
"Azal! Azal! Keluar kau!" teriak Friska yang memasuki rumah Azal. Perekam suara Rendy berhasil menangkap suaranya. Kebetulan kakek berada di ruang tamu yang membawa barang-barangnya.
"Dimana Azal?" tanya Friska kepada sang kakek yang baru tiba.
"Aku ngak tahu, non. Aku saja baru sampai." jawab sang kakek yang membuat Friska kesal.
"Azal! Azal! Kamu dimana?" teriak Friska semakin keras membuat sang kakek menutup telingannya. Bibi Unni datang menghampiri. Dia lalu memeluk suaminya yang sudah datang.
"Ya ampun, bapak. Kok ngak memberi kabar kalau mau datang?" tanya Bibi Unni yang merasa senang. Dia pun berteriak memanggil Alex.
"Alex! Alex! Kakek datang!" teriak Bibi Unni sambil menyambut suaminya lupa kalau Friska berada di sampingnya sedang menatapnya dengan tajam.
"Bibi tidak tahu diri, kau masih sempat bermesraan dengan kakek tua bangka ini. Cepat panggilkan aku, Azal!" perintah Friska dengan nada suara keras dan tegas.
"Iy.. Iya, non." jawab Bibi Unni yang berjalan meniki tangga. Tiba-tiba dia kembali ke bawah karena melihat Azal sudah turun bersama Alex.
"Ini ada apa sih, ribut sekali. Ada yang panggil aku, ada yang panggil Alex. Aku jadi bingung." jawab Azal yang berjalan perlahan menghampiri tiga orang itu.
"Kakek!" Alex segera berlari memeluk sang kakek yang berdiri di samping bibi Unni. Wajah Alex yang masih ngantuk kembali berbinar-binar. Friska melirik sebentar lalu mengalihkan pandangannya karena tidak suka.
"Ada apa, Friska?" tanya Azal seketika yang melihat wajah Friska menjadi tidak suka seperti itu.
"Aku mau bicara denganmu, tetapi usir dulu pengganggu ini. Aku tidak mau mereka ada di sini, hidungku seolah mau rusak mencium bau badan mereka." ucap Friska yang membelakangi Bibi Unni dan keluarga.
Azal lalu menoleh ke arah bibi Unni, mengangguk memberi kode kepada Bibi Unni. Bibi Unni pun mengerti dan membawa suaminya masuk ke dalam kamarnya.
Mereka tidak membawa barang sang kakek membuat Rendy mendengar seluruh pembicaraan Friska dan Azal nantinya.
"Waktunya merekam ceritanya." ucap Rendy yang menyalakan rekaman suara dari ponselnya.
__ADS_1
"Katakan ada apa, tidak biasa kau datang dengan wajah kesal seperti itu. Apa terjadi sesuatu denganmu atau rencanamu gagal lagu?" tanya Azal sambil duduk di sofa empuknya.
"Anak itu, bukan hanya genius tetapi pintar meloloskan diri. Entah bagaimana caranya dia bisa melakukan semua itu. Aku sudah tiga kali gagal, bagaimana ini, Zal. Kalau anak kecil itu mengadu kepada Gilang, Gilang akan semakin membenciku." jelas Friska yang ketakutan.
"Kau masih punya kartu As, bukan begitu?" ucap Azal dengan santai.
"Kartu As?"
"Iya, kartu itu bisa kau gunakan jika berada dalam kesulitan. Dia pasti akan datang membantumu dan mengeluarkanmu dalam kesulitan ini. Lalu, kenapa kau tidak menggunakamnya sekarang?" ucap Azal sambil melipat kedua tangannya. Ini yang dia paling suka dari Friska. Dia juga akan mendapat keuntungan jika terus bekerja sama dengan Friska.
"Kartu as?" Rendy mencoba berpikir apa maksud dari perkataan Azal. Kartu As biasanya berpengaruh dan membawa keuntungan pada pemiliknya. Rendy baru sadar ketika ponselnya berdering.
"Iya, halo?" ucap Rendy.
"Baik, aku segera ke sana. Terima kasih untuk informasinya, pak." jawab Rendy sambil mematikan panggilannya dan keluar dari tempat persembunyiannya.
Sebelum berangkat ke sini, Rendy sempat mengungah postingan di media sosial tentang penculikan yang terjadi pada nenek Rani. Karena mobil penculik itu melewati jalan raya membuat banyak orang melihatnya, terlebih terdapat kecelakaan juga waktu itu yang di sebabkan oleh mobil penculik itu.
Setelah sampai di sana, lima orang sudah di amankan petugas. Rendy lalu masuk dan melihat mereka. "Hanya ini yang tertangkap, pak? Apa orang yang menyuruh mereka belum di tangkap?" tanya Rendy yang memancing polisi.
"Anda siapa, dek? Tolong yah jangan mengganggu kami yang sedang sibuk bekerja." ucap salah satu petugas di sana.
"Hai, kalian. Bawa lima orang ini ke sel, cepat!" teriaknya kembali memberi perintah.
Rendy melambaikan tangan kepada lima orang yang bermain-main dengannya membuat pemimpin geng motor itu ingin menyerang Rendy tetapi tubuhnya di tahan oleh petugas polisi. Rendy lalu duduk di depan detektif yang mengatasi masalah ini.
"Permisi, pak. Masih ada dua orang yang harus bapak tangkap, mereka kaki tangan orang tadi." ucap Rendy dengan jelas. Sang detektif pun tersenyum.
"Bagaimana bisa kau tahu, apa kau yang mengirimkan kami laporan?" tanyanya.
__ADS_1
"Iya, itu aku, Rendy Wijaya." ucap Rendy yang menekan kata Wijaya karena semua petugas polisi akan mendengarkan dirinya jika membawa nama papa-nya.
Setelah mendengar nama Wijaya di belakang, semua petugas polisi saling berpandang. Orang yang meneriaki Rendy tadi, melangkah mendekati Rendy sambil bertanya. "Nak, apa kau anak dari Gilang Wijaya?" tanya petugas polisi.
"Iya, kalau kalian mau silakan hubungi papa-ku. Tetapi, biasanya dia akan sangat marah karena kalian tidak percaya dengan keluarganya. Lalu, masalah apa yang akan terjadi? Kalian pasti tahu jawabannya." ucap Rendy yang memberi ancaman pada semua petugas kepolisian. Bahkan sang detektif pun merasa takut juga.
"Tadi anda mengatakan jika masih ada dua orang yang tersisa. Boleh beritahu kamu dan jika ada bukti anda bisa berikan kepada kami biar orang kami yang menangani kasus ini dengan baik." ucap pak detektif berbahasa formal.
"Baik, paman detektif. Aku akan mengirim semua informasi yang sudah aku dapatkan. Tolong pak detektif melakukan proses penangkapan malam ini juga setelah mendapat surat persetujuan. Aku takut mereka kabur nanti." jelas Rendy.
"Tentu saja, itu bisa di atur. Tetapi, apakah anda tidak masalah jika anda tidak memberitahu apa yang terjadi di sini tadi? Salah satu petugas polisi meneriaki anda dan ada juga detekfit yang tidak mengenal anda." ucap sang detektif dengan wajah gugup.
"Aku bisa menjaga rahasia dengan baik selama kalian semua menuruti perintahku." jawab Rendy dengan santai membuat semua petugas polisi sedikit lega.
Setelah urusan dengan polisi sudah selesai, Rendy keluar dari sana. Ketika berada di tempat parkir, Kanaya datang berlari menghampirinya bersama Riani. "Rendy kau baik-baik saja? Kenapa keluar dari kantor polisi, apa kau membuat masalah?" tanya Kanaya sambil meraba-raba tubuh anaknya.
"Rendy baik-baik saja, Ma." jawab Rendy yang terkejut dengan kedatangan Kanaya mendadak.
"Lalu, kenapa kau keluar dari kantor polisi. Apa kau membuat masalah? Jangan bilang iya, kepalaku akan semakin pusing memikirkanmu." ucap Kanaya yang menjadi kesal.
"Mama melihatku?" tanya Rendy.
"Kami baru saja mengantar makanan di sekitar sini dan tidak sengaja melihatmu yang keluar dari kantor polisi. Kanaya panik sampai menabrak pembatas jalan." sahut Riani memberi penjelasan.
"Mama terlalu berlebihan, apa di otak mama aku anak yang sering membuat masalah?" ucap Rendy dengan enteng.
"Iya, kau sering membuat masalah denganku. Makanya aku sangat khawatir kalau kau pergi sendirian. Hari ini mungkin keluar dari kantor polisi, besok keluar dari pengadilan, esoknya lagi keluar dari rumah sakit. Sebenarnya apa yang kau cari, ha?" tanya Kanaya yang ikut menjadi bingung dengan jalan pemikiran Rendy.
"Aku ingin keluar dari taman bermain, apa mama ada waktu malam ini bermain bersamaku?" tanya Rendy yang menatap Kanaya dengan mata berbinar-binar.
__ADS_1
"Iya, baiklah. Tetapi, kau harus jelaskan nanti apa masalahmu sampai kau berada di sini. Ingat." ucap Kanaya yang kembali memasang wajah lemah lembutnya kepada anaknya.