
Menjelang pagi, Gilang sudah bersiap. Dia harus pergi ke luar kota lebih pagi agar bisa sampai di sana secepatnya dan langsung menyelesaikan masalahnya.
"Papa tidak akan lama kan?" tanya Rendy yang berdiri sedari tadi memperhatikan Gilang membereskan pakaiannya.
"Tidak akan lama, anak papa. Kalau masalah perusahaan papa sudah selesai, papa bakal langsung pulang. Ini juga mau berangkat lebih pagi agar ketika sampai papa langsung menjenguk perusahaan papa di sana." ucap Gilang dengan tersenyum ramah.
Rendy lalu mengangguk dan keluar dari kamar Gilang. Wajah imut dan polosnya tampak sedih. Kanaya yang melihatnya pun menghampiri anak satu-satunya.
"Ada apa? Wajahmu terlihat tidak bersahabat?" tanya Kanaya dengan nada datar dan dinginnya.
"Entahlah, Ma. Perasaan Rendy tidak enak kalau papa pergi. Apa akan terjadi sesuatu dengan papa?" ucap Rendy sambil berpikir.
Seketika, Kanaya tertawa terbahak-bahak di depan anaknya. "Ha ha ha ha, kau lucu sekali, Rendy tersayang." ucap Kanaya yang belum selesai tertawa.
"Apa maksud mama?" tanya Rendy yang heran.
"Kenapa kau memiliki perasaan seperti itu? Apa ini karena instingmu mengatakan akan terjadi sesuatu atau masalah besar kepada Presdir sombong itu? Jika kau memberitahunya apa dia tidak akan tertawa mendengarnya?" ucap Kanaya sambil menaikkan kedua alisnya.
"Tentu saja presdir sombong itu bakal tertawa. Anaknya kan bukan perawal tetapi berlagak sok peramal. Sudah-sudah, kau tidak perlu ikut campur masalah presdir sombong itu. Selesaikan saja masalahmu denganku, kemarin kita belum sempat berdebat." ujar Kanaya.
"Nanti saja, Ma. Rendy tidak ada mood untuk berdebat." ucap Rendy yang berlalu ke kamarnya. Kanaya berbalik dan menatap wajah Rendy yang terlihat murung sekali. Hanya alis Kanaya yang berkerut ketika melihatnya.
"Aneh sekali. Kenapa dia harus sampai sesedih itu? aku kan ngak punya teman berantem lagi." ucap Kanaya sambil menghela nafas kasar.
Kanaya buru-buru masuk ke dalam kamarnya, berganti pakaian lalu menuju kafenya. Hari ini dia mendapat pesan dari Riani jika banyak pelanggan yang datang ke kafe. Mau tak mau, Kanaya harus pergi membantu Riani.
"Tidak mau ikut ke kafe?" tanya Kanaya kepada Rendy ketika bersiap.
"Ngak, Ma. Aku mau di sini saja." jawab Rendy.
__ADS_1
"Baiklah, kalau kamu butuh sesuatu di sini, hubungi mama. Biar mama yang membelikannya." ucap Kanaya yang pergi dengan buru-buru. Rendy pun memilih berbaring sampai dia tertidur pulas. Gilang yang ingin berpamitan mengurungkan niatnya melihat Rendy tertidur.
"Aku sebaiknya tidak mengganggunya." ucap Gilang yang menutup kembali pintu kamar Rendy.
Siang harinya, Rendy terbangun dan tidak melihat Gilang dimana-mana. Dia pun kembali memasang wajah cemberut karena sadar jika papanya sudah pergi. Rendy bergegas membuka laptopnya, melihat banyak sekali surel yang masuk. Karena ponsel Rendy terjatuh kemarin di tengah jalan saat berlari mengejar mobil yang membawa nenek Rani pergi dan lupa mengambilnya, Rendy harus menggunakan laptopnya sebagai pengganti ponselnya.
Rendy mengscroll berkali-kali surel yang dia terima dan terkejut melihat nama Friska. Dia pun membuka surel itu dan tersenyum-senyum. "Sepertinya dia tidak tahu jika ini surelku, anak yang kau maksud. Tidak apa, aku belum memberinya pelajaran karena dia sudah berani menculik, Oma-ku." ucap Rendy sambil menutup laptopnya dan bersiap untuk pergi.
Rendy mengunjungi Kanaya di kafenya terlebih dulu. "Hei, Rendy. Tadi si presdir sombong itu datang ke sini sebelum pergi, dia memberiku ponsel katanya untukmu." ucap Kanaya sambil berlari membuka laci dan memberikan kepada Rendy ponsel keluaran terbaru yang belum di buka.
"Wah, ponsel ini harganya begitu mahal. Papa sangat perhatian padaku." kata Rendy yang tanpa sengaja menyinggung Kanaya.
"Jadi aku tidak perhatian denganmu karena tidak membelikanmu ponsel keluaran terbaru?" sahut Kanaya dengan alis mengerit.
"Bukan begitu, Ma. Mama jangan marah, banyak pelanggan di sini nanti mereka bilang mama tukang marah-marah lagi." ucap Rendy dengan berkata berterus terang membuat amarah Kanaya mencapai ubun-ubun.
Lima menit kemudian, Kanaya sudah bisa kembali tersenyum. Rendy pun mengambil makanan dan minuman lalu membungkuskan. "Kau mau pergi?" tanya Kanaya.
"Iya, Rendy ada urusan mendadak. Nanti Rendy hubungi mama lewat ponsel terbaru Rendy." jawab Rendy yang menggandeng tas kecilnya.
"Mau aku temani? Kau selalu di culik membuat aku tidak bisa tenang. Jadi aku ikut yah?" usul Kanaya. Kanaya dengan cepat berlari mengganti pakaiannya, bermaksud ingin pergi bersama anaknya. Tetapi setelah dia kembali, Rendy sudah tidak ada.
"Dasar anak nakal, kalau kau tidak mau setidaknya beritahukan saja padaku. Jangan main di tinggal seperti ini." ucap Kanaya yang kesal.
Di tengah perjalanan, Rendy menaiki bus agar semakin cepat sampai di tempat tujuannya. Dia lalu duduk di samping seorang kakek-kakek. Setelah itu, membuka ponselnya dan mengirim Kanaya pesan.
[Aku pergi lebih dulu, Ma. Mama sebaiknya membantu tante Riani di kafe saja. Rendy hanya pergi bermain-main.]
Setelah mengirim pesan, Rendy pun memasukkan kembali ponselnya. Dua puluh lima menit berlalu, bus yang di tumpangi Rendy berhenti. Beberapa orang mulai turun, termasuk kakek yang duduk di samping Rendy. Rendy pun ikut turun karena dia harus menuju rumah Alex.
__ADS_1
Rendy berjalan menyusuri jalan komplek, dimana dia terus di buntuti sang kakek yang membawa banyak sekali barang. "Dia mata-mata atau bukan yah?" tanya Rendy berhenti berjalan sambil berpikir sejenak.
Sang kakek lalu tersenyum padanya dengan membawa barang terlalu banyak membuat keringatnya terus saja bercucuran. Rendy berlari menghampirinya.
"Kakek mau aku bantu?" tanya Rendy yang mengambil tas sebesar koper dari tangan sang kakek.
"Yakin, nak? Ini berat loh?" tanya sang kakek memastikan.
"Kakek tinggal di komplek sini?" ucap Rendy mengalihkan pembicaraan.
"Tidak, aku hanya ingin mengunjungi istri yang tinggal di komplek ini karena bekerja sebagai pembantu." jawab Sang kakek dengan ramah.
"Berhenti di sini, Nak. Ini rumah majikan istriku. Terima kasih sudah membantuku membawa barang banyak ini." ucap sang kakek yang berhenti tepat di depan rumah Alex.
"Jadi ini rumahnya, kek?" tunjuk Rendy sambil melihat ke dalam.
"Iya, Nak." jawab sang kakek itu dengan tersenyum.
'Kebetulan sekali, aku tidak perlu repot masuk ke dalam memastikan keadaan. Kakek ini bakal masuk dan aku simpan saja alat perekam di salah satu barangnya untuk melihat situasi di dalam rumah Alex.' guman Rendy dengan ide cemerlangnya.
Rendy sudah tahu siapa nama ayah dari Alex. Lewat koran yang pernah dia baca, Rendy menjadi tahu.
Rendy pun melambaikan tangan ke arah kakek yang membawa masuk barang-barangnya. Tidak lupa Rendy memasukkan kamera kecil di salah satu tas kakek itu sebelum menyodorkannya ke dalam pagar.
"Terima kasih ya, Nak." ucap kakek itu dengan tersenyum ramah.
"Sama-sama, terima kasih juga sudah membantuku." ucap Rendy yang bergegas bersembunyi di balik tembok tetangga ketika melihat sebuah mobil sedan melaju ke arahnya.
Mobil itu lalu berhenti tepat di depan rumah Alex dan turun seorang wanita yang ingin Rendy tangkap. "Tante Friska, silakan nikmati waktu luangnya. Sebentar lagi kau akan aku tangkap karena sudah berani menculik diriku dan nenek. Terlebih, kau juga berencana membunuh mama-ku. Tidak akan aku biarkan." ucap Rendy dengan suara perlahan sambil mengepal kedua tangannya dengan keras.
__ADS_1