
Nenek Rani benar tidak tahu harus melakukan apa. Laki-laki yang pernah menyukainya kini terus saja menelponnya sejak tadi. Ingin sekali tangannya meraih ponselnya, tetapi ketika dirinya ingat dengan janjinya pada Gilang, Nenek Rani meletakkan kembali ponselnya.
"Apa aku angkat saja, mungkin ada masalah penting yang dia ingin katakan padaku. Gilang juga tidak ada di rumah, dia tidak akan tahu, musuh buyutannya menghubungiku." ujar nenek Rani sambil meraih ponselnya kembali dengan ragu-ragu. Kedua tangannya sampai bergetar.
"Akhirnya, kau mengangkatnya juga. Ada kabar penting yang harus kau tahu." Kata Dirgantara dari seberang telepon.
"Katakan langsung, aku tidak bisa lama." Ujar nenek Rani yang panik. Dia masih takut ketahuan cucunya, terlebih Reyhan dan Mizuki masih ada di rumah.
Ini yang membuat hati Dirgantara sangat sakit. Rani, temannya yang selalu menyapanya, mendadak menjauhi dirinya sejak Rani tahu perasaannya.
"Cicitmu dalam bahaya." Kata Dirgantara dengan segera menutup teleponnya, tidak ingin mendengar suara perempuan yang masih di cintainya.
Sementara di seberang telepon, Nenek Rani menjadi panik. Dia tidak mengerti dengan perkataan Dirgantara. Tanpa ada angin, dia langsung memberitahu tentang Rendy.
"Rendy kenapa? Bagaimana bisa dia tahu? Apa dia ingin membuat masalah lagi dengan Gilang?" tanya Nenek Rani sambil menggeleng kepalanya. Sudah banyak kejahatan yang dilakukan Dirgantara dan telah sampai di telinga nenek Rani.
Reyhan keluar dari kamarnya dengan pakaian yang rapi. Tidak lupa, dia memakai jaket dan memasang wajah tegang. Nenek Rani yang melihatnya, segera bangkit menghampirinya.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya nenek Rani pada sang cucu.
"Entahlah, Nek. Rendy bilang dia ingin di culik, makanya aku harus pergi mencarinya. Rendy sudah mengirim lokasinya, sangat mudah aku bisa menemukannya." Jelas Reyhan yang segera pergi dari sana.
Nenek Rani diam membeku, apa yang dikatakan Dirgantara benar-benar terjadi. Cucunya kini dalam bahaya. Nenek Rani pun memutuskan pergi mengikuti Reyhan, tetapi ketika dirinya baru keluar rumah, dia melihat pengintip yang di kirim Dirgantara.
"Apa ada mata-mata di rumahku? Sejak kapan?" tanya Nenek Rani yang merasa terkejut. Ini pertama kalinya, keluarganya di ikuti.
Setelah memasan taksi, tidak lama taksi pun datang. Nenek Rani segera pergi dari sana sambil terus menoleh ke arah pohon dimana penguntit itu bersembunyi.
__ADS_1
"Bos, nenek tua itu sudah pergi. Aku tidak bisa mencegahhnya karena kebetulan cucunya barusaja keluar juga." Ucapnya memberi laporan.
"Tidak apa, dia bisa melihat bagaimana cucu dan cicitnya aku bunuh tepat dihadapan matanya." jelas Dirgantara yang malah tersenyum penuh kesenangan.
Sementara itu, Dirgantara sudah menyuruh orangnya yang mengikuti Rendy untuk segera menculik cicit nenek Rani itu. Rendy masih duduk di kursi dengan banyak orang lalu lalang. Orang suruhan Dirgantara sampai harus memutar otak agar bisa mendekati anak itu.
"Dek, mau permen?" tanyanya yang memilih menjadi penjual permen.
"Tidak, Om. Rendy malas makan manisan." jawab Rendy yang menolak.
"Ini permen enak loh, nanti adek menyesal tidak membelinya. Om kasih gratis." Ujarnya yang sudah memberi obat tidur di dalam permen itu.
Awalnya, Rendy ragu dan tetap menolak. Tetapi, dirinya juga sudah bosan menunggu dan mungkin memakan permen bisa membuat wajahnya kembali bersinar.
"Baiklah, Om. Terima kasih banyak." ujar Rendy sambil menarik permen itu. Senyum samar pun terlihat. Orang suruhan Dirgantara merasa senang, anak kecil di depannya bisa dia kalahkan.
Dia menunggu Rendy menghabisi permennya hingga anak itu tertidur. "Saatnya beraksi, bos pasti merasa senang." katanya yang segera mengangkat tubuh Rendy menjauh dari sana.
"Berarti Rendy memang ada di sini tadi." ujar Reyhan yang menoleh ke sana sini.
*****
Nenek Rani berputar arah saat mendapat pesan dari Dirgantara, cicit dan cucunya sudah ada pada Dirgantara. Antara sedih dan takut, Nenek Rani yakin sekali, Dirgantara ingin melukai cucunya. Selama ini, dia sudah menjadi musuh Gilang.
"Halo, Pak. Aku mau melaporkan kasus penculikan anak." ujar nenek Rani yang memilih memberitahu polisi untuk berjaga-jaga.
Saat Nenek Rani sampai di rumah Dirgantara, dia berjalan cepat masuk ketika pintu rumah Dirgantara sudah terbuka seolah menyambut kedatangannya.
__ADS_1
"Dirgantara! Dirgantara!" teriak Nenek Rani yang berdiri di ruang tamu. Takut melangkah, mengingat rumah teman lamanya itu punya banyak jebakan.
"Kau sudah datang?" tanya Dirgantara pada nenek Rani. Dirgantara semakin tersenyum melihat kepolosan nenek Rani.
"Katakan padaku, apa rencanamu kali ini. Berani sekali kamu menculik Gilang dan Rendy. Apa kau belum puas membunuh suamiku?" teriak Nenek Rani dengan marah.
"Belum puas? Kau yang pertama kali membuatku punya dendam pada keluargamu. Dan bodohnya, si culun itu percaya denganku. Padahal, dia tahu aku sangat membencinya." Jelas Dirgantara sambil duduk di sofanya.
"Kau tidak tahu diuntung. Suamiku sangat baik, dia bahkan berusaha akrab denganmu agar dendammu bisa hilang. Rupanya, kau lebih kejam dari iblis. Sudah banyak kejahatan yang kau lakukan, tetapi aku terus saja menutup telingaku dan percaya kalau kau orang baik." Jelas nenek Rani dengan tatapan kesal.
Dirgantara lalu menepuk kedua tangannya, memberi kode pada anak buahnya untuk membawa Gilang dihadapan mereka. Mata nenek Rani membulat, wajah Gilang penuh lebam. Bahkan, sekujur tubuhnya pun terlihat berwarna keunguan.
"Kenapa, Rani? Kau terkejut cucumu tidak memakai baju? Gilang bukannya cucu kesayanganmu yah?" tanya Dirgantara yang semakin puas melampiaskan dendamnya.
Nenek Rani mengepal keras kedua tangannya, amarahnya benar-benar melunjak. Dia bangkit dari duduknya sambil melempar bantal sofa ke arah Dirgantara. Tidak sampai di situ, dia maju mendorong tubuh kekar Kakek tua itu.
"Kau berani menyentuh cucuku? Dasar sialan. Kau pikir dirimu siapa, ha?" teriak nenek Rani, membabi buta menyerang Dirgantara walau laki-laki tua itu hanya tersenyum terus di pukul.
Gilang perlahan membuka matanya, mendengar suara neneknya. Tubuhnya yang penuh lebam, tidak bisa bergerak dan hanya terasa sakit.
Tidak lama, anak buah Dirgantara berhasil membawa Rendy. Anak itu segera di ikat di dekat Gilang. Nenek Rani kembali terkejut, cicitnya pun sampai di lukai.
Di depan rumah Dirgantara, Rama tersenyum kecut. Dia sudah memantau hampir dua jam di dalam mobil. Dia yang membantu Dirgantara menyusun rapi rencana ini. Mulai dari membuat perusahaan Gilang bangkrut agar Gilang tidak bisa memberi perintah apapun pada anak buahnya.
"Maafkan aku, Kakek tua. Aku tidak bisa kau percaya. Aku ingin, kalian semua lenyap sekaligus. Dengan begitu, Gilang sang genius bersama anaknya berakhir sampai di sini. Good bye semua." ujar Rama sambil melajukan mobilnya. Saat mobil Rama sudah pergi menjauh, anak buahnya yang berada di atap rumah tetangga Dirgantara, segera menembak ke arah orang yang bergerak di rumah Dirgantara.
"Aku akan menghabisi semuanya dan tidak menyisahkan satu pun orang." Ujarnya.
__ADS_1
Door.. Door.. Door.. Door...
Empat kali tembakan untuk empat orang.