
Gilang berjalan cepat menuju ruang rawat Rendy. Dia melangkah dengan keras sampai membuat langkah kakinya terdengar.
Tak.. Tak.. Tak...
Gilang membuka pintu membuat orang yang berada di dalam terkejut melihatnya. "Bagaimana keadaan Rendy, Reyhan?" tanya Gilang yang menatap wajah Rendy yang sedang terbaring lemah dengan banyak peralatan menempel di tubuhnya.
"Gilang, bagaimana bisa kau tahu Rendy ada di sini?" tanya Reyhan yang terkejut sampai membulatkan matanya, dia seolah tidak bisa bernafas saat melihat wajah Gilang yang datar dan dingin.
"Jadi kau tidak ingin aku tahu? Apa kau pikir bisa memyembunyikan masalah besar ini dariku!" teriak Gilang yang mulai emosi. Kanaya bangkit dari tempat duduknya karena kaget. Ini kali pertamanya melihat Gilang bicara dengan nada suara meninggi.
"Lan, aku tidak bermaksud seperti itu." ucap Reyhan sambil menunduk. Dia tidak berani melawan jika amarah Gilang sudah mencapai puncak dan akan segera meledak.
"Apa yang terjadi dengan Rendy?" tanya Gilang yang kembali bersuara datar dan dingin.
Kanaya dengan cepat menjelaskannya sebelum mendengar Gilang berteriak kembali. "Rendy pergi ke kafe Wins ingin menemui seseorang yang mengajak dirinya kerja sama. Tetapi, kafe Wins tiba-tiba terbakar dan Rendy di bawah senior melompat ke kobaran api." jelas Kanaya yang tidak berani menatap mata Gilang. Dia ikut takut sampai keringatnya bercucuran.
"Siapa senior? Kenalanmu?" tanya Gilang yang menatap wajah Kanaya dengan serius.
"Dia seniorku ketika kuliah, namanya Ramadhan." ucap Kanaya kembali yang belum mendongakkan kepalanya menghadap Gilang.
"Sekarang dengar, aku sudah bicara dengan dokter di luar tadi. Dia mengatakan jika Rendy koma dan tidak sadarkan sementara waktu ini. Jadi siapa pun pelakunya, tidak akan aku beri ampun. Tolong Kanaya, perlihatkan aku siapa seniormu itu. Aku ingin mencarinya dan membunuh orang itu." ucap Gilang dengan tegas membuat Kanaya semakin takut.
"Iya, aku kirim ke ponselmu." ucap Kanaya yang mengambil ponselnya di atas lemari kecil di samping tempat tidur Rendy.
Setelah mendapat foto orang yang di maksud Kanaya, Gilang segera pergi mencari Ramadhan. Reyhan pun berjalan mengikuti di belakangnya walau diliputi rasa takut dengan Gilang.
Gilang masuk ke dalam perusahaannya, menemui karyawannya yang bertugas di lantai sembilan dimana ruang kerja ini khusus untuk mencari tahu biodata semua orang.
"Cari orang ini dan berikan semua informasi tentang dirinya. Aku beri waktu 24 jam kalian bekerja." perintah Gilang ketika sampai di ruangan itu. Semua orang hanya mengangguk, setuju dengan Gilang. Mereka lalu bekerja keras untuk menemukan orang yang di maksud Gilang hanya dengan melihat wajah Ramadhan.
__ADS_1
"Aku tahu kau selalu mengikutiku, Rey. Ayo bicara denganku di ruanganku." ucap Gilang yang langsung masuk ke dalam ruangannya. Reyhan pun menyusul dengan cepat, tidak mau membuat Gilang menunggu lama.
Ketika kaki Reyhan baru melangkah masuk, terdengar suara keras dari barang jatuh. Rupanya, Gilang sengaja melempar barang-barangnya untuk melampiaskan amarahnya yang terpendam.
"Rey, aku benar-benar kecewa denganmu. Sebelum pergi, aku sudah memperingatimu untuk menjaga Rendy dan Kanaya selama aku berada di luar kota. Belum cukup satu minggu, sudah ada masalah besar yang menimpah Rendy. Kau sebenarnya serius melakukannya atau karena terpaksa?" tanya Gilang yang berbalik menghadap Reyhan yang terus saja menunduk.
"Aku minta maaf, Lan." sahut Reyhan seketika.
"Aku tidak butuh minta maafmu, aku ingin agar Rendy segera sadarkan diri. Dokter berkata padaku, hanya sebuah keajaiban yang bisa membuat Rendy sadar. Itu berarti, harapanku untuk Rendy sadar sangat sedikit." ucap Gilang sambil mengacak rambutnya, merasa frustasi.
"Iya, Lan. Aku juga sudah tahu karena dokter yang memberitahuku ketika menanyakan keadaan Rendy. Tetapi, Gilang, Kanaya tidak tahu masalah ini. Aku tidak memberitahunya karena merasa khawatir dengan Kanaya." ucap Reyhan yang kini mendongak menatap wajah Gilang.
"Lalu, bagaimana sekarang?" tanya Gilang sambil duduk di kursi putarnya.
"Apa maksudmu?" tanya Reyhan yang kurang mengerti.
"Aku akan bantu tim mencari tahu. Karena Kanaya mengatakan, orang itu sempat melompat sambil membawa Rendy. Tetapi mayatnya belum aku temukan. Masih ada kemungkinan dia berhasil lolos dan kabur dari sana meninggalkan Rendy." jelas Reyhan menawarkan diri.
"Baik, cari dengan cepat sebelum dia kabur lebih jauh lagi." ucap Gilang sambil mengangguk perlahan pada Reyhan. Reyhan pun keluar dari ruangan Gilang dan bergegas menyelesaikan misinya.
Sementara itu di rumah sakit, kondisi Rendy semakin memburuk. Tiba-tiba Rendy mengalami kejang-kejang mendadak membuat Kanaya dan nenek Rani panik. Kanaya berlari dengan cepat memanggil dokter.
"Dokter, tolong anakku!" teriak Kanaya meminta bantuan.
Setelah Rendy di bawah untuk di periksa, Kanaya menghubungi Gilang untuk segera datang sambil menangis. "Presdir sombong nan pelit, datang cepat ke rumah sakit. Rendy sekarat saat ini, Hiks.. Hiks.. Hiks.." ucap Kanaya yang langsung menutup panggilannya setelah berbicara dengan Gilang.
Tidak berselang lama, Gilang datang dengan wajah panik. Dia lalu memeluk Kanaya agar tetap tenang. "Semua akan baik-baik saja." ucap Gilang sambil berbisik kepada Kanaya.
"Tidak, Rendy sekarat. Aku tidak menyangka hanya dengan melompat ke api yang menyala-nyala membuat anakku sekarat. Pasti ada yang terjadi dengan Rendy sampai dia tidak sadarkan diri. Benarkan?" tanya Kanaya yang bangkit dengan tubuh menghadap Gilang.
__ADS_1
"Pak Gilang, mohon maaf. Kami menduga jika Rendy terjatuh berguling-guling sampai kepalanya tertabrak membuat dia hilang kesadaran. Untuk itu, aku membentuk tim perawat yang akan selalu sigap membantu merawat Rendy. Karena terlambat sedikit pun bisa membuat Rendy kehilangan nyawanya." ucap dokter kepada Gilang sewaktu mereka bicara berdua. Gilang tidak ingin memberitahu Kanaya sampai dia tidak menjawab pertanyaan Kanaya.
"Apa jangan-jangan, kepala Rendy terbentur atau patah tulang? Atau apa?" tanya Kanaya sambil menarik-narik tubuh Gilang agar mau memberitahu dirinya.
"Kanaya, duduklah dengan tenang. Rendy tidak akan senang melihat dirimu seperti ini." ucap Nenek Rani yang menarik tangan Kanaya agar duduk di dekatnya. Kanaya pun menurut sambil menyandarkan kepalanya di pundak nenek Rani yang mengelus perlahan rambutnya.
'Aku minta maaf, Rendy. Aku tidak bisa menjadi orang tua yang bisa melindungi kamu, nak. Maafkan aku.' guman Gilang penuh penyesalan.
"Pokoknya Rendy harus sadar, Nek. Aku tidak mau tahu." ucap Kanaya yang menangis histeris.
Mizuki baru datang setelah istirahat sebentar di apartemen Gilang. Dia lalu menyodorkan bekal kepada Kanaya. "Ayo makan, kau juga butuh energi. Saat Rendy sadar, dia pasti akan sangat senang melihat dirimu sehat." bujuk Mizuki yang tahu Kanaya belum makan sejak kemarin.
"Makanan teras tidak mau turun, Mizuki. Aku tidak laper." tolak Kanaya sambil menyodorkan kembali kotak bekal Mizuki.
"Jangan begitu, Nak. Kau harus tetap makan walau tidak bisa turun. Ini demi kebaikan dirimu sendiri. Kau tidak ingin kan membuat dirimu sakit saat Rendy butuh perhatian lebih darimu sebagai seorang ibu?" tambah nenek Rani membujuk Kanaya.
"Iya, Nek." jawab Kanaya singkat.
Kanaya pun terpaksa mengambil kotak bekal yang di bawa Mizuki membuat Gilang sedikit lega karena Kanaya mau menurut.
"Nenek juga harus makan, jaga kesehatan nenek." pintah Gilang yang menoleh ke arah neneknya.
"Nenek bisa makan nanti setelah Kanaya selesai. Kau juga harus makan biar bisa menemani Kanaya di sini." ucap nenek Rani yang tersenyum kecil ke arah cucunya, Gilang.
Malam kembali datang, Kanaya dan Gilang menjaga Rendy berdua di dalam kamar rawat Rendy. Kanaya terus memegang tangan Rendy agar anaknya bisa ingat padanya dan membuka mata untuk melihatnya.
"Biarkan dia istirahat, jangan terlalu mengganggunya." tegur Gilang yang melihat Kanaya bermain-main dengan tangan kiri Rendy.
"Aku sangat khawatir, benar-benar khawatir." kata Kanaya dengan tatapan sendu.
__ADS_1