
Kanaya membawa kembali anaknya ke desa, dia sudah tidak mau lagi tinggal di kota yang hanya akan membuat Kanaya kesal dan khawatir. Bagaimana tidak, Rendy sudah hampir tiga kali mati paksa.
"Ma, bagaimana dengan papa?" tanya Rendy dengan wajah cemas.
"Kakimu sudah sembuh? Apa perlu aku buat kau tidak bisa berjalan?" ucap Kanaya mengancam anaknya. Tatapan Rendy menjadi sedih, dia mengalihkan pandangannya, ke arah lain dengan wajah cemberut sambil menoleh ke arah lain sambil melipat kedua tangannya. Kanaya tahu anaknya kesal, namun dia malah membiarkannya.
"Rendy, kau tahu alasan kita pulang?" tanya Kanaya dengan suara perlahan.
"Tahu kok, Ma. Ada tempe kan?" ujar Rendy masih dengan pandangan polos.
"Sudahlah, tidak baik aku terus marah-marah denganmu. Nanti sampai di rumah nenek, kamu malah mengadu." Ujar Kanaya yang tidak mau lagi melanjutkan perkataan dirinya dan Rendy.
Selama lima jam perjalanan, Kanaya dan Rendy hanya tertidur. Baru ketika mereka sampai, wajah dua orang itu terkejut setengah mati. Rupanya, diam-diam Gilang mengikuti mereka dengan mobilnya. Gilang lalu turun bersama Alvin. Wajah Rendy berbinar.
"Pa, ke sini. Ini rumah mertua papa!" teriak Rendy memberitahu.
"Oh, rupa mertua. Biasanya itu menakutkan loh, kalau pertama kali datang. Apa perlu aku berikan kamu nafas buatan, Lan?" goda Alvin yang sedikit bercanda.
"Tubuhku masih sakit, kamu sudah mengajakku berkelahi. Tunggu sampai aku sembuh." Balas Gilang yang melirik Alvin dengan tatapan tidak suka. Lalu mengalihkan pandangannya dan tersenyum ke arah Kanaya dan Rendy yang tepat berada di hadapannya.
"Sejak kapan kau mengikuti kami?" tanya Kanaya yang melototi Gilang.
"Sabar, calon istri. Kau sepertinya tidak sabar menikah denganku." Balas Gilang dengan candaan.
"Benarkah? Apa kau pikir, pintu rumahku terbuka untukmu?" titah Kanaya yang kesal. Kanaya lebih dulu masuk ke rumah ibunya sambil menutup rapat pintunya kembali.
"Ya ampun, aku baru ingat. Rendy kelupaan." Ujar Kanaya sambil memukul jidatnya sendiri.
"Tenang, Pa. Sebentar lagi pintunya bakal di buka, aku kan masih di luar." Ucap Rendy meyakinkan papanya. Anak genius ini, bisa di andalkan. Entah mengapa, dirinya selalu saja berpihak pada Gilang daripada Kanaya.
Ceklek..
Pintu terbuka lebar, namun tidak ada siapapun yang membukanya. Kanaya sepertinya langsung kabur setelah membukanya.
__ADS_1
"Ayo masuk, Pa, Uncle Alvin." Ujar Rendy memanggil tamunya masuk.
Di ruang tamu, Kanaya duduk sambil menatap satu per satu orang di hadapannya. Mereka masih berempat, nenek Rendy belum pulang dari kebun.
"Nenek bakal terkejut, Ma. Lihat kita mendadak pulang tanpa pemberitahuan." Kata Rendy sambil duduk di samping mamanya.
"Kenapa kau duduk di sini? Geser tubuhmu sedikit. Kau itu selalu tidak sependapat denganku." Ujar Kanaya yang masih kesal. Wajah masamnya terus saja terlihat.
"Mama tidak menghargai tamu sekali. Papa dan Uncle Alvin tamu di sini, mereka raja. Jangan tampilkan wajah seperti itu, Ma. Nanti rezeki mama jadi pudar." Jelas Rendy terang-terangan.
"Good, Rendy." Ucap Alvin menambahkan. Gilang hanya memberi jari jempol, setuju dengan perkataan anak tersayangnya.
"Huff, aku harus bersabar. Maklum sudah tua, punya anak satu." Kata Kanaya sambil mengelus dadanya, menenangkan dirinya yang di balut emosi.
Menjelang sore, Ibu Kanaya baru pulang. Dia terkejut melihat pintu rumahnya terbuka dan terdapat sebuah mobil sedan hitam yang terparkir di depan rumahnya.
"Ini mobil siapa? Anak pejabat?" Tanya Ibu Kanaya sambil terus memperhatikan.
"Tunggu sebentar, Bu. Biar aku pastikan, itu benar Kanaya atau bukan." Kata Ibu Kanaya yang tidak ingin membuat salah paham tetangganya.
"Rendy! Kau ada di dalam?" Teriak ibu Kanaya. Yang keluar malah dua orang laki-laki yang tidak mereka kenal.
"Ya ampun, siapa mereka. Apa rumahku di masuki pencuri?" Tanya Ibu Kanaya sambil terkejut. Begitupun dengan para tetangga.
"Bu, tangkap pencurinya. Berani sekali dia mencuri di rumah ibu. Jangan-jangan, ini juga mobilnya. Kempeskan ban mobilnya segera, biar dia tidak bisa kabur!" Teriak para tetangga.
Gilang dan Alvin malah saling berpandang. Mereka tidak mengerti, siapa yang dikatakan pencuri.
"Halo, nenek. Rendy pulang!" Sahut Rendy dari balik jendela kamarnya.
"Rendy?"
Semua orang menatap Rendy dengan wajah bingung. Mereka sampai bertanya, apa yang terjadi sebenarnya.
__ADS_1
"Rendy bawa menantu untuk nenek. Kenalkan, dia papa Gilang, yang barusaja bangkrut." Ucap Rendy memperkenalkan Gilang pada neneknya.
"Apa perlu harus diberitahu juga kalau aku sudah bangkrut?" Bisik Gilang yang malu.
"Jujur itu jauh lebih penting, Pa." Balas Rendy menasehati.
"Wah, menantu. Jangan-jangan, dia pacar Kanaya. Wah, hebat. Kanaya dapat jodoh orang kaya di kota. Buktinya, mobilnya mewah sekali. Jarang loh, ada yang punya mobil di desa ini." Timpah ibu-ibu yang pada kepo.
"Rendy, bisa kamu jelaskan pada nenek? Dan dimana mamamu, tolong suruh dia keluar menemui nenek." Perintah ibu Kanaya dengan wajah dingin.
Rendy segera berlari masuk ke dalam rumah, namun Kanaya malah bersembunyi di balik pintu kamarnya.
"Kamu sih, bicara asal-asalan di depan tetangga. Satu desa bakal heboh. Banyak cctv di sini, Ren. Cctv yang bisa bicara." Ujar Kanaya yang kesal dan semakin kesal melihat anaknya.
"Jadi, mama tidak mau keluar? Baiklah, Rendy lapor pada neneknya." Kata Rendy yang kembali berlari keluar.
Para tetangga menunggu sambil memperhatikan calon papa Rendy. Dia lalu melirik Alvin yang berdiri mematung di belakang Gilang.
"Lalu, itu anak kamu? Wah, kamu seorang duda kaya?" Tunjuk para tetangga. Matanya memang besar sampai melihat Alvin.
"Duda sekarang itu lebih hebat, Bu. Lagian, Kanaya juga janda, sudah punya anak satu. Anehnya, calon suaminya kok, wajahnya semakin tampan padahal sudah punya anak besar yang hampir seusia dengannya." Kata mereka yang malah tersenyum membahasnya.
Nenek Rendy terus saja menghela nafas kasar. Dari wajahnya, bisa dilihat dirinya tampak kesal. Tangannya sampai memijat pelipisnya.
"Nek, mama tidak mau keluar. Katanya, banyak cctv berbicara di sini." Lapor Rendy dengan sangat detail.
Ibu Kanaya terpaksa masuk dan menutup pintu, menyelesaikan masalah keluarganya secara baik-baik.
"Kalian berdua, duduk tenang. Aku panggil Kanaya dulu. Anak itu, benar-benar..." ujar nenek Rendy sambil berjalan masuk menemui Kanaya.
Tok.. Tok.. Tok..
"Kalau kamu tidak buka pintunya sampai tiga, aku ledakkan kamarmu!" Teriak ibu Kanaya yang sampai suaranya terdengar di ruang tamu. Alvin dan Gilang saling menatap dan meneguk ludahnya masing-masing. Calon mertua memang sangat menyeramkan saat pertama kali datang.
__ADS_1