Anak Bak Dewa

Anak Bak Dewa
80. Menjadi Mainan


__ADS_3

Dirgantara berhasil tertembak bersama dua anak buahnya. Dan yang satu tembakan mengenai nenek Rani. Gilang ingin berteriak keras, namun mulut terasa kaku melihat tubuh neneknya yang mengeluarkan darah perlahan.


"Ne... Nek.... Nenek!" teriak Gilang.


Door.. Door..


Tembakan kembali terdengar. Susah payah, Gilang melepas kedua tangannya dan menarik Rendy bersembunyi di balik tembok. Tubuh neneknya terlentang di lantai bersama tiga orang lainnya. Tangan Gilang terkepal keras. Dia mencoba mengintip, mencari dimana asal tembakan ini.


"Sial, lagi-lagi ini jebakan. Alvin belum bergerak juga." Kata Gilang yang menunggu sepupunya itu.


Saat masih berada di kosan, Gilang dan Alvin bingung memecahkan masalah pesan yang di terima ponsel Gilang.


"Aku rasa, ini pesan ancaman. Orang itu bermaksud menculik Kanaya." kata Alvin dengan santai, tidak mau berpikir lebih jauh lagi.


"Benarkah? Kalau begitu, Kanaya sudah berada di tangannya. Apa yang harus aku lakukan biar tahu siapa penculiknya?" tanya Gilang.


"Kenapa kau tidak menjadikan dirimu alat pancing?" tanya Alvin yang membuat Gilang mendapat ide.


"Benar juga. Pasti ada alasan, kenapa mengirim pesan padaku juga." Ucap Gilang yang tersenyum. Gilang lalu membalas pesan itu dan mengirim lokasinya. Alvin bersembunyi dan mengikuti Gilang saat anak itu di bawa pergi. Demi menjaga keamanan bosnya, anak buah Dirgantara memukul Gilang keras terlebih dulu sehingga tidak bisa melawan nantinya.


Dreet.. Dreet.. Dreet..


Ponsel dari saku Gilang berdering. Ini ponsel satu-satunya yang berhasil dia sembunyikan.


"Kau ada dimana sekarang? Aku di serang, cepat bantu aku." titah Gilang.


"Aku tahu. Aku tidak jauh dari rumah Dirgantara dan mencari orang itu." Jawab Alvin dari seberang telepon.


"Kenapa lama sekali? Tubuh nenek sudah mengeluarkan banyak darah. Bergerak cepat, jangan seperti kura-kura." ujar Gilang yang masih kesakitan.


Orang suruhan Rama berhasil melihat pergerakan dari monitornya. Dia dengan cepat mengarahkan pistolnya ke arah Gilang.


Dooor..


Alvin tidak mendengar ocehan Gilang lagi. Dia sampai panik dan tidak tahu harus melakukan apa. Meminta bantuan pada anak buah Gilang, itu tidak mungkin. Mereka semua sudah tahu, keluarga Gilang bangkrut.

__ADS_1


"Reyhan, aku baru ingat." ujar Alvin yang tiba-tiba memikirkan Reyhan. Dia lalu mengirim pesan pada Reyhan dan lokasinya. Setelah itu, mencari orang yang menembak ke arah Gilang.


"Dasar sialan! Hentikan!" teriak Alvin saat melihat orangnya. Alvin berlari cepat menghampiri orang itu. Orang yang mirip bapak-bapak itu, tidak siap dengan kedatangan Alvin hingga pistolnya yang di arahkan ke rumah Dirgantara terjatuh.


"Hei, kembali ke tempatmu. Kau tidak punya urusan di sini." protesnya.


"Tentu saja, aku punya urusan. Kau melukai keluargaku." Ujar Alvin yang menyerang membabi buta.


Di saat bersamaan, Polisi datang bersama Reyhan dan Mizuki. Reyhan lalu membantu Alvin memangkap pelakunya. Sementara Mizuki, masuk melihat kondisi nenek Rani. Dia tidak bisa berkata dan hanya menutup mulutnya karena terkejut.


"Bawa mamaku ke rumah sakit." perintah Mizuki.


Setelah nenek Rani selesai di urus, Mizuki menghampiri tubuh Gilang yang penuh darah. Sementara Rendy belum sadarkan diri. Mizuki di bantu Reyhan, membawa Gilang dan Rendy ke rumah sakit. Tidak lupa, Dirgantara dan dua anak buahnya pun di bawa ke rumah sakit.


Malam harinya, Rama menunggu respon anak buahnya. Setelah mendapat telepon, wajah senangnya berubah menjadi menyeramkan.


"Sial, kenapa gagal lagi?" ujar Rama yang kesal.


"Friska! Ke sini cepat!" teriak Rama memanggil adiknya.


"Kau tahu kan, pin rumah nenek Rani. Kau pernah datang ke sana berkali-kali." ujar Rama.


"Kenapa, Kak?" tanya Friska dengan wajah serius.


"Ambil sertifikat rumah nenek Rani, lalu gadaikan. Dengan begitu, satu keluarga itu tidak akan mampu membayar biaya rumah sakitnya." Ujar Rama dengan tegas sambil tersenyum licik. Dia kembali menarik ponselnya, memberi perintah pada anak buahnya untuk mengambil tas Rendy yang berisi uang itu.


"Uang Rendy habis, atm dan mobil Gilang sudah di sita. Tinggal rumah mereka yang kemungkinan akan di jual untuk menebus biaya rumah sakit mereka." jelas Rama yang semakin sangat senang.


**


**


**


Kanaya bergegas ke rumah sakit saat tahu anaknya berada di sana. Wajahnya tampak bingung, melihat kondisi Rendy yang memprihatinkan.

__ADS_1


"Kau apakan lagi anakku, ha?" teriak Kanaya yang memarahi Alvin.


"Lah, kenapa aku yang di tuduh." Protes Alvin.


"Kau kan ada di sini. Apa yang terjadi dengan Rendy? Kau memukulnya sampai dia tidak sadarkan diri?" tanya Kanaya dengan mata melotot.


"Mana berani aku melakukannya. Aku tidak akan di biarkan hidup oleh Gilang." Jawab Alvin.


"Ya ampun, Rendy. Kenapa kau terus saja dalam bahaya, Nak. Apa kita salah bertemu dengan keluarga pembawa sial ini?" kata Kanaya sambil menangis.


"Hei, siapa yang kau katakan, keluarga pembawa sial. Bukannya kalian yang membawa sial pada kami. Sejak kalian datang, kami selalu saja di serang dari berbagai arah." Bantah Alvin yang malah menyalahkan Kanaya.


"Kau, keluarga pembawa sial. Sebelum kami bertemu dengan keluargamu, hidupku dan Rendy baik-baik saja!" titah Kanaya dengan suara tinggi seperti harimau yang kelaparan. Alvin tanpa berani berkata lagi atau membela diri.


Dokter langsung masuk memeriksa kondisi Rendy. "Bu, pak. Kalian tenang saja, anak kalian baik-baik saja. Dia hanya terbawa pengaruh obat tidur. Itu tidak bagus untuk dirinya yang masih kecil." jelas Sang dokter.


"Salah, Dok. Aku bukan bapaknya." sahut Alvin meluruskan kesalah pahaman.


"Aku ibunya yang benar, Dok. Sementara dia, tulang pembawa sial, dok. Boleh tidak, dia segera pergi?" ujar Kanaya dengan mata sembab.


"Aku langsung pergi tanpa di suruh. Aku lebih baik menjenguk Gilang. Asal kau tahu saja, aku di suruh Gilang buat menjaga Rendy di sini. Tetapi, karena sudah ada kau, jadi aku pergi saja." jelas Alvin yang berjalan terburu-buru.


"Dia selingkuhan, mbak?" tanya ibu dokter yang membuat Kanaya menatapnya tajam.


Sementara di ruang rawat Gilang, Gilang terbangun mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya.


"Loh, kamu kok ada di sini. Yang jaga Rendy, siapa?" tanya Gilang yang khawatir.


"Ada singanya di sana, tidak ada orang yang akan berani masuk." jawab Alvin dengan wajah murung.


"Kau habis bertengkar lagi dengan Kanaya?" tanya Gilang yang paham.


"Hemm. Dia mengatai kita keluarga pembawa sial. Aku tidak terima dan mengatainya balik."


"Aku rasa, seseorang sedang bermain dengan kita. Dia pasti cukup senang saat tahu kita berada di rumah sakit sekeluarga." Kata Gilang dengan tatapan sulit di artikan.

__ADS_1


__ADS_2