Anak Bak Dewa

Anak Bak Dewa
Bab 43. Hukuman


__ADS_3

Ketika Rendy keluar dari sekolah, dia menatap sekelilingnya, memastikan keadaan di sekitarnya. Terlihat dua orang yang bertingkah mencurigakan. Mereka selalu mondar mandir di dekat mobilnya sambil melirik Rendy yang berdiri tidak jauh darinya.


"Ada mau aku antar pulang?" tawarnya seketika sambil berjalan mendekati Rendy.


Melihat orang itu berani mendekatinya, Rendy segera berlari ke tempat para emak-emak berkerumung yang kebetulan belum pulang karena masih menunggu anak mereka.


"Aku hubungi mama untuk menjemputku." ucap Rendy yang menarik ponsel dari tasnya, segera menghubungi Kanaya.


"Iya, Rendy? Apa kau sudah pulang, mama segera sampai di depan sekolahmu." ucap Kanaya yang sudah berada di tengah jalan.


"Baik, Rendy tunggu mama di sini. Cepat yah, ada dua orang yang mencurigakan di sini. Mereka selalu melirikku sambil berpikir sesuatu." ucap Rendy memberitahu Kanaya dengan suara bisik-bisik.


"Apa? Oke, mama segera sampai." ucap Kanaya yang menancap gas motornya.


Setelah emak-emak selesai bicara, mereka lalu menemui anaknya dan pergi dari sana. Tinggal Rendy seorang diri, kedua orang itu terlihat senang. Ketika mereka kembali mendekati Rendy, keluarlah para guru dari dalam sekolah. Aksi mereka pun di urungkan.


Tidak berselang lama, Kanaya datang dengan sepeda motornya. Rendy langsung naik membuat kedua orang itu segera masuk ke dalam mobil mengejarnya. "Cepat tangkap, dia! Jangan sampai lolos." ucap salah satunya memberi perintah kepada temannya yang mengemudi.


Kanaya menancap gas terus menerus hampir membuat Rendy seolah ingin terbang. "Pegang yang erat Rendy! Kita harus kabur dari mereka!" teriak Kanaya.


"Siap, Ma!" balas Rendy yang semakin mempererat pelukannya kepada Kanaya.


Ketika mereka berada di pertigaan dan lampu kebetulan berwarna merah, Kanaya tersenyum sinis. Kanaya langsung melajukan motornya ke pinggir jalan, melewati lampu merah membuat orang yang berjalan kaget dan terkejut. Mobil yang mengejar Kanaya tidak bisa mengejar lagi. Mereka berdua hanya bisa mengumpat di dalam mobil sambil menunggu lampu berubah warna.


"Kita berhasil!" teriak Rendy dengan senang. Kanaya pun kembali melajukan motornya dengan kecepatan sedang sambil menuju kafenya.

__ADS_1


"Aku lumayan bisa di andalkan juga." puji Kanaya ketika dia dan Rendy sampai dengan selamat di depan kafe-nya. Mereka berdua lalu masuk menemui Riani yang sudah lebih dulu bekerja melayani pelanggan.


"Maaf baru datang, Riani. Kau terlihat lelah bekerja sendirian, sini aku bantu." ucap Kanaya yang mengambil pesanan pelanggan dari tangan Riani. Kanaya dengan cepat membawakan pada pelanggan yang sudah menunggu di dalam kafe.


"Nah, Rendy kamu ganti pakaian lalu bantu mama. Hari ini banyak sekali pelanggan, catat apa yang mereka mau pesan!" perintah Kanaya yang menoleh menatap Rendy.


"Oke, bos." ujar Rendy yang berlari ke ruang ganti mengganti seragam sekolahnya ke pakaian sehari-harinya.


Rendy lalu keluar membantu Kanaya melayani para pelanggan. Salah seorang wanita datang dan duduk di kursi kosong. Dia terus menatap ke arah Rendy. "Bos, aku sudah ada di dalam kafe. Sasaran kita terlihat. Apa yang harus aku lakukan?" ucap wanita tersebut sambil memegang heandset yang melekat di telinganya.


"Tunggu waktu yang tepat, ketika anak itu sangat dekat denganmu. Saat itu, bawa dia pergi dari sana secepatnya. Mengerti!" perintah Azal dari seberang telepon.


"Baik, bos." jawab wanita tersebut sambil melihat-lihat menu kafe Kanaya.


Rendy lalu menghampirinya, ingin mencatat pesanannya. "Permisi, apa yang ingin anda pesan?" tanya Rendy dengan wajah polosnya sambil membawa kertas dan pulpen.


"Mendekatlah dan lihatlah sendiri anak manis." ucap wanita itu masih mengeluarkan senyumannya.


Rendy yang tidak berpikir ada yang mencurigakan, mulai mendekati wanita tersebut berusaha melihat menu yang di tunjuknya. Saat kepala Rendy sampai, wanita itu bangkit sambil menggendong Rendy dan berlari keluar dari kafe. Sayangnya, dirinya gagal keluar karena di hadang Gilang dan Reyhan yang sejujurnya melihat aksi wanita itu.


"Turunkan anakku atau dirimu tidak bisa melihat masa depan besok." ucap Gilang dengan menekan perkataannya.


Wanita itu merasa gugup dan takut, dirinya kepergok di depan Gilang yang terkenal begitu kejam kepada orang yang berurusan dengan keluarganya. Dia lalu memutar akal, berusaha melepaskan dirinya dari hadapan Gilang.


"Maafkan aku, aku hanya ingin berlari menggendong anak kecil. Bukan maksudku ingin menculiknya." ucap wanita itu yang berusaha menyembunyikan kegugupannya.

__ADS_1


"Benarkah?" ucap Rendy sambil melipat kedua tangannya.


"Benarkah?" tanya Gilang yang meniru gaya Rendy.


"Itu benar, saat ini aku tidak bohong. Aku hanya ingin menggendong anak kecil." ucapnya yang berharap bisa menyakinkan Gilang.


"Reyhan, kau tahu apa tugasmu kan?" lirik Gilang ke arah Reyhan yang berdiri di sampingnya.


"Aku mengerti!" ucap Reyhan seketika sambil tersenyum sinis ke arah wanita itu membuatnya semakin gugup dan takut.


"Ikuti aku jika kau memang tidak bersalah." kata Rendy mempersilakan wanita itu memgikuti dirinya. Dengan langkah kaki perlahan, wanita itu mengikutinya walau masih ragu. Ketika mereka sampai di depan mobil, Reyhan langsung menariknya masuk dan mengambil heandset dari telingan wanita itu. "Sudah selesai waktu telepon-teleponnya. Sekarang, aku akan menemanimu ke tempat yang membuatmu kagum." ucap Reyhan sambil membawa mobil itu sendiri ke gudang tempat penyiksaan.


Di sana, sudah ada anak buah Gilang yang menunggu. "Kalian cepat bereskan wanita ini dan cari tahu siapa orang yang memberinya perintah." titah Reyhan yang tidak mau menunda waktu lebih lama lagi.


"Tunggu sebentar. Tadi kau bilang bakal mengajakku ke tempat yang membuatku kagum, kenapa malah datang ke sini?" tanya wanita itu yang menjadi panik.


"Apa tujuanmu datang ke kafe bos kecilku maka tempatnya ada di sini." ujar Reyhan dengan wajah datar dan dinginnya.


"Tetapi, aku sudah menjelaskan apa tujuanku tadi. Aku hanya ingin..."


"Katakan itu pada dirimu sendiri, karena aku tidak akan percaya denganmu." potong Reyhan sambil memberi perintah kepada anak buah Gilang untuk segera memulai penyiksaannya.


"Aku akan beritahu siapa orang yang menyuruhku. Dia adalah pak Azal dari Clady group. Aku hanya mendapat perintah saja untuk membawa anak itu ke hadapannya." ucapnya menjelaskan agar dirinya bisa di bebaskan, tetapi Reyhan sama sekali tidak berubah pendirian. Bahkan, penjelasan wanita itu tidak terlalu penting baginya.


"Apa kau tahu sedang berhadapan dengan siapa? Mungkin Gilang belum memberi Azal pelajaran, bukan berarti kalian semua bebas berbuat seenaknya dan ingin melukai keluarganya. Gilang hanya menunggu waktu yang tepat saja." jelas Reyhan sambil menaikkan tangannya memberi kode agar anak buah Gilang segera mencambut wanita itu dengan tali yang sudah mereka siapkan.

__ADS_1


"Ini hukuman untukmu." ucap Reyhan yang pergi dari sana segera mungkin.


__ADS_2