
Selesai bekerja, Rendy tidak langsung pulang. Dia menunggu Gadis di tempat parkir. Saat melihat Gadis keluar, baru Rendy pura-pura berjalan. Niatnya hanya satu, Gadis melihatnya dan memberi Rendy tumpangan.
Apa yang Rendy pikirkan benar terjadi, Gadis menghentikan mobilnya dan mengajak Rendy naik.
"Dia memang bodoh!" umpat Rendy di dalam hati sambil tersenyum kecil pada Gadis.
"Rumahmu dimana? Kau mau aku antar sampai depan rumah?" tanya Gadis saat Rendy sudah selesai memasang sabuk pengaman.
"Tidak perlu, kau menurunkan aku di depan perempatan depan sana!" tunjuk Rendy.
"Ngomon-ngomon, Ob. Aku merasa kau bukan orang miskin saat pertama kita bertemu. Aku juga tidak mengira, kau bekerja sebagai ob. Pakaianmu waktu itu sangat bagus, apa kau memakai merek pakaian palsu?" tanya Gadis berterus terang.
"Kau rupanya anak yang jujur, ini semakin menarik!" guman Rendy.
"Aku selalu bergaya seperti orang kaya. Bukannya semua orang suka berteman dengan orang kaya?"
"Tetapi, kau tidak harus melakukannya. Kau bisa menjadi temanku, aku tidak pandang teman dari harta. Yang jelas dia baik padaku, aku akan langsung menerimanya." jelas Gadis kembali.
"Ciuhh, dasar munafik!" umpat Rendy.
Setelah sampai di perempatan, Rendy segera turun. Rendy sadar, mobil Gadis diikuti saat keluar dari ruang parkir perusahaan papanya. Rendy pun tidak memberitahu Gadis karena yakin yang mengikuti Gadis pasti orang kakeknya. Terlihat jelas dari mobil yang mereka pakaian menggunakan nama pt bintang grup.
"Kakeknya luar biasa! Ancamanku kemarin membuatnya ketakutan hingga mengirim anak buahnya. Dia pikir aku musuh yang bodoh?" ucap Rendy yang memasuki gang kosong.
Empat orang turun dari mobil segera berpencar mencari Rendy. Mereka berkeliling di tiap lorong, berusaha menemukan Rendy yang barusaja turun dari mobil Gadis.
__ADS_1
"Cari terus anak itu, kita harus bawa kehadapan tuan!" teriak seorang kakek yang sudah tua ikut serta dalam pencarian anak buah kakek Gadis.
"Mereka merepotkan sama sekali, aku lebih suka bermain bersamanya." ucap Rendy menarik tasnya, mengambil pakaian hitam dan penutup wajah agar dirinya seolah penjahatnya.
"Hei, kalian! Kenapa ada disini? Ini kawasanku dan aku yang berkuasa disini." titah Rendy sambil menunjuk mereka satu per satu.
"Siapa dia? Apa kita disuruh menangkapnya?"
"Perasaan, tidak. Hanya laki-laki yang bersama perempuan itu yang harus kita bawa kehadapan tuan!" ucap pemimpin mereka.
"Biarkan saja preman sok jagoan itu!" ucapnya lagi yang menarik anak buahnya mencari keberadaan Rendy.
"Hei! Aku bukan preman sok jagoan! Kalau berani lawan sini!" ucap Rendy mengajukan jari telunjuknya memberi ejekan pada mereka. Tentu saja, emosi mereka memuncak tidak suka direndahkan. Dengan cepat mereka berlari ke arah Rendy, menyerang sekuat tenaga.
Rendy menghindar dengan mudah, berlari memancing mereka ke markas Alex yang tidak jauh. Saat sampai disana, Rendy masuk ke sebuah gudang tempat anak buah Alex berada.
"Ini aku, Rendy. Lawan kalian ada di depan sana!" perintah Rendy yang membuka penutup wajahnya. Dia kemudian bersembunyi sambil menghubungi Alex.
"Baiklah, ayo kita serang musuh di depan!" ucap mereka berjalan bersamaan keluar dari gudang.
"Hei! Kau ada dimana? Anak buahmu mendadak diserang. Mereka semua berbaring tidak berdaya. Apa kau yakin mereka bisa membantuku mengalahkan musuhku?" Goda Rendy yang menghubungi Alex untuk memancing kemarahan Alex. Padahal, Rendy sendiri tidak tahu, siapa yang akan menang diluar sana meski sudah terdengar kegaduhan.
"Aku segera kesana! Pastikan musuhku tidak kabur! Aku yang akan maju melawan mereka, mematahkan tulang kakinya!" ucap Alex yang terpancing.
"Cihh, dia masih sama seperti dulu. Terima kasih, Alex!" ucap Rendy usai mengakhiri panggilan teleponnya. Meski Alex terdengar galak, tetapi dia adalah teman Rendy satu-satunya yang bisa diandalkan.
__ADS_1
**
**
Keesokan Harinya...
Rendy bangun perlahan saat alarmnya berbunyi. Wajahnya yang suram dan rambut yang berantakan membuat Rendy terlihat tampan.
Ceklek..
Ceklek..
Ceklek..
Kanaya tersenyum puas berhasil mengambil foto anaknya yang habis bangun tidur. Dengan senyum terukir di bibirnya, dia melihat hasil fotonya tanpa mempedulikan Rendy yang kebingungan.
"Apa yang mama lakukan? Kenapa bisa masuk ke kamarku?" tanya Rendy yang terkejut.
"Apa maksudmu? Ini rumah mama jadi bebas mau kemana. Ke kamar mandi, ke ruang tamu, kamu tidak berhak mengatur mama." jelas Kanaya dengan mata fokus ke kamera ponselnya.
"Lalu, apa yang mama barusan lakukan?" tanya Rendy yang sudah tahu. Tangan Kanaya disembunyikan dibelakang sambil memegang ponselnya.
"Mengupload foto natural anak mama!" teriak Kanaya berlari keluar dari kamar Rendy dengan cepat. Mata Rendy membulat, bagaimana bisa dirinya dipermalukan seperti ini.
Pengikut mamanya di sosial media sangat banyak, wajahnya yang berkelas harus luntur dapam sekejap.
__ADS_1
"Mama! Jangan lakukan itu!" teriak Rendy berlari mengejar Kanaya.