datang menghampiri Rendy setelah selesai bergulat di dapur bersama nenek Rani.


"Oh, aku ada urusan mendadak di luar, Ma. Biasa, dapat pekerjaan dadakan." bisik Rendy kepada Kanaya.


"Benarkah? Apa kali ini gajimu sangat tinggi?" ucap Kanaya yang lebih senang dari Rendy.


"Kalau soal gaji, Mama langsung bersemangat sekali." sindir Rendy sambil tersenyum melihat wajah senang Kanaya.

__ADS_1


Kanaya menghitung dengan jari tangannya sambil membulatkan matanya. Dia lalu memeluk Rendy. "Rendy, kerja dengan baik agar gajimu semakin tinggi. Mama bangga dengan kamu!" ucap Kanaya memberi Rendy semangat.


"Siap, Ma. Kalau begitu, Rendy segera pergi ke kafe Wins. Nanti kalau sudah gajian, kita bagi dua hasilnya." ucap Rendy sambil berjalan keluar dari rumah nenek Rani.


"Iya, aku akan sabar menunggu gajimu!" teriak Kanaya, memasang wajah bahagia. Nenek Rani keluar ingin mengajak Rendy makan bersama, tetapi dia tidak melihat Rendy.


"Rendy kemana, Kanaya? Apa sudah tidur?" tanya Nenek Rani yang menoleh menatap Kanaya uang berdiri dengan tersenyum-senyum.


"Itu, Nek. Rendy lagi keluar, dia lagi ada sedikit rezeki." ucap Kanaya dengan wajah berbinar-binar memikirkan gaji Rendy.


"Maksud kamu?" tanya nenek Rani yang menjadi bingung.


"Kanaya, Rendy kemana? Gilang mau bicara dengannya, katanya ini masalah penting." kata Reyhan yang tiba-tiba datang sambil membawa ponselnya.


"Rendy baru saja pergi, dia ke kafe Wins karena mendapat pekerjaan dadakan." jawab Kanaya berterus terang.


"Pekerjaan dadakan? Rendy bekerja apa?" tanya Reyhan yang menjadi bingung. Setaunya, Rendy tidak punya pekerjaan apapun karena masih kecil. Tetapi mendengar Kanaya berbicara seperti itu, membuat Reyhan dan nenek Rani terkejut setengah mati.


"Itu, nanti kalian bisa tanyakan langsung pada Rendy. Aku sulit menjelaskannya." ucap Kanaya yang memilih pergi dari sana sebelum di paksa memberitahu mereka.


Sementara itu di tempat lain, Rendy mondar mandir mencari orang yang mengirimnya surel. Dia tidak berhasil menemukannya. Bahkan ketika Rendy bertanya kepada kasier, dia hanya mengatakan jika tidak ada orang yang memesan meja atas nama Rendy.


Rendy pun berjalan menuruni tangga, berniat untuk pulang. Tiba-tiba sebuah ledakan terdengar dan memicu api menyebar di seluruh kafe Wins. Semua orang berlari keluar berusaha menyelamatkan diri, membuat Rendy yang bertubuh kecil terdorong ke sana sini menebus kerumunan.


"Permisi, ada anak kecil di sini. Aku harus keluar juga." ucap Rendy yang berusaha menahan dirinya karena nafasnya mulai sesak terjebak di keramaian orang dewasa.


"Mama, tolong Rendy!" teriak Rendy ketika dirinya mulai lemah, tidak bisa bernafas. Pandangannya juga mulai kabur di tambah asap yang mengepung membuat sulit bernafas dan masih banyak orang yang terjebak di lantai dua.


Ting.. Ring.. Ting.. Ring..

__ADS_1


Hanya suara itu yang terdengar di telingan Rendy sebelum hilang kesadaran sepenuhnya. Tubuh Rendy terjatuh di antara kerumunan orang.


__ADS_2