
Kanaya mondar mandir di depan rumah nenek Rani, menunggu anaknya pulang sekolah. Ketika melihat Rendy dan Alex kejauhan, Kanaya segera berlari menghampiri anaknya.
"Ren, gawat! Kita harus pindah sekarang juga." jelas Kanaya yang panik.
"Kenapa lagi sih, Ma? Papa masih bersedih, mana mungkin kita meninggalkannya?" ujar Rendy yang tidak setuju dengan ajakan mamanya.
"Ini bukan soal Gilang. Barusan, Alvin di tampar sama nenek Rani. Wajah Alvin sampai memar. Nenek Rani rupanya menakutnya juga." ucap Kanaya yang tidak habis pikir harus melihat kejadian seperti itu di depan matanya.
"Semua orang kalau sudah marah pasti menakutkan. Sama seperti mama, sering sekali berubah jadi monster." jelas Rendy sambil tersenyum.
"Ren, aku benar-benar takut sekarang. Kita harus segera kembali ke kosan lama. Atau pulang ke rumah nenek. Aku tidak mau di sini sampai keadaan di sini mulai membaik lagi." ujar Kanaya memohon pada anaknya.
"Rendy masih sekolah, Ma. Bagaimana kalau kita tinggal di kosan dulu sampai Rendy ada libur?" tawar Rendy.
"Boleh banget. Setuju kan?" ucap Kanaya dengan cepat merespon.
"Biasa mamaku, Lex. Kalau sudah panik dan takut, bawaannya kabur. Dia itu tidak bisa melawan dan lebih suka lari dari masalah." jelas Rendy yang menoleh ke arah Alex.
"Sama seperti papaku rupanya. Hanya saja, papaku mulai berani ketika bertemu mak lampir. Karena papaku harus melindungi mak lampir jahat itu." kata Alex yang menyinggung Friska.
Mereka bertiga lalu masuk. Kanaya membereskan pakaiannya dan memasukkannya ke dalam koper. Terlihat Rendy yang memperhatikan mamanya di temani Alex.
"Sudah semua, Ma?" tanya Rendy.
"Sudah." jawab Kanaya dengan singkat.
"Kalau begitu, kita tinggal tunggu papa pulang dulu baru pergi. Kasihan kalau kita tidak memberitahu papa." ujar Rendy dengan jelas.
"Oke."
Mereka bertiga duduk di sofa menunggu Gilang. Nenek Rani keluar dari kamarnya dan terkejut melihat koper di hadapannya. "Ini ada apa? Kenapa ada koper?" tanya Nenek Rani.
"Itu, Nek. Rendy mau pulang ke tempat kami semula. Katanya, dia sudah bosan tinggal di sini dan terus merepotkan nenek Rani." jawab Kanaya dengan cepat.
__ADS_1
"Loh, Kenapa seperti itu, Ren. Oma sangat senang kalau Rendy menginap di sini." ucap nenek Rani sambil berlutut di hadapan cucunya. Kanaya mengedipkan matanya, memberi kode.
"Maaf, Oma. Kapan-kapan Rendy mampir ke sini bermain. Boleh kan?" bujuk Rendy.
"Boleh banget. Tetapi Oma mau Rendy tetap tinggal di sini." mohon nenek Rani.
Di saat bersamaan, semua orang pulang kerja. Mizuki, Reyhan, dan Gilang langsung melotot melihat nenek Rani menangis.
"Ini tidak seperti yang kalian pikirkan. Nenek Rani menangis sendiri, bukan Rendy yang membuatnya menangis." jelas Kanaya mengira jika cucu nenek Rani akan salah paham.
"Loh, kenapa ada koper?" tunjuk Mizuki.
"Rendy tidak mau tinggal di sini lagi. Rendy mau pindah." kata nenek Rani dengan memurungkan dirinya.
"Serius, Ren? Kalau begitu, tunggu papa juga. Papa akan ikut kalian." ucap Gilang yang buru-buru masuk ke dalam kamarnya membereskan pakaiannya.
"Lah, kenapa semuanya pada mau pergi? Rumah ini kan belum di sita bank." sahut Mizuki dengan wajah murung. Reyhan tidak mengatakan apapun dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
"Sudah, Naya. Bawa dia ikut denganmu daripada menyusahkan di sini." sahut nenek Rani sebelum pergi.
Terpaksa Kanaya kembali ke kosannya ditemani dua pria yang hanya diam sambil menampilkan wajah dingin mereka.
"Ren, ini gimana? Kosan kita tidak ada kamar. Kita mau tidur di mana dan mereka juga?" tanya Kanaya sambil berbisik pada anaknya.
"Buat mainan penjara saja, Ma. Tadi, Rendy sempat menjenguk papa Alex di penjara dan mereka ada banyak di sana. Tetapi dengan sel berbeda. Kita tinggal menirunya." jelas Rendy memberi ide.
"Oke, bagus juga. Boleh di coba." ucap Kanaya.
Sesampai di kosan, Kanaya sudah berkali-kali memasang kunci berusaha membuka pintu, tetapi pintu kosan tak kunjung terbuka. Kunci Kanaya tidak mau terputar.
"Mungkin ibu kosan sudah mengganti kuncinya." sahut Rendy.
"Bisa jadi, kita tidak bayar uang sewa selama tinggal di rumah nenek Rani. Lalu, sekarang kita mau apa?" kata Kanaya yang mundur ke belakang menatap Gilang dan Alvin yang saling membelakangi juga.
__ADS_1
"Hubungi ibu kos dan bayar uang sewanya." sahut Gilang.
"Cari kosan lain saja yang lebih luas dari ini." kata Alvin memberi ide.
"Pantas kamu di bodohi. Masa masalah kecil saja sudah membuatmu kabur. Tinggal bicara dengan ibu kos, masalah ini sudah selesai." sahut Gilang yang memarahi Alvin.
Alvin berbalik menghadap Gilang. Dia tiba-tiba menangis sambil menundukkan kepalanya. "Kak Gilang, aku minta maaf. Aku merasa bersalah dan semakin bersalah saat tahu perusahaan kak Gilang sudah tidak bisa di perbaiki lagi." ujar Alvin.
"Jadi, Kau sudah bangkrut, Lan?" ucap Kanaya terkejut. Dia pikir, Gilang bisa mengatasinya.
"Sudah. Kenapa, tidak suka dengan laki-laki miskin?" jawab Gilang.
"Aduh. Jadi, aku yang harus menampungku sekarang. Aku sebenarnya tidak masalah sih, Rendy punya uang banyak di tabungannya." kata Kanaya yang kembali merasa lega saat teringat dengan tabungan anaknya.
"No, Ma. Uang Rendy sudah habis." sahut Rendy.
"Masa sudah habis? kamu belanjakan apa? Mama lihat, kamu tidak membeli apapun." kata Kanaya sambil menoleh menatap anaknya.
"Rendy investasikan semuanya. Semoga nanti bisa membantu papa membuat perusahaan baru." ucap Rendy menjelaskan.
"Apa? Tidak ada yang tersisa untuk mama? Semuanya Rendy tabungkan untuk Gilang?" tunjuk Kanaya pada Gilang dengan tatapan melotot ke arah Rendy.
"Benar." jawab Rendy singkat sambil tersenyum. Gilang tersenyum puas melihat anaknya yang sangat peduli dengan dirinya.
"Aduh! Lalu, kita dapat uang dari mana?" ucap Kanaya yang ingin menangis. Dirinya sampai pusing mendadak tidak punya uang.
"Pantas ibu sering sekali marah kalau tidak punya uang. Sekarang, aku juga merasa marah." kata Kanaya dengan suara perlahan.
"Kalian bertiga, jangan tidur di dalam. Cari tempat lain saja, aku tidak mau mengurus kalian. Tidak ada yang bisa di andalkan, termasuk kamu si kecil. Berani sekali membuang semua uangmu tanpa memberitahu aku dulu." ucap Kanaya yang kecewa berat.
"Memangnya, mama bisa masuk? Tidak juga kan. Lebih baik kita tunggu ibu kos datang san membukakan pintu. Baru kita masuk bareng." usul Rendy.
"Tidak boleh. Kalian bertiga tidur di luar! Itu hukuman karena aku tidak punya uang." kata Kanaya dengan tegas. Rendy sampai tidak berani bicara melawan mamanya jika sudah berubah menjadi singa.
__ADS_1