Anak Bak Dewa

Anak Bak Dewa
Season Dua: Bertemu Kembali Gadis Aneh


__ADS_3

Hari ini, Rendy akan di kenalkan sebagai pewaris perusahaan Gilang. Namun Rendy menolak, dia ingin menjadi direktur perusahaan setelah satu tahun bekerja di perusahaan papanya. Bukan tanpa alasan Rendy memilihnya. Akhir ini, Gilang terus mengeluh dengan dana perusahaannya yang selalu hilang sedikit demi sedikit. Tentu saja, seseorang telah menggelapkan uang perusahaan Gilang.


"Kau yakin mau menjadi ob?" Gilang terkejut dengan permintaan Rendy. Pak Sopir yang mendengar pembicaraan Gilang, menghentikan mobilnya secara mendadak.


"Iya, Pa. Aku harus mencari tahu orang yang bermain dengan uang kita." ucap Rendy dengan suara tegas.


"Rendy, lupakan masalah uang itu. Papa tidak akan keberatan, lagian jumlahnya hanya sedikit." sahut Gilang yang tidak terima. Dia tidak setuju dengan pemikiran Rendy.


"Pa, berapapun jumlah uang itu, aku tidak mempedulikannya. Hanya saja, itu membuat lintah darat itu akan semakin mengelapkan uang karena dirinya tidak ketahuan." ujar Rendy yang tetap pendirian.


"Tetapi, mamamu pasti marah jika tahu posisimu di perusahaan menjadi ob. Papa bisa-bisa tidak dapat jatah lagi!" ujar Gilang yang memurungkan wajahnya.


"Kalau begitu, jangan sampai mama tahu." ucap Rendy yang memberi balasan dengan mudah. Urusan mamanya sangat mudah baginya.

__ADS_1


"Ah, kau membuatku pusing. Tetapi, apa yang kau katakan cukup benar. Tidak seharusnya orang itu mengambil uang yang bukan miliknya." kata Gilang yang menganggukan kepalanya, mengerti dengan pemikiran anaknya.


"Kita pernah menjadi orang miskin, jadi angat paham bagaimana susahnya mencari uang. Tidak akan aku biarkan, dia mengambilnya sepeserpun." ujar Rendy yang tegas. Gilang tersenyum manis melihat anaknya berjiwa pemberani.


Tiga puluh menit kemudian...


Rendy masuk ke perusahaan papanya dengan langkah terburu-buru. Hari ini, dia harus menjabat menjadi seorang ob. Tidak boleh terlambat atau bisa membuat teman kerjanya membully dirinya. Namun saat Rendy sampai di lobi, dia melihat gadis yang di anggapnya aneh tengah berdiri di sana sedang berdebat dengan kasir.


"Pokoknya aku mau bertemu papaku sekarang juga! Tidak ada kata tapi!" teriak gadia itu sambil menepuk meja membuat semua orang yang berjalan di sekelilingnya menoleh ke arahnya.


"Dia pikir siapa, berani memerintah di perusahaan papaku. Tidak tahu malu sekali." ujar Rendy yang jijik melihat tingkah tidak tahu diri gadia itu. Dia memilih pergi dari sana daripada berlama-lama menatap wajah gadis yang di anggapnya aneh.


"Hei! Kau pasti ob baru! Kenapa terlambat? Mau di pecat?" tanya salah seorang laki-laki yang berpakaian ob. Rendy memutar tubuhnya menghadap ke orang itu.

__ADS_1


"Maaf, tadi sempat macet di jalan." jawab Rendy yang menundukkan wajahnya.


"Macet? Kau membuat alasan karena macet? Bukannya setiap hari memang selalu macet. Ada-ada saja, cepat ganti pakaianmu!" titahnya sambil mendorong tubuh Rendy. Beruntung Rendy sigap membuat tubuhnya tidak terjatuh.


"Dasar orang aneh. Berani sekali dia bersikap kasar padaku. Awas saja kau!" umpat Rendy setelah orang tadi pergi.


Rendy berjalan ke ruang ganti, memakai pakaian ob yang tidak seharusnya dia kenakan. Setelah bercermin memastikan ketampanannya, Rendy keluar dengan senyum ramahnya. Dia belajar membuat kopi sesuai resep yang dia dapatkan dari google. Tiba-tiba tubuhnya terdorong ke depan membuat kopi yang telah di buatnya terjatuh ke lantai.


"Sial, siapa yang mendorongku?" tanya Rendy yang berbalik melihatnya. Siapa sangka, orang yang membuatnya jijik justru tengah berdiri di belakangnya dengan tatapan marah.


"Hei, rendahkan suaramu. Kau hanya seorang ob, berani sekali bicara kasar denganku. Jangan membuat aku semakin kesal dan marah!" balasnya.


"Huff, kau lagi kau lagi. Benar-benar merepotkan!" ujar Rendy dengan suara perlahan.

__ADS_1


__ADS_2