Anak Bak Dewa

Anak Bak Dewa
75. Kehancuran Di Depan Mata


__ADS_3

Sinar matahari perlahan menyinari wajah Rendy. Anak kecil yang terbaring di depan pintu seketika bangun. Dia menarik sakunya dan mengeluarkan kunci ruang kerja papanya.


Klek..


Setelah pintu tidak terkunci, Rendy menarik pintunya membuat dua orang bersandar terjatuh ke belakang.


Brak.. Brak..


Tubuh Kanaya dan Gilang terbanting ke lantai. Kedua mata Kanaya langsung terbuka. Mulut Rendy hanya termenganga.


"Mama dan papa kenapa tidur di sini?" tanya Rendy yang terkejut.


Kanaya bangun dan langsung menarik kuping Rendy. Anak itu tidak menjerit, karena memang tidak sakit. Kanaya hanya memegangnya perlahan.


"Kau sudah lupa? Siapa orang yang membuat kami berdua menginap di sini?" tunjuk Kanaya.


"Maksud Rendy bukan seperti itu. Mama dan papa berbaring di lantai sambil berpelukan. Bukan tidur sambil bersandar di pintu." jelas Rendy.


"Anak kecil mau juga mengajari orang dewasa. Kepalaku hampir pecah karena ulahmu." teriak Kanaya yang menghela nafas kasar sebelum menangkap anaknya.


Rendy yang sadar, segera berlari pergi dengan cepat. Masuk ke dalam kamar mandi dengan pintu yang di banting.


"Hei, anak kecil! Jangan kabur." teriak Kanaya.


Di ruang meja makan, suasanan sangat sepi. Semua orang memilih diam dan tidak banyak bicara. Kanaya dan Rendy saling menatap sambil memberi kode.


Tiba-tiba nenek Rani meletakkan sendoknya dan menatap Alvin dengan datar. Rendy dan Kanaya kembali duduk tenang menghadap depan.


"Vin, nenek mau bicara denganmu." ucap nenek Rani yang langsung bangkit dengan segera.

__ADS_1


Alvin bergerak cepat menyusul neneknya. Mizuki, Reyhan dan Gilang masih menikmati makannya tanpa suara apapun. Mereka terlihat tidak peduli dengan Alvin lagi.


"Eehhmm.. Eehmm.." ucap Kanaya memberi kode pada anaknya.


"Tenggorokan mama sakit? Minum air dulu, Ma." kata Rendy sambil menyodorkan segelas air minum pada Kanaya.


"Tenggorokan mama sangat sakit. Kamu boleh kan ikut mama sekarang? Mama bisa pingsan di sini." bisik Kanaya sambil menarik tangan Rendy pergi dari sana. Tidak ada yang menyahut baik itu Gilang maupun Mizuki. Mereka semua masih betah terdiam.


"Mereka benar-benar aneh, Ren. Dari tadi mulutnya tidak terbuka kecuali hanya untuk makan saja." keluh Kanaya yang tidak suka suasana di rumah nenek Rani begitu sepi dan hampa seperti tidak akur satu sama lain.


"Mungkin mereka semua lagi pusing mikirin perusahaan papa yang sudah bangkrut mama. Kita harus mengerti." kata Rendy.


"Ala, aku tidak mau lagi tinggal di sini. Masa seperti itu saja sampai membuat mereka aneh sekali. Kita sebaiknya kembali di kosan lama." ajak Kanaya yang merasa hidup bebas di kosannya sendiri.


"Ish, mama ini. Papa lagi sedih, kita berdua harus berada di sampingnya menghiburnya. Bukannya malah meninggalkan mereka. Itu namanya keluarga tidak setia." kata Rendy mengingatkan Kanaya.


Setelah Kanaya dan Rendy melewati lorong ke ruang tamu, tiba-tiba mereka mendengar suara tamparan yang sangat keras. Langkah kaki ibu dan anak itu langsung terhenti dan mencari sumber suara itu.


"Bodoh kamu, Vin. Kamu tidak peduli dengan keluargamu sendiri. Perusahaan yang di kelolah Gilang adalah pengorbanan orang tua kamu juga. Pengorbanan kakek kamu, orang tua Gilang, orang tua Reyhan, dan orang tua kamu. Mereka semua mati di bunuh demi perusahaan itu tetap atas nama mereka. Nenek memilih Gilang yang mengurusnya karena hanya dia yang mampu mempertahankannya. Tetapi apa, kau menusuk sepupumu sendiri." jelas nenek Rani dengan mata yang sendu.


"Maaf, nek. Aku hanya ingin balas dendam dengan mantan pacarku. Tetapi, mereka juga membodohiku." jelas Alvin dengan kepala yang menunduk.


"Kau harus tanggung jawab. Nenek sudah bilang pada Gilang untuk membawa kasus ini ke penjara. Karena Gilang tidak tahu apapun kerja sama kamu dengan mereka, maka Gilang bisa menuntuk. Kau harus siap menerima hukumannya." kata nenek Rani.


Mulut Kanaya membulat. Dia langsung menarik Rendy bersembunyi di balik sofa ruang tamu. "Ren, nenek Rani tidak berpikir ingin memenjarakan Alvin kan?" tanya Kanaya.


"Kenapa tidak? Uncle Alvin sudah salah jadi harus bertanggung jawab." jawab anaknya.


"Tidak boleh. Alvin adalah bagian dari keluarga ini. Masa harus berkoban demi perusahaan. Apa seperti itu hidup di kota, yang di pikirkan bukan keluarga melainkan uang." ucap Kanaya yang menjadi takut. Dia dan Rendy berurusan dengan keluarga yang salah.

__ADS_1


"Kalau sampai aku membuat kesalahan di sini dan berurusan dengan perusahaan mereka, bisa-bisa aku juga di penjara. Mereka pasti akan menuntuk. Sudahlah, aku tidak mau. Aku mau pulang ke rumah ibu." ucap Kanaya.


"Mama sangat khawatir berlebihan. Tenang saja, Ma. Rendy tidak akan membiarkannya yang jelas mama mau menurut pada Rendy. Jangan sampai ikut campur masalah perusahaan papa. Oke?" kata Rendy dengan santai. Kanaya ingin sekali memukul anaknya yang tidak pengertian.


Di sekolah, Rendy mengumpulkan semua buku tentang bisnis. Alex menjadi bingung. Rendy yang genius rupanya butuh buku juga.


"Ren, mau berbisnis?" tanya Alex.


"Hemm. Aku mau membantu papa." ucap Rendy.


"Iya, aku baru tahu juga. Perusahaan papa kamu bangkrut. Sebentar lagi keluargamu akan menjadi miskin. Tetapi, jangan khawatir. Jika keluargamu butuh uang boleh pinjam padaku saja. Aku masih punya uang walau papaku berada di penjara." tegas Alex membanggakan dirinya.


"Bagaimana caranya papamu mencari uang di penjara?" tanya Rendy sambil membawa bukunya ke depan petugas perpustakaan.


"Entahlah. Mungkin papaku di sogok oleh seorang agar tetap berada di penjara." ujar Alex yang bingung sendiri.


"Kalau aku jadi papamu, jelas aku tidak mau. Tidak ada apapun yang bisa di lakukan di penjara. Benar bukan?" tanya Rendy yang berjalan keluar setelah berhasil meminjam buku.


"Benar. Aku juga tidak senang papa tidak ada di rumah. Harus bagaimana lagi?" ucap Alex dengan wajah sedih mengingat papanya yang terkurung.


"Sepulang sekolah, aku antar kamu menemui papamu. Biar nanti kalian bisa melepas rindu." Bujuk Rendy. Wajah Alex seketika berseri. Itu yang memang dia inginkan.


"Oke, janji yah." ucap Alex sambil menarik tangan kelingking Rendy.


Di tempat lain, seseorang tersenyum puas membaca laporan yang di berikan sekretarisnya. "Jadi, dia akhirnya bangkrut juga. Baguslah, ini kesempatan bagi Friska untuk beraksi. Gilang tidak akan punya pilihan selain menerima bantuan Friska." ucapnya yang tersenyum.


"Benar banget, Bos. Ada untungnya juga kita bayar mantan pacar Alvin agar membodohinya. Alvin orangnya memang mudah kita tipu yah." sahutnya merendahkan.


"Aku tidak sabar melihat kehancuran keluargaku sendiri. Siapa suruh berani melantarkan aku. Akan aku tunjukkan pada nenek jika aku bisa bertahan hidup tanpa bantuannya sama sekali. Dia juga harus bertekuk lutut di hadapanku sambil menangis darah. Ha ha ha."

__ADS_1


__ADS_2