
Kanaya menarik telinga Rendy sambil berjalan masuk ke dalam kosannya lalu menutup pintu dengan rapat. Dia sangat kesal, Rendy pulang bersama presdir yang tidak Kanaya suka. Emosi Kanaya melunjak naik mendengar penjelasan Gilang. Kanaya langsung mengusir Gilang bersama Riani karena ingin memberi Rendy pengajaran.
"Rendy, aku tanya satu kali saja. Siapa mamamu?" tanya Kanaya dengan wajah dingin sambil melipat kedua tangannya.
"Tentu saja, Mama." jawab Rendy sambil menunduk, menyadari dimana kesalahannya.
"Lalu, kenapa kau tidak mendengarkan perkataanku? Aku sudah bilang berkali-kali jangan dekat dengan presdir sombong itu." ucap Kanaya menjelaskan sambil mondar mandir. Rendy mengikuti mamanya sambil tersenyum. Ketika Kanaya berhenti, Rendy menabrak Kanaya.
"Rendy..."
"Iya, Ma?" jawab Rendy dengan tegas.
"Ya ampun, kenapa aku sulit sekali memarahi dirimu." ucap Kanaya yang tidak bisa marah atau menghukum Rendy ketika melihat wajah anaknya.
"Karena mama sangat menyayangiku." ucap Rendy sambil memeluk kaki Kanaya lalu berlari mengambil laptopnya.
"Hufft, kamu memang benar. Baiklah, aku buatkan nasi goreng dulu. Kamu tunggu di sini, oke?"
"Siap, Ma."
Kanaya bergegas memasak, sementara Rendy sibuk dengan laptopnya. Tidak berselang lama, pintu rumah mereka di ketuk. Kanaya langsung bangkit membuka pintu.
"Maaf, mbak. Apa ini rumah Rendy?" tanya mas paket yang membawa sebuah kardus besar.
"Iya, kenapa?" tanya Kanaya memperhatikan mas paket itu dengan seksama.
"Ada paket untuknya. Tolong tanda tangan di sini sebagai bukti jika paketnya sudah di terima." ucap mas paket mengeluarkan selembar kertas.
Kanay tidak berpikir panjang, dia langsung menandatanganinya. Lalu masuk ke dalam rumah sambil membawa paket itu.
"Rendy, ada paket untukmu. Kau pesan apa?" tanya Kanaya yang mengantarnya di dekat Rendy.
"Peket, Ma? Perasaan Rendy tidak punya paket apapun." jawab Rendy dengan bingung.
"Mama juga tidak tahu, tiba-tiba saja mas paket datang. Dia memberi paket ini katanya untukmu." ucap Kanaya dengan jelas.
"Lalu, mas paketnya dimana, Ma? Mama tidak tanya dia ini dari mana?"
__ADS_1
"Tidak. Mama pikir kamu memang memesan sesuatu." jawab Kanaya.
Redny berlari keluar dari kosannya mencari mas paket yang dimaksud Kanaya. Ketika turun dari tangga, dia mendengar mas paket sedang berbicara di telepon.
"Iya, aku sudah memberi paket itu pada ibu Rendy dan dia menerimanya." ucapku memberi laporan.
"Sebentar lagi, paket itu bisa membuat mereka semua celaka. Anda tidak perlu khawatir, mereka bahkan tidak curiga sama sekali. Ha ha ha, dasar gadis polos." ucap mas paket sambil tertawa.
Rendy mengepal kedua tangannya, berlari dengan cepat kembali ke kosannya. Dia lalu masuk dengan terburu-buru dan membuka paket itu.
"Katanya tidak punya paket, kenapa malah di buka? Sebaiknya kembalikan saja." ucap Kanaya yang melihat Rendy membuka paket dengan terburu-buru.
Betapa terkejut dua orang itu melihat isi dari paketnya.Tubuh Kanaya sampai bergetar. "Rendy, kenapa isinya boom. Apa kau sudah gila memesan boom untuk menghancurkan aku?" teriak Kanaya yang perlahan mundur sampai di tembok.
Bom tersebut sudah di atur waktunya dan akan meledak dalam satu menit lagi. Rendy memperhatikan jenis bom itu, kemudian mengambil laptopnya lalu menyambungkan kabel bom dengan laptopnya. Kanaya bingung melihat apa yang dilakukan Rendy.
"Rendy!" panggil Kanaya, tetapi Rendy terlihat serius mengetik.
Waktu yang di atur bom itu hampir habis. Kanaya semakin panik, anak geniusnya belum memecahkan kode bom itu. "Rendy, langsung taril kabelnya saja." teriak Kanaya memberitahu.
"Lalu, kenapa kita ada di sini, ayo lari!" teriak Kanaya yang semakin panik. Keringatnya bercucuran dan kedua kakinya mulai bergetar.
Rendy masih duduk berusaha menahan bom itu. Pintu kosan mereka tiba-tiba terkunci dari luar. Kanaya berlari membuka pintu, tertahan dari luar. Dia semakin panik dan stres, tidak tahu harus melakukan apa.
"Rendy! Kita terjebak, tamat riwayatku." ucap Kanaya sambil menangis.
Tut... Tut.. Tut...
Waktunya semakin sedikit dan bom sebentar lagi akan meledak. Rendy menjauh dari sana membiarkan laptop kesayangannya terbakar. Dan waktu bom terhenti pas 1 detik lagi.
"Kita selamat, Ma." ucap Rendy menoleh ke arah Kanaya yang duduk di dekat pintu.
"Benarkah?"
"Bomnya tidak akan meledak kan?" tanya Kanaya dengan nafas tidak beraturan. Dia mengira jika dirinya akan mati di sini bersama anaknya.
"Iya, tetapi laptopku yang menjadi korbannya." ucap Rendy dengan mata sendu.
__ADS_1
"Kau sudah gila? Dalam keadaan seperti ini malah wajahmu tampak sedih karena kehilangan laptopmu. Ini, jantung mama hampir meledak." ucap Kanaya kesal melihat anaknya menangis melihat laptopnya terbakar.
"Nanti mama belikan, tenang saja." ucap Kanaya bernafas lega.
Rendy mengepal kedua tangannya, dia tidak terima laptop kesayangannya terbakar. Dia pun mengambil ponselnya lalu membuka pintu kosan. Dan saat itu, pintu kosannya masih terkunci.
"Hei! Aku tahu kamu ada di luar, cepat buka pintunya atau aku lapor kamu ke polisi!" teriak Rendy sambil mendobrak pintu kosannya.
"Kau yakin ada orang di luar?" tanya Kanaya yang terkejut.
"Iya, Ma. Sepertinya ada orang yang ingin mengcelakai kita." jawab Rendy.
"Kurang ajar, aku tidak tahu salahku dimana malah dia ingin membunuhku. Tidak akan aku biarkan. Rendy minggir!" ucap Kanaya yang bersiap mendobrak pintu. Dia mengambil ancam-ancam lalu berlari dan menabrak pintu kosannya dengan keras.
Brak..
Pintunya rusak dan terjatuh ke depan. Kanaya seketika melihat keluar mencari orang yang mengunci dari luar pintunya membuat dirinya terjebak di dalam. Tetapi, tidak ada satu pun orang yang dia lihat.
"Ren, tidak ada orang." kata Kanaya memberitahu dirinya.
"Benarkah? Mungkin dia sudah kabur." jawab Rendy yang keluar memeriksanya juga.
"Tetapi, siapa yang berani melakukannya? Apa dia orang yang kita kenal?" tanya Kanaya bingung.
"Rendy akan cari tahu dulu, Ma. Sebaiknya mama perbaiki kerusakan yang mama buat daripada ibu kos nanti marah." jelas Rendy.
"Iya, baiklah." Jawab Kanaya bersuara lemah.
'Aku tidak akan biarkan orang itu lolos dengan mudah.' guman Rendy sambil mengetik pesan dan mengirimnya kepada Gilang.
Ini aku, orang yang mengambil berkas perusahaanmu. Aku akan mengembalikannya jika kamu mau membantuku.
Sementara itu di tempat lain, dia tidak melihat kobaran api dari rumah Rendy. Dia sudah menunggu sangat lama tetapi tidak muncul suara ledakan atau apapun.
"Kenapa belum meledak yah? Katanya waktunya sudah di atur. Aku juga sudah mengunci pintunya dari luar. Tidak mungkin mereka kabur dan membuang bom itu." ucap orang tak dikenal itu dengan wajah tampak gelisah.
"Aku sebaiknya memeriksanya." ucanya berjalan dengan santai.
__ADS_1