Anak Bak Dewa

Anak Bak Dewa
Bab 29. Ingin Menemui Gilang Sebelum Pergi


__ADS_3

Di rumah nenek Rani, Gilang mengumpulkan semua anggota keluarganya. Dia ingin memberitahu kabar gembira kepada semua orang. "Akhirnya, aku menemukan Kanaya yang selama ini aku cari, Nek." ucap Rendy mengelus lembut tangan nenek Rani.


"Benarkah?"


"Iya, benar. Selama ini, aku dan dia selalu bertemu tetapi tidak aku sadari sampai akhirnya Rendy datang dan mengaku sebagai anakku. Aku sudah memastikannya kepada orang suruhanku yang menyelidiki Kanaya dan semuanya benar. Hanya saja, dia tidak memberitahuku lebih awal karena ada orang lain yang memberinya perintah untuk tidak memberitahukan padaku dimana Kanaya berada. Bahkan sampai mengancam orang suruhanku hingga dia tutup mulut." jelas Gilang dengan wajah kesal.


"Siapa dia? Kenapa berani sekali melawan kita?" tanya Reyhan yang ikutan kesal.


"Dia dari perusahaan MP Group. Aku juga sepertinya belum pernah bertemu langsung dengan orangnya. Tetapi, aku akan memberinya sedikit perhitungan." kata Gilang sambil mengepal kedua tangannya.


"Lalu bagaimana urusanmu dengan Friska? Selesaikan cepat dan bawa Kanaya bertemu nenek bersama cicitku." ucap nenek Rani dengan wajah senangnya.


"Besok akan aku beritahu semuanya. Lagian, acara pernikahan pura-puraku dengan Friska di adakan besok kan?" ucap Gilang dengan antusias.


"Benar. Mak lampir itu pasti akan menangis tersedu-sedu besok. Aku tidak sabar melihatnya." ucap Mizuki.


"Pastikan Azal juga datang, biar dia tahu bagaimana rasanya ketika semua rencananya yang sudah di susun rapi mendadak hancur." kata Gilang dengan tersenyum miring.


"Baiklah, kita tunggu besok. Perusahaan kita juga sudah mengklaim kerja sama dengan Azal agar bisa di batalkan semua. Aku yakin, perusahaannya akan langsung bangkrut." jelas Reyhan tidak sabar menantinya.


**********


Keesokan Harinya...


Rendy sudah bersiap, semua barang Kanaya juga sudah di bereskan. Kanaya lalu menarik Rendy untuk keluar dari kosannya.


"Ma, apa kita sebaiknya bertemu papa dulu biar dia tahu kita pulang ke kampung." usul Rendy.


"Baiklah, nanti aku bilang kepada senior karena dia yang akan mengantar kita pulang." ucap Kanaya mematuhi perintah anaknya.


"Mama jangan dekat-dekat dengan senior, ingat itu." ucap Rendy menatap Kanaya dengan tajam.


"Iya. Mama janji tidak akan dekat dengan senior sampai Rendy memberi lampu hijau untuk jalan. Ha ha ha." ucap Kanaya menggoda anaknya.


"Hemmm, tidak akan aku beri." kata Rendy yang berlari keluar menemui Ramadhan lebih dulu.


"Anak itu, keras kepala sekali." ucap Kanaya yang berubah menjadi kesal. Lalu berjalan menyusul Rendy.

__ADS_1


"Kanaya, semuanya sudah siap kan?" tanya Ramadhan memastikannya karena sedari tadi dia bicara dengan Rendy tidak kunjung di respon.


"Sudah siap. Tetapi sebelum pergi, Rendy bilang ingin ke apartemen Gilang. Tolong yah, antar kami ke sana dulu biar Rendy tidak kecewa." mohon Kanaya sambil menatap Ramadhan lekat-lekat.


"Jadi Rendy mau bertemu Gilang?" tanya Ramadhan tetapi sikap Rendy masih sama. Dia tidak mau merespon.


"Rendy, jangan seperti ini. Bersikap sopan pada senior." tegur Kanaya sambil memegang tangan anaknya.


"Gilang itu siapanya Rendy, kenapa ingin bertemu?" tanya Ramadhan penasaran.


"Oh, dia teman Rendy." jawab Kanaya dengan tersenyum paksa.


"Bukan, dia papa-ku." sahut Rendy membantah perkataan Kanaya.


"Papa-mu?" Ramadhan mengeritkan kedua alisnya, bukan karena terkejut Rendy tahu Gilang papanya. Tetapi, bagaimana bisa Rendy tahu jika Gilang papa-nya padahal Ramadhan sudah berusaha menutup rapat kebenaran ini.


"Serius, Kanaya?" tanya Gilang menatap Kanaya.


"Maaf, senior. Ini urusan pribadi, aku tidak bisa mengubarnya terlalu jauh." jawab Kanaya dengan suara pelan.


"Baiklah, kita berangkat ke apartemen Gilang." ucap Ramadhan membuka pintu mobilnya sambil mempersilakan Rendy dan Kanaya masuk.


Ramadhan lalu mengirim pesan kepada anak buahnya, dimana acara pernikahan Gilang diadakan. Setelah mendapat balasan, Ramadhan membalikkan mobilnya ke arah lain.


"Loh, kenapa kita berbalik pulang? Aku kan mau bertemu papa!" Protes Rendy.


"Aku tahu, tetapi Gilang tidak berada di apartemennya saat ini. Dia sedang berada di sebuah gedung." jelas Ramadhan.


"Apa? Untuk apa dia berada di gedung?" tanya Rendy sambil memperhatikan Ramadhan dengan tajam.


"Mengelar sebuah pernikahan. Apa Gilang tidak mengundang kalian?" pancing Ramadhan. Rendy dan Kanaya saling berpandang dengan wajah bingung, tidak tahu soal ini.


"Kau serius, senior? Darimana kau tahu?" tanya Kanaya.


"Temanku di undang makanya aku bisa tahu. Selain itu, Gilang kan presdir Bintang group, tentu pernikahan ini sudah di siarkan dimedia." ucap Ramadhan mencari alasan karena sebenarnya pernikahan Gilang tidak ada satu pun media yang mengetahuinya.


"Tunggu sebentar, biar aku cek dulu." ujar Rendy yang fokus dengan jam tangannya. Tidak berselang lama, kedua bola mata Rendy terkejut. Lokasi mobil Gilang memang berada di sebuah gedung.

__ADS_1


'Dia tidak berbohong, papa memang berada di sana. Tetapi, darimana paman ini tahu, bukannya dia sempat bertanya siapa Papa?' guman Rendy melirik Ramadhan diam-diam.


'Hemm, mencurigakan. Aku harus menyelidikinya.'


Mobil Ramadhan sudah sampai di depan gedung dimana pernikahan Gilang diadakan. Rendy dan Kanaya lalu turun dan berjalan masuk di ikuti Ramadhan.


"Maaf, sebelum kalian masuk. Boleh perlihatkan kartu undangannya?" cegah dua orang penjaga yang berdiri di pintu masuk.


'Bagaimana ini, aku bahkan tidak tahu kalau harus ada kartu undangan baru bisa masuk.' umpat Rendy mencari solusi.


"Kami tidak punya kartu undangan. Tetapi, kami kenal orang yang menikah di sini. Dia Gilang kan?" ucap Kanaya mencoba menyakinkan para penjaga.


"Ha ha ha, jangan bercanda. Kami juga kenal siapa yang menikah di sini." jawab salah satu pengawal yang di sambut tawa oleh pengawal lainnya.


"Gilang Wijaya, tinggi 178 cm, berat 65 kg, lahir pada tanggal 19 desember 1985, golongan darah A. Apa aku salah?" sahut Rendy.


"Hei, apa yang dikatakan anak ini?" bisik pengawal satunya kepada temannya.


"Mungkin mencoba meyakinkan kita jika dia mengenal pak Gilang. Apa kita biarkan saja masuk?" bisik balik temannya.


"Jangan, kita kan tidak tahu apa yang dikatakannya itu benar. Bisa saja, dia hanya mengarangnya."


"Kalau ucapannya sampai benar, kita bisa kehilangan pekerjaan. Kau tahu sendiri, pak Gilang tidak akan mengampuni kita." ucap pengawal yang ketakutan.


"Baiklah, kau boleh masuk. Tetapi, apa benar kalian kenal dengan pak Gilang?" tanya pengawal memastikannya kembali.


"Kalau tidak percaya, ikut kami. Biar aku memperkenalkanmu langsung kepada papa-ku." ucap Rendy.


"Apa? Papa? Bukannya pak Gilang baru mau nikah kok langsung punya anak?" tanya dua pengawal dengan wajah heran.


"Sudah, Ren. Ayo kita masuk dan temui Gilang." ujar Kanaya sambil menarik tangan anaknya.


Tiba-tiba ponsel Ramadhan berdering ketika mendapat pesan.


[Rupanya, Gilang hanya mempermainkan tunangannya. Dia tahu semua rencana licik tunangannya bersama Pak Azal. Keadaan di dalam sini semakin ricuh, Pak. Gilang memberi pengumuman jika dia sudah punya anak dari sang kekasih lain dan akan segera menikah.]


Ramadhan terkejut ketika membaca pesan anak buahnya. Dia lalu menatap ke depan dimana Rendy dan Kanaya sudah masuk ke dalam gedung.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak akan biarkan dia menemui Gilang saat ini. Pokoknya, aku yang harus menikah dengan Kanaya. Sudah lama aku mencintainya dan tidak akan aku biarkan begitu saja meski anaknya yang menghalangiku." ucap Ramadhan dengan panik sambil mencari solusi menghentikan Kanaya dan Rendy masuk.


__ADS_2