
Malam ini, hujan tiba-tiba turun. Seolah tidak ingin tiga orang yang bersandar di tembok, tidur di luar. Gilang, Rendy, dan Alvin. Mereka bertiga tidak bisa masuk ke dalam kosan meski pintu kosan sudah tidak terkunci.
"Ribet ada di sini, mana kita hanya di suruh tidur di luar lagi. Ampun, penderitaan apa lagi besok?" keluh Alvin sambil menatap lurus ke depan.
"Mamaku memang seperti itu, terlalu keras. Tetapi percayalah, kerasnya hati seorang ibu pasti akan lembut dengan anaknya sendiri." sahut Rendy menjawab.
Tik.. Tik.. Tik..
Kanaya membuka kedua matanya, mendengar suara hujan yang semakin deras. Walau dia sendiri yang menyuruh Rendy tidur di luar, dirinya tetap khawatir sampai-sampai mengintip lewat jendela, melihat kondisi anaknya hingga dirinya membuka pintu membiarkan tiga orang itu masuk.
"Aku pikir, aku bakal kedinginan di luar. Kau akhirnya membuka pintu juga, my princess." goda Alvin.
"Bicara terus kalau kau mau berada di luar." balas Kanaya.
Kanaya kini fokus menatap anak kecil yang setinggi lututnya. Baju Rendy sebagian basah, tetapi anak itu tidak kedinginan. Dia hanya mengambil handuk lalu berbaring di atas kasur.
Gilang ikut-ikutan, dia berbaring di samping anaknya membuat Kanaya menegurnya dengan cepat. "Kau mau apa? tidur di tempat lain." tunjuk Kanaya.
"Tidak ada kasur selain ini, masa aku mau tidur di lantai." tolak Gilang yang tetap membaringkan dirinya.
"Siapa suruh kau meninggalkan kasur empukmu. Kita belum menjadi keluarga, jadi jangan terlalu dekat dengan keluargaku!" titah Kanaya seperti kesetanan. Nyali Alvin menciut. Dia juga ingin berbaring di atas kasur walau kasurnya tipis. Setidaknya, tubuhnya tidak terlalu dingin berbaring di lantai. Tetapi melihat wajah Kanaya bak iblis penjaga neraka, Alvin diam-diam tidur di lantai dan hanya memakai sarung yang belum pernah dia lakukan sebelumnya.
"Apa tidak ada selimut?" tanya Alvin dengan suara perlahan. Lantai sudah dingin, di tambah hujan semakin deras. Alvin serasa ingin membeku.
"Jangan banyak tanya dan tidur saja. Tinggal di rumah orang memang tidak seenak berada di rumah sendiri. Siapa suruh kalian ikut denganku." jelas Kanaya yang kembali ke tempatnya, menarik selimut panjangnya dan menyelimuti tubuhnya dan tubuh anaknya.
Gilang dan Alvin sampai iri, mereka berdua hanya menggunakan sarung. Ingin protes, takut sarungnya diambil Kanaya kembali.
Keesokan Harinya...
Rendy berangkat ke sekolah di antar Kanaya. Setelah Kanaya pulang, dua orang laki-laki masih tertidur di kosannya. Kanaya sampai tidak bisa berbuat apa-apa. Seharusnya dia membereskan tempat kosannya lalu pergi ke kafe. Tetapi melihat dua orang itu masih tidur, Kanaya hanya menempelkan surat di dinding, menyuruh mereka merapikan kosannya. Setelah itu, Kanaya pun pergi ke kafenya menjemput rezeki.
Di tengah perjalanan, Kanaya mendadak mendapat panggilan dari nomor tak di kenal dan menyuruhnya untuk pergi menemui orang itu. Awalnya Kanaya menolak, tetapi dia menjadi penasaran, dengan siapa dia bicara.
__ADS_1
"Oke, aku akan datang. Katakan di mana kita bertemu?" tanya Kanaya di dalam telepon.
"Di lapangan dekat rumah nenek Rani. Kau pasti sudah pernah ke sana." jawab seseorang dengan suara agak dalam.
"Baiklah, aku ke sana sekarang." jawab Kanaya sambil menutup panggilan teleponnya, mengirim pesan pada Riani lalu berbalik arah menuju titik pertemuan.
Di sekolah, perasaan Rendy terus saja tidak enak. Seolah akan terjadi sesuatu dengan dirinya. Rendy sampai tidak fokus belajar. Alex diam-diam memperhatikan dan bingung melihat wajah Rendy yang puncak.
"Kau sakit?" bisik Alex.
"Tidak, saat datang ke sekolah tadi." jawab Rendy.
"Lalu? Kenapa wajahmu seperti mayat hidup?" tanya Alex.
"Perasaanku tidak enak. Aku mau ke toilet dulu." ujar Rendy yang bangkit dengan terburu-buru.
Ponselnya terus berdering mendapat pesan masuk. Alex hanya menutupnya tanpa melihat pesannya. Ketika jam istirahat, Rendy baru membuka ponselnya dan terkejut melihat banyak sekali pesan masuk. Buru-buru dia membacanya, takut ada hah penting.
"Ini dari orang tak kau kenal, berikan semua uang yang sudah kau investasikan padaku agar mamamu bisa selamat."
"Tidak mungkin. Mak lampir tidak tertarik dengan uangku." kata Rendy yang mengotak atik ponselnya.
"Lalu, siapa? Musuh barumu? Kenapa kau punya banyak sekali musuh?" ujar Alex yang heran.
"Dia pasti orang yang memerlukan uang. Aku harus segera mengambil uangku demi mama." ucap Rendy yang berlari pergi dari sekolahnya.
Di tempat lain, Gilang juga mendapat pesan ancaman. Gilang yang baru terbangun, segera mencari Kanaya. Alvin yang mendengar suara ribut, mengangkat kepalanya sambil bertanya.
"Kau masih bisa tenang? Kanaya di culik!" titah Gilang yang menjadi stres.
"Kanaya di culik? Itu tidak mungkin, dia pahlawan Rendy. Sangat sulit menangkap pahlawan." jawab Alvin yang tidak percaya.
"Kalau kau tidak percaya, baca pesan ini." perintah Gilang sambil menyodorkan ponselnya pada Alvin. Alvin sampai membulatkan kedua matanya saat membaca pesan ancaman.
__ADS_1
"Memangnya, kau ikut berinvestasi, Lan?" Tanya Alvin setelah selesai membaca pesan ancaman itu.
"Tidak."
"Lalu, kenapa dia meminta uangmu yang kau investasikan? Apa pesan ini bukan untukmu?" ucap Alvin yang merasa ragu. Seperti ada pesan tertentu dari pesan yang dia baca.
"Apa yang sebenarnya dia incar? Uang?" lanjut Gilang yang bingung. Mereka berdua berusaha berpikir jernih, memecahkan misteri dari pesan tak di kenal ini.
**
**
**
Rendy telah sampai di bank. Dia mengeluarkan buku tabungannya dan menarik semua uangnya ke dalam tas. Diam-diam, seseorang terus mengawasinya sambil menggunakan alat komunikasi.
"Anak itu beehasil masuk ke perangkat kita. Dia sudah mengambil uangnya." ucapnya memberi laporan.
"Tetap awasi pergerakannya, dia bukan anak sembarang. Dirinya licik dan punya banyak ide untuk melarikan diri."
"Baik, akan aku lakukan." jawabnya dengan tegas.
Setelah menarik uangnya, Rendy terus menoleh ke samping kanan dan kiri, mencari orang yang mencurigakan. Tetapi, dia tidak menemukannya.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan? Bagaimana caranya bertemu dengan mereka? Uang sebanyak ini, bisa saja di curi tengah jalan jika sampai ada yang tahu." pikir Rendy.
"Apa aku titipkan lada Alex yah?"
Rendy lalu kembali ke sekolah, memberikan tasnya lada Alex dan memakai tas Alex. Setelah itu, keluar mencari mamanya.
"Aku melihat anak itu masuk ke sekolahnya dan kembali ke luar. Entah apa yang dia lakukan, aku tidak tahu. Yang jelas, dia pasti punya rencana." lapornya kembali.
"Bagaimana dengan uangnya, apa masih ada padanya?"
__ADS_1
"Sepertinya masih ada di dalam tasnya." jawabnya dengan yakin. Karena kebetulan, tas Alex dan Rendy memang coupel. Jadi dia tidak bisa membedakannya, benar-benar sama.
"Oke, kembali ke tempatmu. Kita jalankan rencana kedua dua." titah seseorang dari seberang telepon yang memberi perintah.