
Kanaya mondar mandir di dalam kosan menunggu Rendy yang tidak kunjung masuk. "Tidak mungkin jika anak itu benar-benar pergi." kata Kanaya berusaha menenangkan hatinya yang sudah ingin melompat dari dalam.
"Aku hitung sampai tiga, satu... Dua... Tiga..." ucap Kanaya sambil menoleh ke arah pintu. Rendy tidak kunjung membuka pintu, dengan berjalan terburu-buru, Kanaya keluar memastikannya. Betapa terkejutnya Kanaya ketika melihat depan kosannya begitu kosong dan sepi, tidak ada wujud Rendy.
"Apa dia bercanda? Bagaimana bisa anak itu benar-benar pergi." ucap Kanaya yang menjadi panik. Tidak akan menduga akan seperti ini.
"Aku harus mencarinya." katanya yang bergegas turun dari tangga menyusuri tiap jalan dimana kemungkinan ada Rendy di sana.
"Mungkin di kafe," kata Kanaya yang berlari cepat menuju kafe-nya. Sesampai di sana, Kanaya harus merasa kecewa karena Rendy tidak ada di kafe. Air mata Kanaya pun jatuh, dia menyesal tidak menahan anaknya. Ini pertama kalinya Rendy benar-benar kabur.
"Rendy!" panggil Kanaya sambil berlutut di depan kafe. Tidak lama, rintihan hujan turun membuat Kanaya basah perlahan.
Dreet.. Dreet... Dreet...
Ponsel Kanaya berdering, dia dengan cepat menarik ponselnya dari saku baju lalu mengangkatnya dengan suara perlahan. "Halo?" ucap Kanaya.
"Rendy ada padaku, jika kau mau datang menemuinya, aku kirim alamatnya." kata Gilang dari seberang telepon.
Kanaya langsung bangkit dan memastikan siapa orang menghubunginya. Karena nomor tak di kenal, Kanaya tidak tahu siapa dia. "Halo, ini siapa? Kenapa kau berani menculik anakku? Apa kau tidak tahu, aku bisa dengan mudah menculikmu dan membuang mayatmu!" teriak Kanaya tetapi panggilannya sudah di tutup oleh Gilang.
"Sialan, lihat saja apa yang aku lakukan padamu." ucap Kanaya dengan sangat marah. Dia lalu pergi ke tempat dimana Rendy berada. Sebelum mengetuk pintu, Kanaya mengambil balok kayu agar bisa melawannya nanti.
Tok.. Tok.. Tok..
Kanaya bersiap memukul dan ketika pintu terbuka, dia langsung melayangkan balok kayunya tanpa melihat siapa yang membuka pintu.
Brak..
__ADS_1
Tangan Gilang berhasil menghadang balok kayu Kanaya. Dia lalu menatap Kanaya dengan tajam seolah memberi peringatan. "Ada apa denganmu? Penyakitmu kambuh lagi?" tanya Gilang bersuara lemah lembut meski menahan rasa sakit akibat pukulan balok kayu yang di berikan Kanaya.
"Kau, Presdir sombong nan pelit itu. Untuk apa kau menculik anakku, ha? Apa kau ingin punya anak tetapi tidak bisa dan malah menculik Rendy! Rasakan ini!" teriak Kanaya menyerang Gilang sebelum mendengar penjelasannya.
"Stop, aku bisa jelaskan. Aku tidak seperti itu." kata Gilang berusaha melindungi dirinya dengan kedua tangannya.
"Lalu apa ini? Kau yang menghubungiku jika Rendy berada di sini kan? Kau membawanya ke sini? Dasar penculik, sudah ketahuan masih tidak mau mengaku." ucap Kanaya tanpa berhenti memukul Gilang.
"Mama!" panggil Rendy yang berdiri di belakang Gilang. Kanaya mengintip sebentar lalu mendorong tubuh Gilang dan menghampiri Rendy.
"Rendy, kau tidak apa-apa? Apa ada yang terluka? Apa yang dilakukan presdir sombong ini padamu, Nak?" tanya Kanaya mengeluarkan semua rasa khawatirnya.
"Tidak ada, Ma. Papa tidak mungkin menyakitiku." ucap Rendy seketika yang membuat Kanaya bingung.
"Apa? Papa?"
"Iya, aku papa-nya." sahut Gilang sambil memegang tangan kirinya yang sakit.
"Rendy masuklah, biarkan papa bicara berdua dengan mama-mu." ucap Gilang sambil memberi kode kepada Rendy. Dengan cepat, Rendy berlari masuk ke dalam kamar membuat Kanaya benar-benar marah. Sekarang, tensi Kanaya semakin tinggi.
"Sudah cukup bermain-mainnya, presdir sombong. Aku akan pergi dan bawa Rendy sekarang juga." titah Kanaya yang berniat menyusul Rendy, tetapi di halau Gilang.
"Biarkan aku menikmati tubuhmu malam ini saja, aku akan berikan apapun yang kau mau." ucap Gilang mengingatkan Kanaya pada orang yang membuat dirinya terjebak malam itu.
Kanaya menatap Gilang seolah tidak percaya, perkataan Gilang sama persis dengan laki-laki brengsek yang merengguk harta paling berharga darinya.
"Ka.. Kau!" tunjuk Kanaya tepat di wajah Gilang.
__ADS_1
"Aku minta maaf, lama baru aku menemukanmu. Aku selama ini sudah mencari keberadaanmu tetapi aku keliru. Rupanya orang yang aku suruh, diam-diam di perintah oleh orang lain agar tidak memberitahuku tentang keberadaan dirimu." jelas Gilang mendekati Kanaya perlahan.
Kanaya mundur menyadarkan dirinya di balik tembok, lalu memegang dadanya yang terasa sesak. Dia tidak terima, Gilang yang harus menjadi papa Rendy.
"Kenapa semuanya terungkap sekarang? Aku sudah merancang masa depanku bersama orang lain." kata Kanaya sambil berlinang air mata.
"Aku minta maaf, terlambat datang. Tetapi aku janji akan menjadi ayah yang terbaik untuk Rendy. Biarkan aku memperbaiki kesalahanku, Kanaya." kata Gilang memohon.
"Apa kau sangat percaya jika Rendy adalah anakmu? Bisa saja itu anak orang lain kan?" kata Kanaya sambil mendongak wajahnya menatap Gilang yang sedikit lebih tinggi darinya.
Gilang terdiam berpikir sejenak. Dia langsung mempercayai omongan Rendy tanpa berpikir sama sekali. Semua yang dikatakan Rendy membuat Gilang yakin jika itu benar dirinya dan Kanaya. Terlebih, Rendy tahu kapan kejadiannya waktu itu dan dimana.
"Sudah aku duga jika dirimu masih ragu. Sebaiknya berpikirlah sebelum bicara, bisa saja kau di jebak nanti." kata Kanaya yang masuk ke dalam kamar mencari Rendy.
Malam ini, keadaan berubah menjadi sunyi dan cangguh. Rendy dan Kanaya berjalan tanpa ada pembicaraan. Biasanya mulut mungil Rendy selalu merayu Kanaya ketika berjalan bersama. Bahkan ketika mereka sampai di kosan, Kanaya tidak kunjung menyapa Rendy begitupun sebaliknya.
Hingga ponsel Kanaya bergetar ketika mendapat pesan.
[Ma, semuanya baik-baik saja kan? Rendy sangat mencemaskan, Mama. Maafkan Rendy kali ini, Ma.]
Kanaya membaca pesan dari anaknya, lalu meletakkan kembali ponselnya tanpa membalas pesan Rendy.
Ting..
Lagi-lagi ponsel Kanaya bergetar. Rendy tidak hentinya mengirim pesan.
[Ma, aku hanya ingin membantu, Mama. Mungkin kemarin aku bilang tidak butuh seorang ayah, tetapi jika semua orang tahu masa lalu mama, mereka pasti akan mengincar mama sama seperti diriku. Rendy tidak mau mama terluka, jadi aku pikir harus meminta bantuan papa. Itu saja, Ma. Tolong jangan marah kepada Rendy.]
__ADS_1
Kanaya belum selesai membaca pesan Rendy, anaknya itu sudah memeluk tubuhnya dari belakang. "Ma, tunangan papa itu orang jahat. Dia tidak cocok untuk papa dan dia akan berusaha menyingkirkan mama nanti." Bisik Rendy.
"Rendy, kau harus bersiap besok. Kita akan pulang ke kampung." ucap Kanaya dengan suara perlahan sambil meneteskan air matanya. Tidak sanggup menerima kenyataan ini.