Anak Bak Dewa

Anak Bak Dewa
Bab 23. Rencana Gilang


__ADS_3

Sepulang dari jalan-jalan, Rendy mengendap-endap masuk ke dalam kosan Kanaya. Dia menutup pintu dengan rapat sambil berjalan perlahan, berusaha tidak membuat keributan karena Kanaya bisa saja datang dan memarahi dirinya.


"Baru pulang?" sahut seseorang dengan suara dingin dan datar.


Rendy menoleh dengan cepat dengan wajah terkejut. Lalu menghampiri Kanaya yang berdiri bersandar di tembok dengan kedua tangan terlipat.


"Mama, aku sudah pulang." ucap Rendy seperti biasa sambil memegang tangan Kanaya dan menciumnya.


Kanaya menyambut tanpa senyum sama sekali. Setelah Rendy melepas tangannya, Kanaya berusaha mengantur nafasnya bersiap memarahi anaknya. Tetapi, sebelum itu Rendy malah bicara yang membuat Kanaya panik.


"Ma, aku tadi sempat di culik lagi." ucap Rendy yang melepas tas ranselnya.


"Apa? di culik? tidak ada yang terluka kan?" tanya Kanaya yang menghampiri Rendy dengan rasa khawatir. Dia sampai memeriksa tubuh Rendy.


"Hampir saja jantungku hilang, Ma. Rupanya, orang yang kita temui di pusat perbelanjaan itu, dia seorang penjahat." jelas Rendy.


"Apa? Bukannya mereka berempat sudah masuk ke penjara?" tanya Kanaya bingung.


"Bukan anak buah Dirgantara, Ma. Tetapi tante cantik yang bersama paman Gilang itu," ucap Rendy mengingatkan Kanaya.


"Oh, Friska. Tunangan presdir sombong nan pelit itu." jawab Kanaya yang mengerti maksud Rendy.


"Iya. Dia orang penjahat bersekongkol dengan paman jahat." ucap Rendy dengan mulut imutnya. Kanaya jagi gemes, tidak jadi marah.


"Sudah, sebaiknya kau segera mandi. Sebentar lagi matahari tergelam, kita tinggal menunggu makan malam. Nanti kalau kau mau pergi, minta izin biar tidak membuat mama mu kehilangan jantung." titah Kanaya dengan suara di tekan.


"Siap, Bu bos." ucap Rendy memberi hormat lalu mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.


Malam pun datang, Kanaya sibuk memasak di dapur. Berapa kali aroma harum tercium oleh Rendy, membuat perut Rendy berderit meminta bagiannya.


"Ma, masih lama?" tanya Rendy dengan wajah lemas belum makan seharian sambil memegang perutnya.

__ADS_1


"Tinggal ini." jawab Kanaya yang mengangkat wajannya.


"Aku laper sekali." rengek Rendy.


"Siapa suruh pergi tanpa sarapan dulu. Pulang juga sore hari. Kau memang pantas kelaparan." ujar Kanaya yang menyajikan tumis kangkung yang dia buat.


"Awas, Ma. Nanti aku adu ke nenek loh." ancam Rendy.


"Kalau mau masak sendiri, silakan. Kalau mau aku yang masakkan setiap hari, tutup mulutmu." ujar Kanaya sambil menatap anaknya dengan tajam. Rendy hanya bisa pasrah sebagai seorang anak.


"Nah, silakan nikmati makanannya." ucap Kanaya memberitahu Rendy.


Setelah mendengar aba-aba, Rendy mengambil nasi, lauk dan sayuran dengan gerakan cepat. Lalu menyuap dengan suapan besar. Kanaya baru sadar jika anaknya memang sangat kelaparan.


"Pelan-pelan makannya, Rendy. Aku tidak mau mengajakmu berlomba." tegur Kanaya.


"Iyap, Ma." jawab Rendy dengan mulut penuh.


"Begini caraku melindungi keluargaku." ucap Rendy dengan suara perlahan sambil tersenyum manis.


Keesokan Harinya...


Rendy bangun lebih pagi dari Kanaya. Karena hujan turun deras membuat Kanaya malas bangun dan malah menarik selimut. Rendy mandi terlebih dulu, kemudian membuat nasi goreng sendiri. Karena dapur begitu tinggi darinya, Rendy terpaksa mengambil kursi untuk membantunya memasak. Setelah selesai, Rendy lalu menyiapkan di atas meja dengan dua piring. Plus, Rendy membuat susu untuk dirinya sendiri.


"Ma, sudah pagi." bisik Rendy yang hampir mengigit telinga mamanya.


"Apa? Sudah pagi?" Kanaya terbangun dengan cepat, melihat sekeliling yang sudah terang.


"Jam berapa sekarang?" tanya Kanaya melirik jam yang tertempel di dinding.


"Ya ampun, sudah jam enam. Rendy, aku belum masak. Bagaimana ini? Kau tidak perlu makan, langsung ke sekolah saja. Nanti kalau pulang dari sekolah baru makan." usul Kanaya.

__ADS_1


"No, No, No. Aku sudah masak nasi goreng. Mama sebaiknya juga sarapan lalu berangkat ke kafe." ujar Rendy yang berlari mengambil nasi goreng buatannya.


"Anak pintar, kau bisa diandalkan." puji Kanaya.


"Mari makan." ucap Rendy yang meminum susunya terlebih dulu. Kanaya pun heran, dia tidak dapat susu dan Rendy membuat susu hanya untuk dirinya sendiri.


"Rendy, susu untuk mama dimana?" tanya Kanaya.


"Tidak ada, mama sudah besar jadi tidak butuh susu lagi. Hanya Rendy yang boleh minum susu." jawab Rendy dengan santai sambil menikmati susunya membuat Kanaya iri.


"Dasar anak aneh, masa aku dilarang minum susu." protes Kanaya tetapi dia tidak mau memarahi Rendy karena anaknya sudah membantu pagi ini.


'Tidak apa, aku marahi lain kali saja.' guman Kanaya tersenyum licik.


Sementara itu, di perusahaan Bintang group, Gilang mengumpulkan semua staf yang penting. Rapat darurat pun dilakukan.


"Hari ini, ada kabar mengejutkan buat kalian semua. Mulai detik ini, menit ini, dan jam ini, aku akan memeriksa semua pekerjaan kalian dengan seksama. Aku curiga diantara kalian ada salah satu pengkhianat yang bekerja sama dengan pengusaha lain. Lihat saja, setelah aku temukan pengkhianat itu, sudah pasti aku habisi dia tanpa memberi ampun sedikit pun." ujar Gilang dengan tegas yang sampai membuat semua orang merinding.


"Rey, periksa kamera cctv di hotel. Pastikan kau mendapatkannya sebelum Friska karena aku yakin dia pasti akan menghapusnya agar kita tidak curiga." perintah Gilang setelah keluar dari ruang rapat.


"Baik, pak."


"Jangan lupa, Rey. Cari tahu siapa orang yang mengirimi aku surel kemarin. Aku penasaran, darimana dia dapatkan rekaman suara itu dan siapa dia sebenarnya." ujar Gilang Wijaya yang penasaran.


"Tenang saja, aku sudah menyuruh Alvin mengurusnya." sahut Reyhan.


"Kau temui Mizuki dan buat rencana. Aku akan menunggu di ruanganku. Aku yakin sebentar lagi Friska pasti datang." titah Gilang yang berjalan masuk ke dalam lift. Sementara Reyhan berbelok ke kiri menuju ruangan Mizuki.


Gilang tidak habis pikir hampir di jebak semalam oleh Friska dan teman kerja samanya, Azal. Kalau bukan karena rekaman Rendy, Gilang tidak akan mengetahuinya semua ini. Al-hasil, Gilang pun mengikuti rencana Friska walau dia tahu ini jebakan. Gilang hanya ingin menunjukkan dirinya jika tidak ada satu pun orang yang boleh bermain-main dengannya.


"Kita lihat bagaimana akhirnya, Friska." ucap Gilang yang mengepal keras kedua tangannya. Dia mulai jijik berpapasan dengan Friska walau dulu dia selalu meluangkan waktu bersama Friska. Tetapi mendengar semua pengakuan Azal dari rekaman itu, seketika Gilang naik pitam. Selama ini, dia terlibat dalam permainan Azal dan Friska yang menjadikannya target.

__ADS_1


__ADS_2