Anak Bak Dewa

Anak Bak Dewa
Season Dua: Bertemu Gadis Aneh


__ADS_3

Umur Rendy telah mencapai 26 tahun, begitupun dengan Alex. Rendy yang baru pulang dari luar negeri, segera menghadap orang tuanya meminta izin untuk tinggal di apartemen milik sendirinya dan bekerja di perusahaannya papanya.


"Benar, papa sangat senang kau akhirnya bisa di andalkan sekarang! Setelah terburuk karena kehilangan perusahaan, papa sekarang sudah merasa baik. Berkat bantuanmu, kita berhasil mendirikan perusahaan baru yang lebih baik dari sebelumnya. Terima kasih anak tersayang papa!" titah Gilang saat anaknya duduk di depannya. Masih teringat jelas, Rendy yang pernah bermain bersamanya saat itu masih berusia 6 tahun.


"Rendy, kau sudah mandiri. Mama tidak akan menolak keinginanmu. Asalkan nanti, kamu bisa jaga diri, mama akan terus merasa senang. Tidak lagi memikirkan dirimu." tutur Kanaya yang tersenyum lebar. Anak yang pernah dia didik dengan manja ini, akhirnya tumbuh begitu baik hingga membuat dirinya bangga.


"Pa! Mulai besok, Rendy akan masuk bekerja di perusahaan papa. Jadi, serahkan urusan yang tidak bisa papa lakukan, biar Rendy yang mengerjakannya!" kata Rendy yang penuh percaya diri. Dirinya bisa di andalkan saat ini. Mengingat dulu umurnya hanya berusia enam tahun, makanya Gilang sangat cemas jika memberi anaknya tugas yang banyak.


"Baiklah, karena kau sudah dewasa, kenapa tidak?" ujar Gilang sambil tertawa senang. Kanaya ikut senang mendengarnya.


"Kakak! Kakak!" teriak seorang anak perempuan yang berlari ke arah Rendy, sekitar berumur enam tahun juga. Rendy tersenyum menyambutnya sambil mengulurkan kedua tangannya menyambut anak perempuan itu.


"Kakak sudah pulang? Naila sangat senang, Naila sudah punya teman bermain!" ujar Naila, satu-satunya adik tersayang Rendy.


Enam tahun lalu, Kanaya mendadak hamil. Dia lalu memberitahu keluarga besarnya dan di sambut baik. Terutama Rendy yang dari dulu ingin sekali punya adik perempuan. Akhirnya, doanya terkabul.


"Naila mau kemana? Kak Rendy pasti akan membawa Naila. Katakan saja, kita langsung pergi!" titah Rendy yang senang melihat wajah manis adiknya.


"Taman bermain!" tunjuk Naila dengan riang.


"Baiklah, ayo kita pergi. Jangan lupa, izin sama mama papa. Jangan sampai dia marah karena kakak membawamu keluar!" perintah Rendy sambil melirik orang tuanya yang duduk di sofa depannya.


"Rendy, karena kau sudah dewasa, jaga adikmu baik-baik. Kau harus belajar mengurus anak, sebentar lagi kau juga akan menikah kan? Apa sudah punya pacar?" tanya Gilang sambil menatap serius wajah anaknya.


"Sayang, anak kita baru pulang. Belum masuk bekerja, kini kau bahas masalah pacar. Dia itu masih perlu mencari jati dirinya, bekerja menghasilkan uang, baru bisa memikirkan pernikahan!" ucap Kanaya sambil menekan perkataannya. Dia melirik suaminya dengan tarapan tajam, memberi ancaman.


"Iya, sayang! Aku mengerti kok." ujar Gilang yang mengalah. Tidak ada hasilnya jika dirinya tetap melawan ucapan sang istri.


"Baiklah, aku keluar dulu mengajak Naila jalan-jalan. Papa Gilang hati-hati di rumah, nanti di terkam monster!" ujar Rendy sebelum pergi membawa adik kecilnya yang imut.

__ADS_1


"Siapa monster di rumah?" tanya Kanaya yang tidak mengerti, anaknya sedang menyindirnya.


"Itu, Ma! Biasa, paling Rendy membahas tetangga sebelah!" ucap Gilang menutupi. Dia menghindari bertengkar dengan Kanaya.


"Oh, Mizuki? Wajahnya memang tampak seperti monster. Usianya sudah matang, dia belum menikah juga. Apa perlu aku kenalkan dengan teman laki-lakiku? Pasti seru!" ucap Kanaya yang punya rencana.


"Sayang, jangan macam-macam." tegur Gilang memperingati.


**


**


**


Di taman bermain, Naila sibuk mengejar Rendy yang berlari kecil. Setelah merasa lelah, Naila duduk di bawah pohon beristirahat sejenak. Rendy pun mendekati adiknya sambil mengelus rambut panjangnya.


"Naila sayang, kakak pergi belu minuman dulu. Naila tetap di sini, jangan pergi kemana-mana!" perintah Rendy.


Dengan cepat, Rendy berlari pergi mencarikan adiknya minuman pelepas dahaga dengan terburu-buru membuat dirinya tanpa sengaja menabrak seorang gadis.


"Hei! Kau tidak punya mata?" tanya seorang perempuan yang kesal dirinya di tabrak.


"Punya! Kau tidak melihatnya?" balas Rendy yang tidak merasa bersalah.


"Siapa namamu, berani sekali bicara tidak sopan padaku. Apa kau belum kenal aku?" tunjuk orang itu pada dirinya. Namun Rendy malah menggeleng kepalanya sambil berjalan pergi meninggalkan orang yang menurutnya tidak penting.


"Hei! Kau berani mengejekku? Ha? Tidak tahu aku anak orang kaya!" teriak gadis itu dengan keras. Tidak sama sekali menghentikan langkah Rendy.


"Dasar orang aneh!" ucapnya setelah dirinya sadar tidak mendapat respon apapun dari Rendy.

__ADS_1


Rendy lalu pulang membawa dua minuman dingin di tangannya. Dia memberikan pada adik imutnya lalu ikut bersadar di bawah pohon.


"Kakak! Siapa yang kau rayu tadi di sana?" tanya Naila dengan wajah polosnya. Di usianya yang baru memasuki angka enam, sudah berani mengatakan kata orang dewasa.


"Siapa yang mengajarimu berbicara seperti itu?" tanya Rendy balik.


"Papa Gilang. Dia sering merayu mama di dalam kamar." jawab Naila seketika.


Rendy menepuk jidatnya, kesal mendengar jawaban Naila. "Papa dan mama tidak tahu etika, Naila yang masih kecil harus melihat hal seperti itu. Dasar orang tua." umpat Rendy dengan suara perlahan.


"Kakak, siapa yang kau rayu tadi? Kau belum menjawabnya padaku!" titah Naila yang sangat ingin tahu.


"Aku tidak merayunya, hanya memarahi. Dia orang yang tidak penting, jadi Naila tidak perlu tahu!" jelas Rendy yang berusaha menutupi kekesalannya.


"Sedang memarahi? Tapi, kenapa wajah kakak itu begitu cantik? Kakak pasti berbohong, kakak sedang merayunya kan?" ujar Naila tidak mau mengalah. Rendy terpaksa diam dan membiarkan adiknya berpikiran jauh.


Matahari semakin terik, Naila dan Rendy sudah ingin pulang. Saat masuk ke dalam mobilnya, bersiap memutar mobilnya lalu pulang, tiba-tiba mobil Rendy malah di tabrak dari samping. Beruntung hanya lecet bagaian depan saja. Rendy turun dengan amarah meluap-luap.


"Hei! Kau berani menabrakku?" teriak Rendy yang mencegah mobil itu kabur.


"Sial, aku minta maaf. Tidak sengaja!" titah seseorang yang tidak asing. Setelah menurunkan kaca jendela mobilnya, Rendy baru menyadari. Orang itu adalah orang yang dia tabrak tadi.


"Kau lagi?" tunjuk Rendy dengan alis mengerit. Baru pulang dari luar negeri, harus bertemu dengan gadis pembawa masalah.


"Ya ampun, kita bertemu lagi. Dunia ini sepertinya sempit, kau ada dimana-mana. Sebaiknya aku segera pulang, kakekku sudah menunggu di rumah!" ucapnya yang memitar balik mobilnya.


"Hei, berhenti! Aku bilang berhenti!" teriak Rendy mencegah orang yang menabrak mobilnya.


"Apa lagi? Minta ganti rugi? boleh, berikan nomor rekeningmu, biar aku transfer berapapun yang kau minta." titahnya dengan sombong.

__ADS_1


"Kau sangat sombong, apa punya banyak uang?" tanya Rendy yang tidak mengerti dengan sikap gadis di depannya.


"Aku anak orang kaya, jadi tidak perlu khawatir." ujarnya dengan mantap.


__ADS_2