
Rendy mondar mandir menunggu Gilang. Dia yakin sekali Gilang pasti datang setelah memeriksa isi Flashdisk itu. Kebenaran akan terungkap saat ini.
"Siapa yang kau tunggu?" tanya Kanaya yang menyadari kegelisahan anaknya.
"Seseorang yang akan aku panggil papa." jawab Rendy tersenyum bahagia.
"Apa? Kau sudah menemukan ayah kandungmu?" tanya Kanaya yang terkejut. Dia lalu mendekati Rendy, memastikannya.
"Bagaimana caranya kau bisa menemukannya? Aku saja tidak tahu siapa dia." ucap Kanaya kembali.
"Dengan insting Rendy. Aku tidak pernah salah menilai orang, dan jika nanti dia minta bukti lebih jelas aku akan siap melakukan tes DNA dengannya." Jelas Rendy.
"Lalu, orang itu akan datang? Apa aku mengenalnya?" tanya Kanaya yang menjadi penasaran. Dia ingin tahu laki-laki brengsek mana yang sudah mengubah hidupnya menjadi seperti ini. Setidaknya, dia meninggalkan seorang anak yang luar biasa sampai Kanaya tidak merasa sedikit repot mengurusnya.
"Dia itu adalah..." Ketika Rendy ingin memberitahu Kanaya, pintu kafe terbuka dan terlihat Gilang datang bersama Reyhan.
'Akhirnya, aku sekarang boleh memanggilnya dengan sebutan papa.' guman Rendy dengan tersenyum senang sekaligus bahagia melihat kedatangan Gilang.
"Ya ampun, dia datang lagi mencari masalah denganku walau masalah kemarin belum selesai. Apa dia pikir aku sudah lupa dengan kejadian kemarin?" ucap Kanaya yang memasang wajah tidak sukanya dengan Gilang.
"Jangan seperti itu, Ma." tegur Rendy.
"Kau tidak tahu apapun seperti apa dia itu yang sebenarnya. Sungguh sangat menyebalkan sedunia." jawab Kanaya melarang Rendy membela Gilang.
Gilang lalu menghampiri Kanaya dan Rendy dengan senyum manisnya. Rendy berharap sekali papa nya menyadarinya jika dia adalah anaknya yang dia cari selama ini bersama Kanaya.
"Kanaya, aku mau bicara hal penting denganmu." ucap Gilang seketika.
"Bagaimana jika aku tidak mau?" ucap Kanaya sambil melipat kedua tangannya.
"Ma, lebih baik bicara dengan paman Gilang. Mungkin dia menemukan orang yang kita cari sampai datang ke kota." bujuk Rendy sambil mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
"Baiklah, aku mau bicara karena anakku yang memintanya." jawab Kanaya dengan cepat tidak kuat melihat wajah Rendy yang memohon-mohon.
"Terima kasih banyak." ucap Gilang laku menarik tangan Kanaya pergi ke luar sebentar. Mereka lalu bicara hampir setengah jam sampai Rendy lelah menunggunya.
"Kenapa lama sekali? Seharusnya dia langsung menjelaskan saja jika mama adalah orang yang pernah dia tiduri di hotel itu." ujar Rendy sambil terus memperhatikan ekspresi Kanaya dari kejauhan.
Tiba-tiba Kanaya kembali menghampiri Rendy dengan wajah masam dan memerah. Rendy semakin bingung, kenapa mamanya terlihat marah seperti memendam sesuatu. "Seharusnya mama senang karena berhasil menemukan papa. Tetapi.." ucap Rendy sambil menatap wajah Kanaya yang begitu kesal.
Rendy lalu berlari ke arah Gilang ingin mencari tahu. "Papa tunggu!" teriak Rendy. Gilang dan Reyhan menoleh, terkejut Rendy berteriak menyebut nama papa.
"Siapa yang kau panggil papa?" tanya Gilang sambil membungkuk menyetarakan tingginya dengan Rendy.
"Apa?" Rendy terkejut. Gilang belum menyadarinya.
'Apa papa belum melihat isi Flashdisk itu?' guman Rendy dengan raut wajah kecewa. Rendy lalu pergi kembali ke kafe tanpa menanggapi perkataan Gilang. Hati kecilnya seolah terkikis mendengar perkataan Gilang.
"Aku sangat kecewa, sungguh kecewa." ucap Rendy dengan suara perlahan sambil berjalan dengan menundukkan kepalanya. Gilang tidak menanggapi, dia lalu pergi berbalik kembali, berjalan ke mobilnya mengira jika Rendy sedang bercanda atau bermain-main.
"Bukan aku yang di panggil, lihat saja tadi dia tidak menjawab ketika aku bertanya." jawab Gilang.
"Tetapi, bukannya kamu sedang mencari perempuan itu. Bisa saja kan, dia punya anak dan itu Rendy." ujar Reyhan mengingatkan.
"Aku sudah memastikannya dan itu bukan dia. Namanya saja yang mirip, Kanaya." ujar Gilang dengan tatapan sulit di artikan.
...****************...
Sepulang bekerja dari kafe, Rendy melihat Dirgantara menunggu di depan kosannya. Dengan cepat Rendy memberitahu mamanya. "Ma, orang itu penjahatnya. Dia, Dirgantara yang sering aku ceritakan kepada mama!" teriak Rendy sambil menunjuk Dirgantara berdiri di depan kosannya.
"Apa? Jadi kakek tua yang punya rencana menculik anakku sekarang berada di sini." ucap Kanaya sambil mengepal kedua tangannya dengan keras.
"Kamu tunggu di sini, Rendy. Aku bakal memberi dia sedikit pelajaran." ucap Kanaya ingin melawan Dirgantara yang sudah berani membuat dirinya khawatir karena menculik Rendy.
__ADS_1
"Mama harus hati-hati. Kalau keadaannya semakin darurat, gunakan jurus jitu mama." ucap Rendy mengingatkan sambil mengajukan jari jempol memberi semangat untuk Kanaya.
"Baiklah." ucap Kanaya sambil berlari menghampiri Dirgantara.
"Hei, kakek tua. Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Kanaya basa basi.
Dirgantara lalu menoleh dan berusaha tersenyum manis melihat Kanaya di dekatnya. "Kau pasti ibunya Rendy, benar-benar sangat cantik." puji Dirgantara ingin mengambil hati Kanaya.
"Bukan, aku bukan ibunya Rendy." jawab Kanaya.
"Lalu kau apanya Rendy? Bukannya ini tempat Rendy tinggal?" ucap Dirgantara yang menjadi bingung.
"Jadi benar, kau sampai mencari tahu keberadaan anakku karena ingin menculiknya lagi. Aku sebagai mama-nya, tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Pergi dari sini sebelum aku mengamuk!" ucap Kanaya dengan suara tinggi.
"Apa?"
Kanaya dengan cepat mengeluarkan jurus jitunya, berteriak dengan keras hingga membuat kuping Dirgantara seperti ingin meledak saja. Tanpa menunggu lama, Dirgantara lalu berlari pergi dan menjauh dari Kanaya secepat mungkin. Rendy tertawa terbahak-bahak melihatnya aksi konyol mama-nya.
"Mama, hebat. Sangat hebat!" puji Rendy.
"Ha ha ha, itu sudah biasa. Aku ini walau perempuan bisa melawan penjahat juga." jawab Kanaya penuh percaya diri.
"Benar, kita tidak butuh seorang papa jika mama saja kuat untuk melindungi diriku." kata Rendy seketika tanpa sadar.
"Apa? Kenapa kau bilang seperti itu?" ucap Kanaya dengan wajah bingung. Tidak pernah Rendy mengatakan hal seperti itu. Dia selalu berkata ingin sekali bertemu papa-nya sama seperti anak lainnya.
"Ngomon-ngomon, apa yang dibicarakan Paman Gilang tadi?" tanya Rendy dengan suara pelan-pelan.
"Oh, itu. Dia bilang kenapa namaku bisa Kanaya? Katanya, orang yang pernah dia tiduri itu juga bernama Kanaya. Aku membantah dengan keras, dia terkesan seolah menuduhku jika aku meniru atau mengaku sebagai orang yang pernah di tidurinya karena memilih nama Kanaya. Padahalkan, namaku memang Kanaya dari lahir." jelas Kanaya sambil menunduk.
'Jadi papa belum membuka Flashdisk itu. Karena itu dia tidak tahu.' guman Rendy.
__ADS_1
"Sudahlah, Ma. Kita sudah bahagia berdua saja seperti perkataan mama. Rendy sekarang tidak masalah jika tinggal bersama mama tanpa seorang papa." ucap Rendy yang kecewa berat. Yang jelas, Rendy sudah berusaha membantu Gilang.