Anak Bak Dewa

Anak Bak Dewa
Bab 34. Mencoba Datang Melamar


__ADS_3

Ramadhan bersiap ke rumah Kanaya, dia telah memakai pakaian rapi. Dirinya terus tersenyum melihat penampilannya yang begitu berwibawa. "Kanaya pasti menerimaku dengan senang hati. Sudah lama dia diam-diam menyukaiku." ujar Ramadhan.


Hari ini adalah hari penting bagi Ramadhan, dia akan datang ke rumah Kanaya dan meminta restu kepada ibu Kanaya agar bisa menikahi Kanaya secepatnya sebelum rahasianya terbongkar nanti.


"Aku tidak peduli dengan Rendy, dia tidak akan menghancurkan pernikahanku kalau tahu ibunya sudah cinta mati denganku. Rendy anak yang cukup cerdas, pasti akan mengalah." ucap Ramadhan dengan senang hati.


Ramadhan lalu berjalan keluar dari rumahnya, tetapi baru sampai langkahnya di depan teras rumahnya, ponselnya tiba-tiba berdering.


"Iya, Halo?"


"Apa? Orang-orang Gilang sudah sampai di kampung ini? Lalu kenapa kalian tidak menghalanginya?" teriak Ramadhan yang marah.


"Rendy? Dia ada di sana? Kenapa anak itu membantu mereka?" ucap Ramadhan sedikit bingung.


"Sudahlah, kalian tidak bisa di andalkan. Sia-sia aku membayar mahal, kalian tidak becus bekerja." ucap Ramadhan mengakhiri panggilan teleponnya.


"Aku harus menikahi Kanaya secepatnya, sebelum Gilang memilikinya. Rencanaku tidak boleh gagal." ucap Ramadhan sambil mengepal keras dua tangannya. Ramadhan kembali melanjutkan langkahnya menuju rumah Kanaya.


Dia sengaja berjalan untuk melihat situasi dimana anak buah Gilang katanya berada di kampung ini sedang mencari Kanaya. Tetapi, Ramadhan tidak bertemu dengan anak buah Gilang di tengah jalan bahkan ketika dirinya sampai di rumah Kanaya.


"Bagus, orang Gilang tidak tahu dimana rumah Kanaya. Tidak sia-sia aku membawa Kanaya ke sini." ucap Ramadhan tersenyum tipis.


Ketika Ramadhan berbelok menuju pekarangan rumah Kanaya, dia melihat kabel yang membentang mengelilingi rumah Kanaya. Kedua alis Ramadhan pun mengerit.


"Apa ini? Apa anak genius Kanaya lagi yang membuatnya?" ucap Ramadhan tersenyum mengejek.


"Ada-ada saja kelakuan aneh anak itu. Apa dia sekarang berusaha menghalangi aku untuk masuk dan menemui Kanaya dengan cara seperti ini? Aku tidak akan mundur hanya dengan kabel saja." kata Ramadhan dengan santai. Dia tidak tahu saja, kabel itu bisa menyengat dirinya jika melangkah lebih dekat lagi.


Dan benar saja, ketika Ramadhan melangkah, dia di setrum listrik membuat semua rambutnya berdiri. Ramadhan pun mundur dengan mata membulat.

__ADS_1


"Anak nakal itu..." ucap Ramadhan dengan wajah memerah. Tiba-tiba Rendy datang dan berdiri di hadapannya, tepatnya berada di dalam kabel.


"Hei, paman. Kenapa kau terlihat hitam sekali? Apa salah pakai lulur kemarin?" canda Rendy sambil tersenyum lebar.


"Cepat matikan aliran listriknya!" perintah Ramadhan dengan wajah serius sambil menatap tajam Rendy.


"Apa, paman? Aku tidak dengar apa yang kau katakan." kata Rendy sambil memegang telingannya bermaksud mendengar perkataan Ramadhan dengan suara keras walau dia sudah dengar apa yang di katakan Ramadhan.


"Jangan bermain-main denganku dan matikan aliran listriknya sekarang!" perintah Ramadhan sambil menunjuk Rendy dan menekan perkataannya.


"Siapa paman sebenarnya? Kenapa berani sekali memberi perintah padaku?" kata Rendy yang semakin mengejek.


"Aku akan menjadi papa tiri kamu, jadi kamu harus menurut. Mengerti?" bentak Ramadhan dengan suara keras.


"Tidak di mengerti, aku tidak mau mengerti." kata Rendy dengan tegas sambil melipat kedua tangannya.


Ramadhan pun tidak punya pilihan lain selain menjelaskan pada Rendy. "Rendy, kau sangat menyayangi Kanaya kan? Kalau begitu, kau harus menerimaku sebagai papamu. Kanaya itu sudah lama mencintai diriku bahkan ketika kami masih berada di bangku SMA. Karena insiden kecelakaan itu, Kanaya terpaksa menutup diri padaku karena malu. Jadi, aku hanya ingin mewujudkan keinginan Kanaya, itu saja." Jelas Ramadhan panjang lebar. Terlihat Rendy yang berpikir keras, berusaha menyimak perkataan Ramadhan.


"Benar." sahut Ramadhan dengan cepat.


"Lalu?" kata Rendy seketika yang membuat Ramadhan terkejut. Dia tidak menyangka, anak genius ini mempermainkan dirinya.


"Ha ha ha, paman pikir aku bodoh? Aku tidak akan membiarkan paman masuk karena ini kawasan rumahku, titik." ucap Rendy dengan tegas sambil berbalik meninggalkan Ramadhan yang semakin membara.


"Sabar, Ramadhan. Dia itu hanya anak kecil, nanti hatinya bakal luluh juga." ucap Ramadhan sambil mengelus dada. Ramadhan lalu pulang dan dia pun menunda untuk menemui keluarga Kanaya.


Sementara itu di tempat lain, Gilang merasa senang ketika melihat foto Rendy bersama salah satu orang suruhannya. Dia pun langsung menghubungi anak buahnya untuk segera membawa pulang Rendy dan Kanaya padanya.


"Tetapi, pak Gilang..."

__ADS_1


"Tidak ada kata tapi. Cepat kembali sekarang juga, aku juga sudah rindu berat." perintah Gilang yang menutup sambungan teleponnya. Anak buah Gilang terpaksa pulang dengan tangan kosong karena mendapat perintah dari Gilang untuk segera pulang.


Malam harinya, Kanaya sibuk menonton tivi dengan serius. Sementara Rendy duduk di dekat Kanaya sambil fokus mengetik di laptopnya.


"Ma, gajiku sudah masuk ke rekening. Mama tidak mau kembali ke kota lagi?" tanya Rendy sambil menutup laptopnya ketika pekerjaannya telah selesai.


"Entahlah, aku juga rindu mengurus kafe. Riani dari kemarin juga tidak memberi kabar, apa kafe kita baik-baik saja?" tanya Kanaya yang cemas.


"Kalau begitu, kita kembali ke kota. Aku sudah libur sendiri dari sekolah selama seminggu. Bagaimana kalau mereka tidak mau menerimaku lagi?" ucap Rendy.


"Besok, kalian sudah harus pulang kembali ke kota. Rendy kan masih sekolah dan belum libur, tetapi kalian berdua malah datang ke sini. Aku sudah bilang berkali-kali, tidak perlu mengkhawatirkan diriku. Aku baik-baik saja." ucap Ibu Kanaya yang datang sambil membawa tiga cangkir teh panas.


"Hemmm," hela nafas Kanaya.


"Nek, kami sudah menemukan papa!" kata Rendy memberitahu neneknya membuat Kanaya melotot karena terkejut.


"Benarkah? Jadi kalian sudah melihat wajah laki-laki itu? Kenapa tidak membawanya bertemu nenek juga, Rendy?" ucap ibu Kanaya dengan wajah antusias.


"Rendy!" tegur Kanaya yang memberi kode untuk tidak memberitahu ibunya.


"Tetapi, Nek. Mama sepertinya tidak kau mengenal papa. Padahlkan, papa sudah mau bertanggung jawab. Kalau musuh papa sampai tahu jika aku anaknya maka bisa gawat." jelas Rendy dengan wajah polosnya yang imut dan menggemaskan.


"Apa yang gawat? Kau yang sekarang merepotkan karena memberitahu nenek." sahut Kanaya dengan wajah datarnya.


"Aku sudah dua kali di culik, Nek. Nenek tidak khawatir?" tanya Rendy berterus terang membuat Kanaya ingin sekali menutup mulut anaknya.


"Apa? Cucuku sudah dua kali di culik?" ucap ibu Kanaya dengan wajah melotot, sangat terkejut. Dia lalu memegang dadanya yang terasa sesak.


"Ma, jangan pingsan dulu. Sebaiknya ke kamar dan pingsan di sana saja." perintah Kanaya yang memegang tangan ibunya.

__ADS_1


"Mama ini kenapa sih? Bilang seperti itu kepada nenek?" tegur Rendy.


__ADS_2