
Ketika malam datang, dua orang terlihat duduk di sofa sambil mengamati ponsel Gilang di atas meja. Ketika ponsel itu berdering, Gilang dengan cepat mengangkatnya setelah mendapat anggukan dari Rendy.
"Halo, bagaimana?" ucap Gilang yang langsung ke intinya.
"Apa? Rama menolak penjelasan kita? Anak itu selalu saja menyusuhkan. Tidak perlu di lanjutkan, besok dia sendiri yang akan ke kantor polisi mencabut laporannya." titah Gilang dengan amarah meluap. Gilang lalu meletakkan kembali ponselnya di atas meja.
"Papa gagal lagi?" sahut Rendy yang mengamati wajah kesal Gilang.
"Rama tidak mau mengaku. Kita juga tidak cukup bukti untuk menjatuhkannya. Apa yang harus kita lakukan?" pikir Gilang.
Rendy melipat kedua tangannya, meniru gaya Gilang. "Apa yang harus kita lakukan?" ucap Rendy seketika.
"Rendy, kau mau bersenang-senang malam ini? Hanya kita berdua saja." bisik Gilang yang terlihat serius menatap Rendy.
"Apa papa ingin mengajakku bermain malam-malam?" tanya Rendy dengan wajah penuh bersemangat.
"Benar banget. Bagaimana kalau kita bermain dengan Rama pembuat masalah di Bintang Group? Kau mau kan?" ucap Gilang memastikan. Setelah mendapat anggukan dari Rendy, Gilang dengan cepat membawa anaknya keluar dari rumah sambil mengendap-endap.
Malam ini, semua orang sibuk mengurus diri mereka sendiri. Berhubung nenek Rani pergi ke luar kota mengunjungi temannya tadi pagi. Suasana rumah terasa sunyi. Reyhan sibuk di dalam kamar mengurung diri, Mizuki fokus dengan laptopnya dan Alvin pergi entah ke mana. Hanya Kanaya yang berada di dapur sedang membuat kue.
Mobil Gilang pun melaju dengan sangat lancar tanpa hambatan sama sekali. Rendy bernyanyi riang karena di ajak main-main malam ini oleh papanya.
Sementara itu, di Glady group duduk seorang presdir yang terus mengetukkan jarinya di atas meja. Dia sepertinya sibuk berpikir agar rencananya bisa berjalan dengan baik.
"Ramadhan sudah membuka mulutnya. Kalau tidak, mana mungkin Gilang bisa tahu aku bukan Ramadhan. Anak itu benar-benar mencari masalah denganku. Aku tidak boleh membiarkannya hidup. Hanya ada satu kesempatan untuk mengalahkan Bintang group dan kesempatan ini tidak boleh sia-sia begitu saja." ucap Rama yang beralih mengacak rambutnya karena frustasi.
Tok... Tok... Tok...
Pintu tiba-tiba di ketuk membuat Rama kaget. "Siapa? Masuk!" ucap Rama yang kembali duduk dengan tenang.
__ADS_1
"Maaf, pak Rama, mengganggu sebentar. Ini adalah laporan yang pak Rama minta. Aku mengerjakannya sampai lembur hari ini." ucap sekertaris Rama.
"Baiklah, kau boleh pulang sekarang. Semua karyawan yang lain sudah pulang kan?" tanya Rama kepada sekretarisnya sambil mengambil berapa lembaran kertas dari tangan sekertarisnya.
"Mereka sudah pulang semua, pak. Kalau begitu, aku permisi juga pak." ucap sekertaris Rama yang pamit undur diri.
Setelah sekertarisnya pergi, Rama membaca laporan yang dia minta. Betapa terkejutnya Rama ketika tahu anak Gilang rupanya berpengaruh untuk perusahaannya. "Dia bisa membantuku mengalahkan perusahaan Gilang. Lagian, sepertinya Gilang tidak tahu jika anaknya terlibat dalam komunitas IT." ucap Rama yang tersenyum sinis.
Tok.. Tok.. Tok..
Pintu ruangan Rama di ketuk kembali membuat Rama terkejut. Dia lalu memasukkan data Rendy ke dalam berkasnya. "Siapa? Masuk!' ucap Rama yang mengira itu adalah sekertarisnya lagi.
Lama Rama menunggu, tidak satu pun orang masuk atau membuka pintu. Karena rasa penasaran, Rama memeriksanya. Dia melihat sebuah surat tergeletak tepat di depan pintu masuk. Rama berjongkok mengambilnya dan membuka surat itu.
[Untuk Presdir Clady Group. Kami dari orang suruhan bapak ingin memberikan laporan. Tolong temui kami di tempat parkir sekarang juga.]
"Apa apaan ini? Kenapa mereka mengirim pesan seperti ini? Apa aku menyuruh seseorang melakukan sesuatu?" ucap Rama yang bingung sendiri.
Setelah sampai di sana, keadaan begitu gelap. Lampu di lahan parkir mati mendadak membuat Rama semakin bingung. Rama tetap melanjutkan langkahnya dengan waspada.
"Kalian dimana? Ada masalah apa lagi menemuiku? Apa Friska tidak membayar kalian?" teriak Rama memperingati. Tetapi, tidak ada satu orang pun yang merespon.
Rama semakin curiga setelah lampu parkir yang padam langsung mati. Terlihat jelas dua orang anak dan ayah sibuk mengecek saluran lampu untuk memastikan keadaan lampunya.
"Lah, Rendy. Kok nyala lagi? Apa ada yang salah?" tanya Gilang sambil melihat Rendy memotong beberapa kabel.
"Seharusnya sudah mati semua. Mungkin perusahaan ini punya listrik cadangan." ucap Rendy memberitahu.
"Lalu, bagaimana cara kita menyerang Rama? Aku tidak mahir bela diri, di tambah Reyhan tidak ada di sini." ucap Gilang yang menjadi panik.
__ADS_1
"Papa harus belajar dariku. Aku bisa mengajari papa!" titah Rendy yang membanggakan dirinya.
Tidak berselang lama, suara langkah kaki terdengar menghampiri anak dan ayah itu. Rendy bersembunyi di dada Gilang dengan cepat sambil memejamkan matanya.
"Katanya bisa mengajariku. Kenapa tidak bangkit dan melawannya?" ucap Gilang sambil memutar matanya merasa di bodohi anaknya.
"Husst, target kita sudah datang, pa. Jangan banyak bicara dan tunggu waktu yang tepat untuk menyerang." bisik Rendy dengan suara sangat perlahan.
Rama lalu sampai di tempat dimana Rendy dan Gilang bersembunyi. Rama berjalan sambil menyusuri tiap sudut di tempat parkirnya ini. "Tadi aku mendengar suara orang bicara. Dimana mereka yah?" tanya Rama.
Setelah berbalik, Rama terkejut melihat Rendy dan Gilang yang sudah berdiri tepat di hadapannya yang hanya berjarak lime meter darinya.
"Ayo serang!" teriak Rendy memberi perintah. Dengan cepat Gilang berlari maju menyerang Rama.
Brak..
Tubuh Gilang ynag terjatuh ke lantai. Rama bukan hanya seorang presdir licik, tetapi dia juga bisa bela diri. Hanya satu banting saja, Gilang sudah merasa otot punggungnya seperti retak.
"Aduh.. Aduh... Rendy sakit!" ucap Gilang meminta bantuan anaknya.
"Papa benar-benar tidak tahu bela diri. Pantas mama melarikan diri waktu itu. Papa tidak bisa menjaganya." ucap Rendy sambil menggeleng kepalanya melihat Gilang terbaring di lantai yang kesakitan.
"Hei, anak kecil. Aku mau bicara sebentar denganmu, apa boleh?" tanya Rama yang ingin membahas kerja sama dengan Rendy.
Rendy melipat kedua tangannya, berpikir sebentar. Lalu mengangguk membuat Rama tersenyum dan Gilang yang kesal.
"Hei, Rendy. Tolong papa! Kenapa kamu malah pergi bersama target kita?" teriak Gilang yang berusaha bangun ingin mengejar anaknya yang sudah lebih dulu menyusul Rama.
"Dia mengakhianatiku. Bagaimana bisa?" ucap Gilang yang tidak terima. Dia berjalan perlahan sambil memegang pinggangnya yang terasa encok.
__ADS_1
Rendy di bawa masuk ke ruangan Rama. Rama lalu menyuruhnya duduk membuat anak kecil itu benar-benar menurut. Rama sangat senang sekali karena Rendy rupanya mudah untuk di ajak kerja sama. Padahal, dia tidak tahu saja apa yang Rendy pikirkan.