
Kakek Dirgantara mondar mandir di dekat ruang tamu, lelah menunggu hampir dua jam Rendy tidak kunjung keluar memberi informasi.
"Anak itu lama juga membobol perusahaan Gilang. Apa ada masalah di dalam?" tanya Kek Dirgantara kepada anak buahnya.
Tidak ada yang menjawab, bahkan hanya terdengar sebuah dengkuran. Dirgantara lalu menoleh dan melihat semua anak buahnya tertidur dengan lelap di sofa.
"Bagus kalian tidur, apa aku juga membayarmu untuk ini!" teriak Dirgantara.
Empat orang anak buahnya terbangun dengan kaget, bahkan si kalem sampai terjatuh. "Maaf, bos." ucap mereka kompak sambil menundukkan diri.
"Sekarang, kalian masuk dan periksa anak genius itu." titah Dirgantara dengan suara meninggi sambil menunjuk ke arah kamar dimana Rendy berada.
"Loh, bos. Bukannya anak itu melarang kita mengganggunya saat dia sedang fokus?" tanya Si kalem dengan wajah bingung.
"Iya, aku juga tahu. Tetapi, ini sudah lama sekali. Aku takut anak itu kesulitan."
"Tetapi, bukannya bos sendiri yang bilang jika anak itu Genius?" Ucap kembali Si Kalem. Semua teman-temannya hanya mengangguk membenarkan.
"Kau ini kalem tetapi suka bertanya. Aku bilang periksa, ya periksa." ucap Dirgantara tidak mau di bantah.
"Tetapi bos..."
"Kalian tidak mau di gaji?" ancam Dirgantara yang reflesh membuat semua anak buahnya berlari membuka pintu dengan terburu-buru.
"Biar aku saja yang buka." kata Si kalem sambil memegang gang pintu. Tiba-tiba, pintu terbuka dengan sendirinya dan memperlihatkan Rendy masih ada di dalam kamar sambil menghadap ke arahnya dan memegang sebuah remot seperti tivi.
"Anak kecil, kau tidak bekerja?" tanya Si kalem yang ingin melangkah masuk ketika melihat Rendy tidak mengetik di komputernya. Tetapi, pintunya tiba-tiba terjatuh dan menimpah Si kalem. Semua orang yang ada kaget melihatnya.
"Ha ha ha, rasakan itu penculik." ucap Rendy dengan tertawa lebar, begitu senang membalas dendam.
"Apa yang kau lakukan anak kecil!" teriak Dirgantara dengan suara tinggi.
Rendy berjalan perlahan, dia sudah tahu berapa banyak jebakan ada di rumah ini. Dan dengan kecerdasannya, dia berhasil membuat remot untuk mengendalikan jebakan itu.
__ADS_1
"Kakek tua, aku sudah katakan padamu jangan mencari masalah denganku. Kau dalam bahaya sekarang." ucap Rendy dengan tersenyum seperti Gilang. Senyumnya terlihat menyeramkan walau wajahnya tampak tampan dan imut.
"Kenapa anak itu mirip sekali dengan Gilang?" tanya Dirgantara yang terkejut melihatnya perubahan ekspresi Rendy.
"Bos, bagaimana ini bos. Monster sudah tiba, kita tidak bisa melakukan apa-apa." Teriak anak buah Dirgantara yang menjadi panik. Tetapi, Dirgantara malah tersenyum penuh ancaman.
"Apa anak kecil bisa mengalahkan kita? Tangkap dia, cepat!!" teriak Dirgantara memberi perintah sambil menujuk Rendy.
Tiga orang anak buahnya merasa ragu, tetapi ini perintah bosnya dan dia tidak boleh menolak, maka dengan terpaksa mereka melakukannya. Mereka bertiga melangkah perlahan mengepung Rendy.
"Tenang anak kecil, kami tidak bermaksud jahat." ucap anak buah Dirgantara berusaha menenangkan Rendy.
"Kami akan membelikanmu es krim jika kau mau memberikan dirimu dengan baik." ucap yang satunya lagi.
"Benar, apapun yang kamu mau aku belikan. Es krim, laptop, rumah, semuanya." bujuk satunya lagi.
Dirgantara hanya menggeleng kepalanya melihat tingkah anak buahnya yang tidak berguna. "Kenapa kalian malah bermain-main, cepat tangkap dia!" tutur Dirgantara yang sudah kehabisan kesabaran.
Mereka bertiga melompat bersamaan, karena tubuh Rendy begitu kecil dia berlari menjauh dan bersembunyi di balik meja sofa yang pas dengan ukuran tubuhnya.
Brak..
Brak**..
Tiga orang tergeletak di lantai dengan tersusun ke atas. Rendy tertawa terbahak-bahak melihatnya. Dirgantara tidak mau tinggal diam, dia bergerak sendiri menangkap Rendy. Menarik kaki Rendy agar bisa keluar dari sana.
"Kakek sudah tua, masih saja melawan anak muda. Lepaskan sebelum gigi kakek hilang!" teriak Rendy yang kesakitan karena kaki kecilnya ditarik paksa.
"Apa kau pikir aku akan percaya padamu? Tidak akan, kau salah menilai diriku. Walau tua, aku cukup pintar dari anak kecil sepertimu. Dasar anak nakal!" ucap Dirgantara terus menarik keluar sebelah kaki Rendy agar bisa membekuk anak itu. Dia tidak kasihan melihat wajah Rendy yang ingin menangis karena kesakitan. Jejak tangannya sampai membekas membiru.
"Mama.. Tolong..." teriak Rendy yang tidak bisa menahan rasa sakitnya.
Sementara di dalam mobil Gilang, perasaan Kanaya tidak baik lagi. Keringat dingin mulai bercucuran. Jangtungnya berdebar dengan keras dan dadanya terasa nyeri.
__ADS_1
"Kau kenapa?" tanya Gilang yang memberhentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Aku merasa, terjadi sesuatu dengan Rendy." ucap Kanaya dengan suara perlahan.
Gilang mengeritkan kedua alisnya, dia bingung mendengar perkataan Kanaya. "Bagaimana bisa kau tahu, Rendy kan tidak memberitahumu?" ucapnya.
"Aku ini seorang ibu, tentu saja insting ibu terhadap anaknya itu besar. Aku bisa merasakannya." ucap Kanaya sambil meneteskan air mata.
Gilang spontan mengusap air mata Kanaya, ikut merasa sedih. Bola mata mereka bertemu seketika dan darah gilang terasa panas.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Kanaya berusaha menetralkan emosinya.
"Tidak ada." jawab Gilang dengan wajah merah merona. Dia mendadak malu dan tidak tahu harus bilang apa.
"Kenapa kita jadi romantis seperti tadi, sementara anakku malah hilang. Harusnya kita bersedih dan menangis bareng." kata Kanaya yang menangis tersedu-sedu. Gilang ikut menangis membantunya sambil memeluk Kanaya. Mereka baru berhenti ketika ponsel Gilang berdering.
"Halo..." ucap Gilang dengan suara menangis.
"Pak Gilang, anda baik-baik saja?" tanya Alvin dari seberang telepon.
"Aku tidak baik-baik saja, anak temanku hilang. Aku jadi sedih dan ikut menangis." ucap Gilang bertambah membesarkan suara tangisannya.
Alvin semakin bingung, dia melihat nama layar ponselnya, mengira jika dirinya salah sambung. "Gilang, sadar! Aku sudah temukan alamat anak hilang itu. Lokasi yang tiba-tiba ada di map mobilmu, itu lokasi anak itu berada." Jelas Alvin.
"Benarkah? Jadi memang benar Rendy yang mengirimnya?" tanya Gilang yang merubah ekspresi wajahnya terlihat serius.
"Aku tidak begitu yakin jika anak itu mengirimnya, terlebih kau sendiri yang mengatakannya jika umurnya masih enam tahun. Aku merasa...."
Tut.. Tut.. Tut..
Gilang mematikan sambungan teleponnya sepihak. Dia lalu menyalakan mesin mobilnya. "Aku tidak butuh penjelasanmu, aku mau menolong Rendy sekarang." ucap Gilang yang melajukan mobilnya dengan kencang.
"Ayo, kita selamatkan anak geniusku. Aku akan mencincang daging penculik itu. Berani sekali dia menculik anak tampanku. Aku tahu kalau dia tidak ada duanya, tetapi bukan seperti itu caranya." kata Kanaya dengan penuh amarah walau dirinya juga sering memarahi Rendy. Tetapi, kasih sayang ibu lebih besar kepada anaknya.
__ADS_1
"Rendy, I'am Coming. You have to survive!" teriak Kanaya dengan penuh berani.