
"Apa? Kau sudah gila?" teriak Friska sambil menepuk meja di depannya. Gilang, sang tunangan mengajaknya makan malam ingin menbahas hal penting dan hal penting itu membuat Friska tercengang.
"Kau tahu sendiri, data-data perusahaanku di bobol. Orang itu meminta agar aku menemuinya di kafe Wins, aku tidak punya pilihan selain mengundur tanggal pernikahan kita." kata Gilang berusaha menenangkan Friska.
"Jujur, Lan. Aku tidak bisa menunggu lama lagi, aku tidak mau tahu pokoknya pernikahan kita harus dilakukan malam ini juga." kata Friska melawan.
"Friska, aku tidak bisa."
"Tetapi, Lan...." Friska menutup mulutnya, seolah tidak ingin mengatakannya. Masalah besar bisa datang jika dia memberitahu Gilang.
'Maaf, Lan. Aku hamil dan harus kau yang menjadi ayah dari anak ini. Aku tidak mau orang lain selain dirimu.' guman Friska sambil menangis.
"Friska, kenapa? Kau tiba-tiba menangis. Apa aku terlalu kasar padamu?" ucap Gilang sambil memeluk tunangannya.
"Maaf, yah. Tetapi pernikahan kita harus di tunda sampai malam ini. Aku harus menemui pelakunya." kecup Gilang di dahi Friska sebelum pergi meninggalkannya.
Sepulang sekolah, Rendy kembali menaiki taksi ke kafe milik kakek Kanaya. Kafe itu di kelolah turun temurun jadi wajar jika mereka tidak menjualnya walau butuh uang. Ibu Kanaya masih terus mempertahankannya sesuai warisan sang suami.
"Mama, aku pulang!" teriak Rendy yang masuk ke dalam kafe. Rendy terkejut melihat kedua orang asing penuh cat di tubuhnya.
"Siapa kalian? Apa pencuri? Aku hubungi polisi." ucap Rendy dengan cepat menghubungi polisi.
"Rendy, kau sudah gila ingin memenjarakan mama mu?" teriak seseorang yang mirip dengan suara Wana.
"Mama? Apa itu benar?"
"Iya, ini aku. Tubuhku penuh cat, tetapi tidak apa-apa karena aku segera membersihkannya." ucap Kanaya sambil berjalan ke kamar mandi. Rendy hanya mengangguk perlahan.
"Bagaimana denganku anak kecil, apa kau sudah mengenaliku?" tanya Riani seketika sambil memperlihatkan warna dan tubuhnya semuanya berubah menjadi putih.
"Tante Riani terlalu glowing, aku sampai tidak mengenali tante." kata Rendy berterus terang.
"Benarkah?" ucap Riani tersipu malu. Padahal, Rendy sejujurnya menyindirnya karena penuh cat putih.
Kanaya keluar setelah mengganti pakaiannya. Dia lalu memberi makan siang untuk Rendy. "Bagaimana keadaan di sekolah, semuanya baik-baik saja?" tanya Kanaya sambil memperhatikan Rendy menikmati makannya.
__ADS_1
"Iya, Ma." jawab Rendy dengan mulut penuh.
"Bagaimana dengan gajimu?" tanya Kanaya sambil berbisik.
"Maksud mama?" tanya Rendy dengan wajah bingung.
"Kau membobol perusahaan kemarin, uangnya sudah keluar?" ucap Kanaya dengan wajah antusias.
"Belum, Ma. Kalau mama mau ambil uangnya, datang ke kafe Wins saja. Jangan lupa memakai riasan wajah agar terlihat cantik." jelas Rendy.
"Apa? Aku harus datang ke sana? Tetapi untuk apa?" tanya Kanaya yang bingung. Dia menjadi takut jika sampai di sana lalu di datangi polisi.
"Tidak juga, aku hanya ingin mama menikmati makanan di sana. Aku sudah memesan satu meja untuk Mama. Bagaimana?"
"Oke, asal kamu beri mama uang banyak. Mama harus membeli beberapa peralatan untuk kafe ini." jelas Kanaya dengan wajah senang.
Rendy mengangguk lalu kembali menikmati makannya yang tertunda. Malam harinya, Rendy mulai menjalankan rencananya. Dia sengaja memesan tempat duduk lain untuk Gilang.
"Aku pesan satu meja atas nama Gilang." ucap Rendy bersuara bapak-bapak. Rendy sengaja mengubah suaranya agar sang resepsionis memberinya.
Tidak berselang lama, Rendy dan Kanaya masuk ke kafe Wins setelah memesan nomor meja. Sementara meja untuk Gilang berdekatan dengan meja mereka.
"Aku tampak berbeda kalau menggunakan riasan." ucap Kanaya yang takjub dengan penampilannya.
"Benar, mama sangat cantik seperti bidadari hatiku." goda Rendy dengan tersenyum manis.
"Kau masih kecil sudah bisa menggombal. Apa aku secantik itu?" ucap Kanaya yang berwajah bersinar mendapat pujian dari anaknya.
Tidak berselang lama, Gilang datang dan duduk di kursi yang sudah di pesan Rendy. Betapa terkejutnya Kanaya melihat presdir sombong itu.
"Dia lagi, dia lagi. Kenapa aku selalu bertemu dengannya?" umpat Kanaya dengan ekspresi tidak suka.
Gilang tidak memperhatikan, dia fokus menunggu orang yang membuat janji dengannya. Rendy diam-diam memperhatikannya.
Lima menit kemudian, Gilang belum mendapat kepastian. Dirinya mulai bosan menunggu dan terus menatap jam di tangannya.
__ADS_1
"Paman sedang menunggu seseorang?" sahut Rendy seketika. Gilang pun menoleh mendengar suara anak kecil.
"Rendy, apa-apaan kau ini. Jangan berbicara dengannya," tegur Kanaya yang tidak suka.
"Aku hanya bertanya saja, Ma. Soalnya, tadi datang seorang pria yang duduk di situ sedang menunggu juga." ucap Rendy.
"Apa? Jadi orang yang aku tunggu sudah pulang lebih dulu? Bukannya kami sepakat bertemu di sini malam ini?" ucap Gilang dengan wajah terkejut.
"Sudah pulang, paman. Dia sempat mengatakan kepadaku untuk memberitahu paman soal perusahaan paman katanya bakal baik-baik saja asal menuruti semua keinginannya yang akan dia kirim lewat pesan." jelas Rendy menjalankan rencananya.
"Ya ampun, aku kok bisa ketemu orang yang tidak bisa bertanggung jawab. Datang terlambat, entah seperti apa masa depannya nanti." sindir Kanaya.
"Kau sebaiknya diam, aku ini sedang bingung." kata Gilang yang kesal. Dia sampai memijat pelipisnya.
"Kalau paman merasa senggang, boleh gabung makan bersama kami. Kebetulan aku tidak punya papa." tawar Rendy yang membuat Kanaya melotot.
"Hei, Rendy!"
"Baiklah, aku gabung." kata Gilang tanpa berpikir panjang. Gilang seolah tidak bisa menolak tawaran Rendy yang menggemaskan.
"Hei, presdir sombong. Sebaiknya kau pulang dan jangan ganggu kesenangan kami." tutur Kanaya sambil menunjuk Gilang.
"Ma, jangan terlalu kasar. Nanti mama cepat tua dan yang lebih mengkhawatirkan lagi, Rendy tidak akan bisa dapat papa. Tidak ada orang yang bisa mendekati mama kalau bersikap seperti itu. Benar kan paman?" tajya Rendy yang menoleh ke arah Gilang.
"Apa?" ucap Gilang yang terkejut. Mendadak namanya di sebut.
"Bisa saja nanti paman dan mama saling suka." tambah Rendy yang tersenyum senang.
"Kau salah menilai mamamu. Pria seperti dia, bukan tipa idaman mama." kata Kanaya dengan angkuh. Sementara Gilang, dia merasa ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Sebuah ikatan yang mendalam antara dirinya dan Rendy.
"Dia anakmu?" tanya Gilang seketika.
"Kenapa? Apa wajahku terlihat lebih mudah hingga kau tidak menyangka diriku punya anak satu?" jawab Kanaya memuji dirinya.
"Mama belum menikah, tetapi aku malah lahir lebih dulu. Itu semua karena ada seorang pria yang meniduri mamaku di sebuah hotel. Kami sedang mencari papa asliku. Saat menemukannya nanti, mama dan papa ku harus menikah." jelas Rendy yang semakin membuat Gilang terkejut. Bayangan masa lalu lima tahun lalu masih tersimpan di otaknya seolah berputar menampilkannya.
__ADS_1