Anak Bak Dewa

Anak Bak Dewa
Bab 54. Kebusukan Ramadhan


__ADS_3

Di rumah nenek Rani, Kanaya duduk sambil menyalakan tivi. Kanaya lalu melihat-lihat siara yang dia sukai. Ketika menemukannya, Kanaya melepas remot tivi di atas meja dan menoton dengan wajah serius. Tiba-tiba muncul berita tentang kebakan di kafe Wins. Kanaya pun mulai panik saat melihat video rekaman dimana Rendy terlihat muncul di sana.


"Rendy!" teriak Kanaya dengan keras membuat nenek Rani dan Reyhan segera keluar dari kamar mereka dan menghampiri Kanaya di depan tivi.


"Ada apa, Kanaya. Kau berteriak begitu keras?" tanya nenek Rani yang menatap wajah Kanaya. Reyhan pun terlihat serius menatap Kanaya, tetapi pandangan Kanaya fokus ke depan membuat Reyhan melirik tivi sekilas. Reyhan di buat terkejut dengan video layar tivi.


"Itu kan kafe Wins, terjadi kebakaran di sana. Apa Rendy baik-baik saja?" tanya Reyhan sambil menunjuk ke depan membuat nenek Rani ikut melihatnya.


"Kenapa kau hanya diam, cepat datang ke sana dan selamatkan cicit tersayangku." ucap nenek Rani sambil menepuk pundak Reyhan dengan keras. Kanaya berlari lebih dulu keluar dari rumah nenek Rani. Dia menaiki taksi yang kebetulan lewat.


Lima menit kemudian, Kanaya melihat berhasil sampai di depan kafe wins dimana mobil polisi dan mobil pemadam kebakaran sudah berada di sana mencoba menghalau api yang terus menyebar.


"Pak, apa anakku sudah keluar dari dalam?" tanya Kanaya pada salah satu petugas pemadam yang berdiri tidak jauh darinya.


"Siapa anak anda dan dimana lokasinya? Kalau dilantai dua, aku rasa dia belum turun. Kami baru berusaha memandamkan api yang berada di tangga dan lift juga tidak bisa di gunakan." jelas sang pemadam.


"Ya ampun, Rendy." Ucap Kanaya dengan tangan menutup mulutnya. Dia tidak menyangka lagi-lagi anaknya terjebak masalah besar.


Setelah melihat semua orang yang baru keluar dari kafe wins dan Rendy tidak ada di sana, Kanaya menerobos masuk membuat semua orang meneriakinya.


"Jangan masuk, bahaya!"


"Hei, jangan coba-coba bunuh diri. Di dalam sangat bahaya!"


Kanaya tidak peduli dengan teriakan warga, dia tetap berlari masuk dan menaiki tangga meski api berada di sekelilingnya. "Rendy, tunggu aku. Aku pasti datang menyelamatkanmu." ucap Kanaya yang tetap fokus melangkah menaiki tangga dan berusaha menghindari serpihan kayu yang terbakar.


Di lantai dua, ratusan orang masih berkerumun menunggu tim penyelamat. Rendy yang sudah tidak sadarkan diri, tergeletak di lantai tanpa ada orang yang peduli. Tiba-tiba tangan seseorang menarik kaki Rendy dan membawanya ke tempat aman, yang belum dilahap api.

__ADS_1


"Hei, anak nakal. Cepat bangun, baru segini sudah pingsan. Cepat lawan aku seperti tingkah yang sangat berani ketika bersama ibumu." ucap orang itu yang memukul pipi Rendy berkali-kali untuk bangun.


Rendy membuka matanya perlahan, mencoba melihat siapa orang yang berada di hadapannya. Rendy lalu mengucak matanya untuk memastikannya. "Paman?" tanya Rendy setelah yakin apa yang dilihatnya adalah benar Ramadhan.


"Kenapa? Kau terkejut?" ucap Ramadhan dengan pandangan tidak suka pada Rendy.


"Cukup mudah menghilangkan dirimu dari dunia ini, tetapi kenapa kebanyakan orang tidak bisa melakukannya sampai aku yang harus turun tangan?" ucap Ramadhan yang tersenyum kecut pada Rendy.


"Apa maksud, paman?" kata Rendy dengan suara perlahan. Energinya belum pulih sepenuhnya.


"Kau mau tahu? Kau ingat kenapa kau datang ke sini? Aku yang memanggilmu dan sekarang kau malah terjebak dalam kebakaran ini yang akan melahap tubuhmu sebentar lagi. Kau tahu juga jika aku yang membuat kebakaran ini?" ucap Ramadhan sambil berdiri dan mondar mandir di depan Rendy.


"Apa paman ingin membunuhku di sini?" tanya Rendy yang mengerti maksud Ramadhan.


"Iya, kau benar. Aku ingin membunuhmu, tetapi tidak menggunakan tanganku. Bisa-bisa polisi menganggap kasus ini sebagai pembunuhan jika aku melakukannya. Jadi aku membuat kebakaran dan polisi pun tidak akan curiga jika ada orang yang sengaja membunuhmu." ucap Ramadhan tersenyum manis kepada Rendy.


"Kenapa? mau protes, mengeluh atau tidak terima? keluarkan semuanya karena nanti kai juga sudah tidak ada di dunia ini. Aku akan merebut ibumu dari gengamanmu." ucap Ramadhan yang tertawa terbahak-bahak. Dia puas dengan dirinya yang berhasil menjebak Rendy.


Ramadhan lalu menarik tangan Rendy dengan paksa, mengangkat tubuh mungil Rendy bersiap membuangnya ke dalam kobaran api. Tetapi, suara Kanaya membuat Ramadhan terhenti. Dia dengan cepat menurunkan Rendy, takut jika Kanaya melihatnya.


"Senior!" teriak Kanaya.


"Ya ampun, Rendy. Kau baik-baik saja? Apa ada yang sakit?" ucap Ramadhan sok peduli sambil memeriksa tubuh Rendy.


"Sudahlah senior, aku sudah tahu semuanya. Kau benar-benar tega dengan anak kecil sampai berniat ingin membakar anakku sendiri, aku tidak akan memaafkanmu." ucap Kanaya dengan wajah memerah, menandakan dirinya sedang marah.


Ramadhan kaget, rupanya Kanaya mendengar semua perkataannya tadi. Ramadhan pun kembali menarik tubuh Rendy yang lemas dan mundur perlahan, semakin menjauhi Kanaya.

__ADS_1


"Senior, lepaskan anakku! Jangan macam-macam, aku bisa membunuhmu jika kau sampai melukainya!" ancaman Kanaya sambil menunjuk wajah Ramadhan dengan mata melotot.


"Kau sudah tahu semuanya, buat apa aku melepas Rendy. Lebih baik rencanaku dari awal tetap aku jalankan. Benarkan?" ucap Ramadhan.


"Kau gila?" teriak Kanaya tidak terima.


"Iya, aku sudah gila karena anak ini. Aku selalu berusaha mendekatimu tetapi anakmu ini selalu saja menghalangi diriku. Aku pun tidak tahan lagi dan ingin membunuh Rendy. Aku merencana semua kebakaran ini untuk membunuh Rendy!" teriak Ramadhan dengan keras membuat Kanaya semakin panik. Terlihat jelas jika Ramadhan begitu nekad melakukannya.


"Senior, jujur aku sangat mencintaimu. Tetapi, aku berusaha menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkannya. Aku juga ingin menyakinkan Rendy jika dirimu itu sangat baik. Jadi, tolong jangan lakukan itu." ucap Kanaya yang berusaha mencegah Ramadhan yang ingin melempar tubuh Rendy ke kobaran api yang tidak jauh darinya.


"Ma.. Ma.." ucap Rendy dengan suara perlahan sekali. Dia seolah tidak punya tenaga memberontak dan berbicara. Dirinya kali ini benar-benar lemah.


"Senior, aku mohon dengan sangat padamu. Tolong lepaskan, Rendy. Dia tidak salah." ucap Kanaya memohon-mohon berusaha membujuk Ramadhan.


"Tidak akan, aku akan bawa Rendy pergi untuk selama-lamanya. Kau sebaiknya menjauh dariku dan pergi selamatkan dirimu sendiri." ucap Ramadhan sebelum melompat ke kobaran api bersamaan dengan Rendy.


Kanaya berteriak histeris, dia pun ingin melompat menyelamatkan Rendy tetapi Reyhan berhasil sampai dan menahan Kanaya. "Jangan melompat ke sana, tubuhmu bisa terbakar!" ucap Reyhan.


"Tetapi, Rendy..." Kanaya tidak kuat berdiri sampai dia berlutut sambil menangis.


"Tenang, aku bakal turun dan menolong Rendy. Kau sebaiknya tunggu di luar." ucap Reyhan yang menoleh ke belakang, memberi kode kepada salah satu orang pemadam kebakaran untuk membawa Kanaya.


"Tidak mau, aku mau bersama Rendy." ucap Kanaya memberontak.


"Kanaya, percaya padaku. Aku yakin sekali jika Rendy masih hidup. Api di bawah sana tidak terlalu besar, kemungkinan tubuh kecil Rendy berhasil menghindarinya. Kau harus menurut dan turun lewat tangga darurat." jelas Reyhan yang menekan perkataannya agar Kanaya mau mengerti.


"Tolong, pak. Bawa dia keluar dari sini, aku bakal turun. Tolong beri alat pemadam itu." ucap Reyhan.

__ADS_1


__ADS_2