Anak Bak Dewa

Anak Bak Dewa
S2: Jangan Berani Melawan


__ADS_3

Rendy turun dari motornya dengan alis mengerut. Setelah melihat wajah Martin, Rendy pun kembali memasang wajah polosnya. Buru-buru mendekati Martin seolah tidak terjadi apapun.


"Kau baik-baik saja? Kau cukup mahir menghindar rupanya," ujar Martin menatap tubuh Rendy dari atas sampai bawah.


"Terima kasih, aku sudah lama belajar cara menghindar. Masalahku sudah banyak menumpuk, aku takutnya tidak bisa mengurus semua itu," kata Rendy dengan tenang.


Sopir martin keluar sambil menatap Gadis yang berada di balik tubuh Rendy. Setelah mendapat aba-aba dari Martin, pak sopir langsung berjalan mendekati Gadis dan menariknya.


"Lepaskan aku, apa-apaan ini? kau mau menculik aku?" tanya Gadis dengan tatapan tajam.


"Bawa masuk, cepat!" perintah Martin dengan suara meninggi. Rendy menarik tangan sopir Martin, menepisnya menjauh dari Gadis. Martin semakin kesal, mendorong tubuh Rendy.


"Hei! Kau lupa siapa aku? Aku menahan diri agar kau tidak mendapat masalah, tetapi sepertinya kau ingin mencari masalah denganku!" ucap Martin.

__ADS_1


"Hei! Jangan berani memukul Rendy, kau tidak berhak melakukannya. Aku tidak akan tinggal diam!" teriak Gadis yang ikut kesal ketika tubuh Rendy di dorong.


"Sayang, kau itu calon isteriku. Sudah sewajarnya membela calon suami mu ini." ucap Martin dengan suara lembut.


"Maaf, tetapi aku tidak tertarik denganmu. Aku lebih suka Rendy daripada kau yang sudah berumur!" jelas Gadis membuat Rendy dan Sopir Martin tertawa.


"Diam kalian!" bentak Martin dengan tatapan melotot.


"Aku punya banyak uang, punya kuasa di perusahaan juga. Aku dan kakekmu berteman baik, kau harusnya memilihku!" ucap Martin membujuk.


"Lumayan, tetapi kau itu sudah berumur dan aku tidak suka orang yang lebih tua dariku. Kamu bakal jadi kakek-kakek sementara aku masih ibu-ibu!" ucap Gadis mengejek. Amarah Martin tidak terkendali, menarik paksa Gadis hingga pergelangan tangan Gadis terasa sakit.


"Lepaskan dia!" teriak Rendy, namun sopir Martin dengan cepat menghalau Rendy.

__ADS_1


Akhirnya terjadi perkelahian antara Rendy dan pak sopir, sementara itu Gadis di bawa pergi oleh Martin. Rendy tidak ingin bermain lebih lama, memukul keras kepala sopir Martin, lalu naik ke motornya dan mengejar mobil Martin.


"Dia hebat juga, sepertinya bukan sembarang anak!" ucap Martin sambil melirik kaca spion. Jantung Gadis berdetak lebih cepat, takut Rendy dalam bahaya. Martin selalu melakukan apapun demi mencapai tujuannya.


"Halo! Bunuh anak yang mengikutiku, aku tidak suka melihatnya. Setelah membunuhnya, buang mayatnya jauh dari kota biar calon isteriku tidak perlu melihatnya!" ucap Martin yang langsung mematikan teleponnya. Mata Gadis hanya bisa membulat.


Tidak berselang lama, anak buah Martin tiba. Mereka langsung menghalangi Rendy dan mencegahnya di tengah jalan. Gadis berteriak histeris, meminta dirinya turun. Namun, Martin malah tertawa terbahak-bahak.


"Dasar keji, apa kau tidak merasa bersalah dengan temanmu? Kau melakukan hal sama ketika membunuhnya!" ucap Gadis sambil menepuk pundak Martin.


"Aku selalu menang karena itu kakekmu tidak berani melawanku. Jadi, aku sarankan jangan mencari masalah denganku, atau kejadian yang menimpamu lima tahun lalu kembali terulang!" jelas Martin dengan menekan perkataannya. Wajah Gadis menjadi sendu, kepalanya menunduk sambil meneteskan air mata.


Di tempat lain, Alex berlari keluar dari rumahnya dengan pakaian tidurnya. Alex mendapat berita jika temannya di serang di tengah jalan. Wajah Alex memerah, menahan amarahnya.

__ADS_1


"Siapa lagi yang mencari masalah dengan Rendy? Awas saja jika wajah tampan temanku itu hancur, aku lebur dia api yang mendidih!" ucap Alex.


__ADS_2