
Di sekolah, Rendy bersama teman-temannya di kumpulkan. Mereka akan menemui presdir yang punya sekolah ini. Rendy lalu duduk menunggu, tiba-tiba salah satu temannya datang menghampirinya.
"Kau Rendy kan? Si anak pintar itu?" ucapnya dengan suara manis.
"Iya." jawab Rendy singkat.
"Kenalkan, aku Alex, anak pengusaha Azal hendra. Kita boleh berteman kan?" tanya Alex sambil mengulurkan tangannya.
Rendy menjabatnya dengan cepat sambil tersenyum balik. "Tentu saja, kata temanku aku harus senang jika ada yang mengajakku berteman." ucap Rendy dengan wajah cerianya.
Setelah saling kenal dan berteman, Rendy dan Alex duduk bersama sampai Gilang dan pak Kepala sekolah datang.
"Anak-anak, ayo sapa pak Gilang ini. Dia adalah orang yang punya sekolah ini sehingga kalian bisa belajar di sini." sapa pak Kepala sekolah memperkenalkan Gilang.
Gilang tersenyum menampilkan dirinya yang berkharisma. Semua anak-anak bertepuk tangan melihatnya. Rendy ikut tersenyum bangga punya papa seperti dia meski belum di akui.
Tatapan Gilang terhenti ketika melihat Rendy berada di antara murid-murid itu. Dia pun menjadi bingung.
Dua jam kemudian, kegiatan mengenal sang presdir selesai. Gilang lalu keluar dari sana bersama pak Kepala sekolah. Teringat dengan wajah Rendy, Gilang pun bertanya mengeluarkan rasa penasarannya.
"Bukannya sekolah ini khusus untuk orang kaya? Aku melihat salah satu murid berasal dari keluar biasa saja. Apa dia mampu membayarnya?" tanya Gilang.
"Maksud anda, pak Gilang?"
"Anak yang bernama Rendy itu.."
"Oh, anak itu." pak Kepala sekolah menyahut dengan cepat.
"Apa pak Gilang belum dengar dengan rumor yang beredar di sekolah ini? Rendy, anak yang mendapat beasiswa. Nilainya sangat tinggi pada saat ujian dan dia lolos masuk. Karena kami sangat penasaran, akhirnya kami memberikannya beasiswa dan menguji ke pintarannya itu di sini. Ternyata semuanya benar, dia memang pintar bahkan di anggap genius meski berasal dari keluarga biasa saja." jelas pak Kepala sekolah yang semakin membuat Gilang penasaran.
"Benarkah?"
"Bukannya kemarin aku sudah mengumpulkan data semua siswa yang mendapat beasiswa? Aku pikir pak Gilang sudah membacanya." ucap pak Kepala sekolah.
"Oh itu, aku belum sempat membacanya. Aku sibuk akhir ini, nanti aku baca. Kalau begitu, aku pergi dulu." kata Gilang yang bergegas masuk ke dalam mobilnya. Pak kepala sekolah pun menunduk memberi hormat kepadanya.
__ADS_1
Di kelas, Alex dan Rendy sibuk menulis di buku catatan mereka. "Sepulang sekolah nanti, kamu mau datang ke rumahku bermain?" ajak Alex.
"Maaf, Lex. Aku mau, tetapi aku juga harus membantu ibuku. Lain kali saja." jawab Rendy lemah lembut.
"Iya, tidak apa-apa. Lain kali saja." ucap Alex tersenyum.
Tidak berselang lama, bel berbunyi dan semua siswa bergegas merapikan buku-bukunya lalu berjalan keluar dan pulang ke rumah. Rendy berhenti tepat di depan gerbang menunggu taksi lewat. Tetapi, sebuah mobil hitam mengkilap berhenti di depannya.
"Rendy, ayo masuk. Aku antar kamu pulang." ajak Gilang yang menurunkan kaca jendela mobilnya memperlihatkan dirinya.
"Tidak merepotkan, paman?"
"Tentu saja, tidak." jawab Gilang dengan tersenyum membuat Rendy segera naik.
Mobil pun melaju kembali, tetapi seorang anak melihat kejadian itu malah mengepal kedua tangannya dengan keras dan penuh amarah.
'Awas kau, Rendy.' gumannya di dalam hati.
Di tengah perjalanan, Gilang tidak berhenti menatap wajah Rendy yang menggemaskan. Dia sampai tersenyum sendiri, entah memikirkan apa.
"Paman menyukai diriku?" tanya Rendy tiba-tiba yang rupanya tahu jika Gilang terus saja menatapnya tanpa berkedip.
"Iya, paman."
"Kamu hebat yah. Bakat itu turun dari mana? Kalau di lihat dari mama mu, sepertinya bukan." ucap Gilang memikirkan Kanaya yang selalu ceroboh dan mudah di bujuk.
"Mungkin dari papa ku." jawab Rendy.
"Pak Gilang, ini kita mau ke mana? Pulang ke rumah?" tanya pak sopir yang bingung harus ke mana. Gilang tidak memberitahunya di mana rumah Rendy.
"Oh, Rendy mau di antar ke rumahnya. Tempatnya tidak jauh dari sini." ucap Gilang.
"Tidak paman, aku mau ke kafe mama ku. Dia pasti ada di sana." ucap Rendy sambil sibuk dengan jam di tangannya.
Tidak lama, tertera lokasi di map mobil Gilang. Gilang dan pak sopir kaget melihatnya.
__ADS_1
"Aku sudah kirim lokasinya, tolong antar ke situ pak sopir baik hati." ucap Rendy tersenyum.
"Bagaimana bisa kau melakukannya?" tanya Gilang seolah tidak percaya, Rendy langsung mengirim lokasi ke mobilnya tanpa bertanya apapun kepadanya.
"Paman pasti kaget, tetapi aku tahu sandi atau keamanan mobil paman ini. Jadi mudah bagiku." ucap Rendy bangga dengan dirinya.
"Apa lagi keahlianmu?" tanya Gilang yang ingin tahu banyak tentang Rendy.
"Aku bisa membobol perusahaan juga." jawab Rendy berterus terang.
"Apa?" bukan hanya Gilang yang terkejut, pak sopir sampai merem mendadak saking kagetnya.
"Aduh, pak. Jantungku sepertinya ingin melompat." kata pak Sopir sambil memegang jangtungnya.
"Jangan bercanda, Rendy. Kau masih anak-anak, bagaimana bisa kau melakukannya?" tanya Gilang yang tidak percaya.
"Bisa, aku paham dengan situs web yang biasa di gunakan sebagai keamanan sebuah perusahaan." jawab Rendy dengan santai dan enteng.
Gilang diam membeku, seolah percaya atau tidak, dia masih sulit menerimanya. Tiba-tiba, jam tangan Rendy bergetar. Wajah Rendy tampak bingung.
"Ada apa?" tanya Gilang yang menyadari perubahan wajah Rendy.
"Aku harus pulang cepat, paman. Tolong antar aku ke rumahku saja." ucap Rendy dengan wajah panik.
"Memangnya ada apa di rumahmu?" tanya Gilang ikut panik. Pak sopir pun melajukan mobilnya dengan cepat. Tidak peduli lampu merah, dia tetap melaluinya. Polisi itu urusan Gilang.
Ketika sampai, tanpa mengatakan apapun, Rendy berlari keluar menemui mama nya. "Mama! Mama!" panggil Rendy sambil menaiki tangga.
Ketika pintu di buka, terlihat Kanaya bersama Riani duduk berdua. Mereka terkejut dengan kedatangan Rendy yang panik.
"Ada apa?" tanya Kanaya berdiri sambil berjalan perlahan karena kakinya sedang terluka.
"Mama terluka? Kenapa? Siapa yang melakukannya?" tanya Rendy dengan nafas memburu. Dia terkejut ketika melihat peringatan dari jam tangannya jika mama nya terluka. Rendy memberikan mamanya sebuah gelang yang dia buat sendiri dengan sensor dapat mendeteksi darah yang keluar, tekanan tinggi, bahkan jika Kanaya demam.
"Ah, aku tidak apa-apa. Hanya sedikit terluka saja habis jatuh di tangga." ucap Kanaya sambil memegang kakinya yang sudah di balut perban oleh Riani.
__ADS_1
Gilang tiba-tiba muncul dari balik pintu, penasaran apa yang terjadi. Kanaya syok melihat presdir sombong itu.
"Kenapa kau datang juga presdir sombong?" tunjuk Kanaya dengan bola mata membulat.