Anak Bak Dewa

Anak Bak Dewa
S2: Peringatan Agar Sadar


__ADS_3

"Tolong! Tolong aku!" teriak lima anak yang sengaja diikat di gudang kosong. Salah satu gadis kenalan Rendy juga berada disana, namun wajahnya sangat berbeda dengan semua anak yang ketakutan. Dia terlihat lebih santai dan tidak masalah dirinya diculik.


Rendy mengamati eskpresi itu dari jendela gedung yang terbuka. Dia takjub beberapa saat, tidak mendapat wajah takut dari gadis itu. "Dia sepertinya tidak butuh bantuanku. Lagian, untuk apa juga aku membebaskan dirinya. Ayahnya pasti bekerja di perusahaanku dan termasuk musuh papaku. Biarkan saja kalau begitu!" ujar Rendy yang berbalik dan berjalan menjauh dari tempat itu. Belum sampai kakinya masuk ke dalam mobil, dia mendengar teriakan semua orang dari dalam gedung. Kepalanya menoleh cepat.


"Apa yang dia lakukan? Aku kan sudah memperingatkan untuk tidak melukai semua sandra. Hanya mengancam ayah mereka saja!" ucap Rendy sambil memegang kepalanya. Anak buah Alex begitu merepotkan baginya.


Namun sesuatu terjadi diluar dugaan dan pemikiran Rendy. Justru anak buah Alex terbanting jauh keluar dari gedung setelah mendapat dorongan kuat dari gadis kenalan Rendy.


"Ayo maju! Bukannya kau berencana menghabisi kami sampai membawa kami semua ke sini?!" bentaknya.


Mulut Rendy terbuka lebar, matanya melebar, tidak pernah membayangkan gadis aneh itu berhasil melumpuhkan satu anak buah Alex yang dilatih khusus. Rendy bahkan terkejut melihatnya. Dia meneguk ludah dan masuk ke dalam mobil agar tidak terlihat.


"Hei! Hentikan! Kami akan melukaimu jika kau berani melawan lagi!" teriak anak buah Alex yang langsung mengepung gadis itu.


"Tamat riwayatnya! Siapa suruh dia sok jagoan. Mungkin dia bisa melawan satu orang, tetapi kalau sudah dikepung, dia tidak akan bisa lolos dengan mudah." ucap Rendy mengamati dari dalam mobil.


Gadis itu tersenyum, memperlihatkan gigi putih yang bersinar. Dia menaikkan sebelah tangannya dan memainkan jarinya, menantang anak buah Alex terang-terangan.


"Lawan kalau berani! Aku lapor kalian ke polisi!" ucapnya dengan suara lantang dan ditekan. Anak buah Alex tidak membuang waktu, mereka menyerang bersamaan. Tidak butuh waktu lama, gadis itu sudah terkapar di atas tanah. Tubuhnya penuh lebam.


"Barusaja aku takjub, kini semuanya hilang. Dia tetap melawan meski tahu dirinya kalah. Sok banget anak orang kaya itu!" ujar Rendy yang mencibir.


Dari kejauhan, Rendy membunyikan klakson memberi peringatan pada anak buah Alex, tidak bermain kasar lebih jauh lagi. Mereka pun membawa gadis itu kembali ke dalam gedung dan mengikatnya dengan keras.

__ADS_1


Rendy menemui Alex di kafe khusus orang kaya. Ruangannya terpisah sehingga sangat aman membahas rahasia. Tidak akan ada yang bisa mendengarkan karena pengawasan restoran itu begitu ketat. Bahkan wc pun, di siapkan dalam satu ruangan agar orang dari ruangan sebelah tidak bisa mencari alasan untuk keluar.


"Bagaimana? Anak buahku bisa diandalkan bukan?" tanya Alex yang sibuk memainkan play game.


"Lumayan. Aku juga terkejut, gadis yang mereka curi hampir lolos." ujar Rendy yang membuang dirinya ke sofa.


"Gadis? Siapa?"


"Entahlah, dia sangat sombong karena orang tuanya kaya." Ujar Rendy mendegus kesal memikirkan tingkah gadis itu sejak pertama kali bertemu.


"Hati-hati, benci dan cinta itu beda tipis!" ujar Alex yang melempar permainannya dan berbalik menatap Rendy dengan wajah serius.


"Aku sudah mengirim pesan ancaman pada mereka. Sebentar lagi, mereka pasti merespon. Atau, sudah melapor pada polisi." Lanjut Alex.


"Belum satu hari anak mereka diculik, polisi tidak akan bergerak. Kecuali, jika mereka bisa mengendalikan polisi." jelas Rendy yang tersenyum smrik.


"Kau masih sama, belum berubah juga." ucap Rendy menggeleng kepalanya.


**


**


**

__ADS_1


Di kantor polisi, kakek tua berdiri dihadapan sepuluh polisi dengan kaki gemetar. Wajah anaknya yang penuh lebam membuatnya sangat khawatir. Dia segera mengambil tindakan agar polisi bisa melacak keberadaan anak tersayangnya.


"Bagaimana?" tanya saat sudah menunggu hampir dua jam.


"Sudah ditemukan, tetapi ada yang aneh. Lokasinya terus berpindah pada awalnya, tetapi kali ini malah menetap di sebuah tempat yang tidak jauh dari perusahaan tempat anda bekerja, Pak!"


"Apa? Cepat kerahkan anggota kalian untuk menemukan anakku. Jangan sampai, anakku semakin dilukai!" teriak kakek itu yang mengamuk di kantor polisi.


"Baik, Pak!" ucap mereka yang berlari pergi. Saat itu, ruangan polisi jadi sepi, tinggal kakek tua itu dan sekertarisnya.


"Pak, aku rasa ini peringatan. Mungkin, pak Gilang sudah tahu rencana kita." bisik sekertaris itu.


"Akhir ini, memang banyak yang terjadi. Tetapi, aku rasa itu bukan perbuatan Gilang. Anak bodoh itu, tidak mungkin melakukannya. Dia bahkan tidak curiga sampai menyuruhku mengatur keuangan perusahaan." ujar kakek tua itu.


"Pak Ahmad! Putri anda sudah ditemukan!" teriak salah satu polisi yang berlari memberitahu kakek tua itu yang ternyata bernama Ahmad.


"Benarkah? Syukur kalau begitu. Segera bawa dia ke rumah sakit dan rawat lukanya!"


"Tidak mungkin, Pak. Dia sudah tidak bernyawa." jelas pak polisi dengan kepala menunduk.


"Apa? Anakku sudah meninggal maksudmu? Tidak mungkin. Gadis, tidak akan pergi secepat itu!" ujar Ahmad yang berteriak histeris di tempat duduknya. Dia bangkit sambil menatap tajam petugas polisi yang berbicara padanya.


"Awas kau jika bohong! Aku bantai keluargamu!" ujar Ahmad yang amarahnya tidak terkendali. Dia mendorong petugas polisi itu terjungkir balik. Kemudian, segera keluar melihat ambulance datang membawa mayat seseorang.

__ADS_1


"Tidak mungkin! Gadisku tidak akan pergi secepat itu!" teriak pak Ahmad yang berlutut di depan mayat itu sebelum membuka kain yang menutupi wajah mayat.


"Menarik!" ucap Alex yang berdiri tidak jauh darisana.


__ADS_2