Anak Bak Dewa

Anak Bak Dewa
72. Hilangnya Mizuki


__ADS_3

Setelah selesai makan malam, Rendy di bawa ke kamar Gilang. Wajah Rendy tampak bingung, tidak tahu mengapa papanya membawanya ke dalam kamarnya.


"Ada apa sih, Pa? Papa seperti ingin meminta bantuan Rendy lagi?" tanya Rendy sambil menatap wajah Gilang.


Gilang berjongkok, menyetarakan tinggi tubuhnya dengan Rendy. Lalu berbisik pada anaknya dengan suara perlahan sekali.


"Papa mau Rendy membantu papa." ucap Gilang dengan mengedipkan mata pada Rendy.


"Membantu apa? Mencari tahu dalang yang membuat perusahaan papa bermasalah?" kata Rendy dengan jujur. Tetapi Gilang menggeleng kepalanya membuat Rendy kecewa.


"Bukan itu, itu masalah orang dewasa. Papa mau mengajak mama kamu keluar berdua saja dengan papa. Kamu bisa kan bujuk dia agar dia mau. Pasti mama kamu menolak." jelas Gilang.


Rendy melipat kedua tangannya, menatap papanya dengan serius. Dia berpikir sebentar dan kemudian Rendy mengangguk.


"Papa ingin bersenang-senang bersama mama tanpa mengajak Rendy?" tanya Rendy dengan memurungkan dirinya.


"Ini bukan bersenang-senang. Salah satu klien kerja papa menikah. Papa mau mengajak mama mu ikut dengan papa ke acara itu. Papa juga mau pamer diri sudah punya istri yang cantik." kata Gilang sambil tersenyum-senyum. Rendy memutar tubuhnya, mendapat ide cemerlang.


"Boleh. Rendy bisa membantu papa. Tetapi, Rendy harus mendapat imbalan yang sangat besar. Papa sanggup?" tanya Rendy.


"Sanggup, papa pasti sanggup. Katakan saja Rendy mau apa?" ujar Gilang yang tidak keberatan.


"Rendy mau menjadi asisten papa di perusahaan Bintang group. Bagaimana, Pa? Deal?" bujuk Rendy yang membuat Gilang termenganga. Tidak biasanya anak kecil seperti Rendy memikirkan pekerjaan yang tidak masuk akal. Gilang awalnya berpikir jika Rendy akan meminta mainan yang banyak. Rupanya anaknya jauh lebih tertarik dengan perusahaannya.


"Rendy, yakin?" tanya Gilang memastikan. Gilang merasa ragu dan tidak percaya dengan permintaan anaknya.


"Iya." ujar Rendy dengan suara tegas.


Sebelum kesepakatan Rendy dan Gilang tercapai, Kanaya menerobos masuk mencari Rendy di kamar Gilang. "Rendy ada di sini? Aku pikir kau menculiknya lagi." sindir Kanaya yang tahu ada yang tidak beres dengan Gilang dan Rendy.

__ADS_1


"Ah, iya. Rendy minta aku membelikannya mainan." kata Gilang mencari alasan sambil mengedipkan sebelah matanya agar Rendy tidak memberitahu Kanaya.


"Benarkah? Bukannya Rendy punya uang yang lebih banyak darimu? kenapa dia harus meminta padamu?" tanya Kanaya yang menjadi bingung. Kanaya menatap tajam anaknya. Rendy hanya menundukkan kepalanya.


"Hei, kalian semua. Apa tidak ada yang ingin keluar jalan-jalan?" tanya Mizuki yang selesai bersiap.


Anak dan ayahnya sambil berpandang, seketika mereka tersenyum bersama. Rendy mengangkat tangannya, ingin ikut. Kanaya ikut-ikutan, tetapi Gilang menurunkan tangan Kanaya dengan cepat.


"Kau tidak boleh pergi. Rendy bilang padaku tadi, dia tidak mau mamanya terus mengikuti dirinya. Dia bilang dirinya sering di ejek seolah di manjakan oleh mamanya." bisik Gilang memberitahu Kanaya.


"Serius? Rendy tidak mungkin seperti itu." kata Kanaya yang memasang wajah kesal sambil menatap anaknya.


"Rendy serius, Ma. Apa yang dikatakan papa benar. Mama sebaiknya tidak perlu pergi." kata Rendy seketika. Emosi Kanaya memuncak, tetapi dia tidak bisa melakukan apa dan hanya bisa tersenyum pada anaknya. Berhubung dirinya masih menumpang di rumah nenek Rani.


"Kalau begitu anak tersayang, kau saja yang pergi dengan Mizuki. Mama tidak akan pergi ke mana-mana dan hanya tinggal di rumah. Kau puas?" ucap Kanaya yang menekan perkataannya sambil mengelus rambut Rendy.


Dua jam Kemudian...


Keluarga kecil Rendy berangkat ke mol. Rendy berjalan memilih-milih mainan yang dia sukai. Tanpa sadar, seseorang mengintai Rendy dari kejauhan sambil menghisap rokok. Dia lalu memberi pesan kepada atasannya jika anak itu sudah berada di tangannya.


[Bagus, buat dia tetap di sana. Biar aku menjalankan rencanaku selanjutnya.] balas atasannya itu.


Pria berbadan kurus tetapi tinggi itu lalu memasukkan kembali ponselnya dan fokus mengamati Rendy. Kemana Rendy pergi, dia terus mengikutinya di belakangnya.


Mizuki yang kebetulan memperbaiki rambutnya di cermin, melihat pria yang mencurigakan itu. Dia lalu menoleh ke belakang dan fokus memperhatikan.


"Kenapa dia terus menatap Rendy? Apa dia ingin menculik Rendy lagi?" tanya Mizuki yang heran.


"Ah, ini tidak boleh terjadi. Kak Gilang pasti marah besar. Sudah cukup kak Kanaya mengalami trauma akhir ini. Aku harus menjaga Rendy." kata Mizuki sambil menarik ponselnya dan ingin memberikan kabar pada Gilang. Tetapi, pria tersebut menyadarinya dan langsung membius Mizuki seketika.

__ADS_1


Pria tersebut menyembunyikan Mizuki di dalam toilet pria dan mengunci dari luar. "Penghalang harus di singkirkan." kata pria tersebut sambil tersenyum.


Ting..


[Jangan sampai kau membuatnya terluka. Cukup awasi saja mereka. Ingat pesanku.]


"Hufft, bos banyak sekali perintahnya. Maunya tidak menyakiti, kalau begitu suruh baby sister saja menjaganya. Tidak perlu repot membayarku." protesnya.


Masih di dalam mol, Rendy berjalan menyusuri tiap toko. Dia baru sadar ketika menoleh ke belakang dan tidak melihat Mizuki. Wajah Rendy bingung, seingatnya Mizuki terus berada di belakangnya tadi.


"Kemana kak Mizuki? Apa dia ke toilet dan tidak memberitahuku?" tanya Rendy pada dirinya sendiri.


Rendy berbalik arah dan mencari Mizuki. Dia berdiri di depan toilet perempuan. Tetapi lama dia menunggu, Rendy mulai bosan. Akhirnya, Rendy memutuskan untuk masuk ke toilet yang khusus perempuan.


"Hei, anak kecil. Ini toilet perempuan. Kau tidak boleh masuk." cegah petugas kebersihan di sana. Rendy memurungkan wajahnya dan kembali ke tempatnya.


Setelah lama menunggu kembali, Rendy berlari ke toko dan membeli rambut palsu serta pakaian anak perempuan. Rendy memakainya diam-diam agar terlihat seperti anak perempuan asli.


"Tidak ada lagi yang bisa mencegah Rendy masuk ke toilet." kata Rendy yang melihat dirinya di depan cermin. Dia bergegas masuk ke dalam toilet dan tidak melihat Mizuki di sana. Rendy membuka tiap kamar yang kosong, Mizuki tidak terlihat juga.


"Kemana kak Mizuki? Apa dia sudah pulang dan meninggalkan aku di sini? Tidak mungkin." kata Rendy yang menduga-duga.


Rendy lalu keluar dan menghubung Mizuki. Ponsel Mizuki terus berdering tanpa di angkat. Perasaan Rendy menjadi khawatir. Dia yakin, pasti terjadi sesuatu dengan Mizuki.


Rendy keluar kembali masih memakai pakaian anak perempuan. Secara kebetulan, Rendy melihat Alex. Dia dengan cepat menghampiri temannya itu.


"Lex, bantu aku mencari kak Mizuki." tepuk Rendy. Tetapi wajah Alex tampak bingung. Kedua alisnya mengerit.


"Aku tahu diriku tampan sampai anak perempuan sepertimu mulai menyukaiku saat masih pandangan pertama. Tetapi mohon maaf, kita masih anak kecil. Tidak baik saling menyukai." tolak Alex sambil menggeleng kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2