
Gilang tidak berani maju melihat pisau Friska sangat tajam sampai mengkilap. Gilang pun hanya berdiri mematung di tempatnya sambil menatap Rendy yang masih santai.
"Hei, tante cantik. Aku ingin memberimu peringatan. Sejujurnya, kau salah menyandra orang. Aku punya satu orang lagi pelindung yang bisa mencegahmu." ucap Rendy sambil mendongak menatap Friska.
"Benarkah? Sekarang pelindungmu tidak bisa bergerak. Karena jika sampai melangkah satu langkah saja, sudah jelas pisau ini menusuk lehermu." ancam Friska sambil menatap tajam Gilang.
"Tidak, bukan papa Gilang yang aku maksud. Melainkan satu pahlawan sempurna yang akan datang menolongku." jelas Rendy.
Friska menjadi bingung, begitu pun dengan Gilang. Tidak mengerti siapa yang di maksud Rendy. Mereka terus bertanya dalam hati sampai sebuah motor yang melaju dengan cepat berhenti di hadapan Friska. Riani langsung pingsan setelah turun dari motor.
"Yes, mama datang di waktu yang tepat." ujar Rendy merasa senang. Kanaya tersenyum sinis melihat anaknya ingin di bunuh, tidak juga merasa takut melihat pisau yang di gengam Friska mengkilap.
"Lepaskan anakku atau aku yang akan mengambilnya." ucap Kanaya berdiri menunggu respon Friska.
"Tidak, satu langkah saja mengarah padaku, aku bakal membunuh Rendy." kata Friska memberi Kanaya ancaman. Kanaya tertawa terbahak-bahak merasa lucu melihat tingkah Friska.
"Oke, ayo kita buktikan." ucap Kanaya yang melangkah. Tangan Friska bergetar dan perlahan mundur. Gilang mulai takut jika sampai Friska benar-benar nekad. Kedua tangannya bergetar.
Keadaan semakin tegang ketika Friska mendekatkan pisaunya lagi ke leher Rendy. Pisau tersebut sampai menyentuh leher Rendy.
"Tidak, Friska. Jangan lakukan itu." cegah Gilang yang menjadi frustasi.
"Kalau begitu, suruh dia untuk tidak melangkah. Aku benar-benar akan melakukannya dan tidak hanya menakuti." teriak Friska dengan mata memerah.
"Kanaya, hentikan. Rendy bisa terluka." ujar Gilang menuruti perkataan Friska.
Kanaya menoleh sekilas ke arah Gilang sambil menggelengkan kepala, tidak mau menuruti perkataannya. Kanaya lalu mengedipkan matanya ke arah Rendy, memberi kode pada anaknya. Seketika Rendy menyetrum Friska sambil berlari ke arah Kanaya. Kanaya dengan cepat menyambut anaknya dan melayangkan tendangan dasar pada Friska. Tubuh Friska ambruk dan jatuh ke jalan. Kanaya merasa lega, sementara Gilang beserta anak buahnya kagum melihat tindakan berani Kanaya dan Rendy.
"Kalian hebat!" teriak Gilang memuji ibu dari anaknya.
__ADS_1
"Cepat, bereskan tante cantik itu. Bawa dia ke rumah kosong atau rumah yang di kenal angker seperti yang dia janjikan pada kami." tunjuk Rendy dengan penuh amarah pada Friska.
"Kalian dengar itu kan? Cepat lakukan dan turuti perintah pewarisku!" ucap Gilang menatap semua anak buahnya yang berkumpul di belakangnya.
"Baik, Pak." ujar mereka semua sambil berbondong-bondong menyeret tubuh Friska masuk ke dalam mobil.
"Hati-hati, paman. Kepalanya sampai tersangkut. Kasihan kalau nanti patah, dia tidak bisa melihat lagi.' ujar Rendy mengingatkan.
"Memangnya mata yang di pakai untuk melihat?" sahut Alex yang masih berada di dalam mobil Friska.
"Ya ampun, aku hampir lupa denganmu, Lex. Beruntung kamu bersuara baru aku ingat." kata Rendy yang berlari melepas tali yang mengikat Alex.
"Kau sangat senang di sandra sampai lupa dengan temanmu yang di ikat. Sungguh sadis!" protes Alex.
"Maaf, kau tahu sendiri aku seperti apa. Harus mementingkan kepala orang yang menyandraku. Kasihan kan kalau sampai hilang." jelas Rendy sambil tersenyum.
"Tidak perlu naik motor, pakai mobilku saja." kata Gilang menawarkan.
Tangan Riani terangkat setelah dirinya sadarkan diri. Dengan suara perlahan, dia bicara. "Aku saja yang naik mobil. Kalau naik motor lagi dan di bonceng Kanaya, sudah pasti aku bisa mati di tengah jalan." ucap Riani dengan suara lemas.
"Wah, hebat, mamamu Rendy. Dia bisa membuat orang mati hanya dengan memboncengnya saja. Apa dia punya kekuatan ajaib?" tanya Alex yang penasaran.
"Kau perlu mencobanya dan merasakan sensasi di bonceng mamaku. Aku jamin, kau seperti punya sayap dan terbang tinggi." ajak Rendy sambil tersenyum ke arah Alex.
Rendy lalu naik dan duduk di depan Kanaya. Alex di belakang sambil memegang erat perut Kanaya.
"Are you ready?" tanya Kanaya sebelum menancap gas.
"Yes, mom." teriak Rendy. Saat itu, mereka pergi sambil melaju dengan kecepatan tinggi. Hanya suara yang di dengar Gilang.
__ADS_1
Syuur..
Motor Kanaya pun sudah menjauh darinya. Gilang geleng kepala melihat tingkah Kanaya yang terus menancap gas.
"Sampai kapan dia berubah dan sadar diri. Aku jadi khawatir jika Kanaya seperti itu terus menerus." ujar Riani yang baru bisa bangun.
"Cepat naik atau aku juga akan meninggalkanmu." ucap Gilang memilih naik ke dalam mobilnya. Riani ikut naik dan duduk di bagian belakang.
Sesampai di rumah, Rendy dan Alex turun. Rendy mengajak Alex bermain ke rumahnya dan sebentar malam baru bisa di antar Kanaya pulang ke rumah Aelx.
"Siapa dia, Nak? Teman Rendy?" tanya nenek Rani ketika melihat Rendy menggandeng tangan anak kecil seusianya.
"Iya, benar, nek. Dia teman sekolah Rendy, namanya Alex." jawab Rendy memperkenalkan temannya pada Nenek Rani.
"Alex, ini Oma Rani. Dia nenek dari Papa Gilang." ujar Rendy yang memperkenalkan nenek Rani pada Alex. Alex pun menunduk sambil tersenyum pada oma Rendy.
"Halo, nenek Rani. Aku mau main bersama Rendy sebelum pulang ke rumah. Boleh kan?" tanya Alex.
"Boleh banget! Ayo kalian masuk, kita makan dulu baru main-main. Kau juga Kanaya, pasti capek habis mengurus kafe kan?" ujar nenek Rani sambil melihat Kanaya yang berdiri di belakang duo anak kecil ini.
"Iya, Nek. Urusan kafe mendadak banyak dan menumpuk hari ini. Aku sampai lelah. Aku berharap, lain kali pelayan kecilku tidak membuat masalah lagi sampai aku yang harus turun tangan." jelas Kanaya yang menyindir anaknya secara halus.
"Pelayan kecil mama kan sudah jadi tanggung jawab mama. Jadi harus dong mama selesaikan." kata Rendy yang membalas sindiran mamanya. Rendy lalu mengajak Alex masuk ke dalam rumah.
Sementara itu, di tempat lain. Bibi Unni datang ke kantor polisi memberitahu papa Alex jika anaknya tidak ada di sekolah. "Aku serius, Pak. Kata teman-temannya, Alex tidak sampai di sekolah. Padahalkan, bibi sudah membawa Alex ke sekolah." ujar bibi Unni yang merasa bersalah.
"Bibi Ini kenapa sih, ceroboh sekali. Kalau sampai Alex kenapa-napa, bagaimana? Bibi kau tanggung jawab?" teriaknya tidak terima.
"Maaf, pak. Aku benar-benar tidak tahu. Aku juga sudah mencari Alex di rumah teman-temannya, tetapi mereka semua tidak tahu Alex ada di mana." ujar bibi Unni yang ikut bingung harus mencari Alex dimana lagi.
__ADS_1