
Sepulang sekolah, Rendy langsung menuju kantor polisi dimana dirinya ingin tahu masalah kemarin. Baru saja kakinya melangkah masuk, Rendy di sambut dua orang petugas polisi yang berlari menghampirinya.
"Maaf, Dek. Kami gagal menjalankan misi." ucap mereka dengan wajah menunduk dan dengan rasa bersalah.
"Sebenarnya, apa yang terjadi? Siapa yang datang membawa mak lampir itu?" tanya Rendy yang duduk di kursi putar sambil menatap tajam ke arah dua orang petugas polisi bergantian.
"Kata pak detektif, dia adalah kakak tersangka. Dia sudah menandatangi sebuah permohonan agar adiknya di bebaskan dan dirinya akan bertanggung jawab jika hal seperti ini terulang lagi." jelas mereka dengan padangan masih menunduk.
"Seperti apa orang itu?" tanya Rendy yang ingin tahu lebih banyak mengenai kakak Friska.
"Dia hampir sama dengan tinggi teman tersangka (Azal), tetapi tubuhnya sedikit agak gemuk, laki-laki itu terus saja menggunakan kaca mata, dan suaranya terdengar dalam ketika bicara. Tidak ada senyum yang terpancar dari bibirnya dan yang terpenting dia di panggil kakak oleh tersangka." jelas petugas polisi yang berusaha mengingat laki-laki itu.
"Apa dia datang sendiri?" tanya Rendy.
"Tidak, dia di kawal dua orang yang menjaganya ke sini. Dan satu orang sopir yang menunggu di dalam mobilnya."
"Jadi seperti itu. Apa dia memberitahu namanya?"
"Tidak. Dia hanya memberi kartu nama saja yang menuliskan Clady Group. Dia menyuruh kami untuk datang ke Clady Group jika ada masalah dengan pembebasan adiknya." ucap polisi berusaha memberikan informasi yang dia ketahui.
"Baiklah, nanti aku datang kembali ke sini. Jangan lupa agar kalian membawa kasus ini sampai ke pengadilan. Orang yang menjadi tersangka saat ini harus di hukum seberat-beratnya. Jangan biarkan dia lolos begitu saja seperti tersangka satunya." ucap Rendy dengan tegas sambil turun dari kursi putarnya.
Rendy lalu keluar dan menarik ponselnya mencoba mencari lokasi Clady Group. Setelah menemukannya, dia lalu memesan taksi ingin mengunjungi perusahaan itu.
__ADS_1
"Aku harus tahu siapa dia, sulit bagiku memberi balasan jika identitasnya tidak bisa aku ketahui. Diriku harus tetap kuat dan cerdik, aku punya banyak musuh dan sekarang malah bertambah satu lagi. Menyebalkan." ucap Rendy yang berdiri di pinggir jalan menunggu taksinya.
Ketika mobil taksi datang, Rendy masuk dengan cepat dan menuju lokasi yang dia tuju. Hanya butuh waktu dua puluh menit saja, Rendy akhirnya sampai. Rendy terus mengamati perusahaan Clady Group di depan matanya.
"Perusahaan ini cukup besar, desainnya juga bagus, banyak orang yang bisa bekerja di sini. Tetapi, kenapa sang presdirnya harus di sembunyikan identitasnya? Mengherankan." kata Rendy sambil menaikkan kedua alisnya. Rendy lalu berjalan masuk mencoba mencari tahu apa yang ada di perusahaan musuh.
Ketika melewati pintu berputar, Rendy di sambut salah satu staf yang menjaga pintu masuk. Rendy pun di tarik oleh staf tersebut. "Adek sedang apa di sini? Harap jangan masuk, karena ini bukan tempat main." ucap staf itu dengan ramah.
"Bukan kok, paman. Rendy tidak datang untuk bermain." jawab Rendy dengan memasang wajah imutnya. Semua orang pasti akan masuk ke dalam jebakannya jika sampai melihat wajah imutnya.
"Lalu, untuk apa? Apa adek punya orang tua yang bekerja di sini?" tanya staf kembali sambil terus mengamati Rendy.
"Tidak juga, paman. Rendy datang ingin numpang di toilet, perut Rendy sakit sekali seperti ingin buang air besar, tetapi tidak tahu harus ke mana. Makanya Rendy ke sini ketika melihat tempat ini cukup tinggi dan luas, pasti punya banyak kamar kecil atau toilet yang bisa di gunakan." ucap Rendy sambil memegang perutnya yang tidak sakit. Wajah tampak sedih pun di perlihatkan.
"Aduh, bagaimana, yah? Aku dilarang membawa masuk orang tidak bekerja di sini." ucap staf tersebut yang kebingungan. Dia sampai menggarut kepalanya walau tidak gatal.
"Baiklah, tetapi jangan lama-lama. Setelah kamu selesai di toilet, cepat keluar sebelum presdir datang." ucap staf yang menjaga dengan tersenyum manis. Dia lalu kembali ke tempatnya semula, memeriksa setiap orang masuk dan keluar.
"Ketat sekali penjagaan di sini, apa aku tidak bisa menebusnya? Aku harus mencari presdirnya dan melihat wajahnya." ucap Rendy yang berjalan sambil berpikir bisa masuk ke dalam lift yang akan membawanya berkeliling di Clady Group.
Mata Rendy berbinar-binar melihat beberapa rombongan staf ingin masuk ke dalam lift dengan membawa kertas yang tersusun rapi sambil menscroll layar ponselnya membuatnya tidak memperhatikan sekeliling.
"Tidak akan ada yang melihatku." ucap Rendy yang berlari dengan cepat, masuk terlebih dulu ke dalam lift sebelum orang itu masuk.
__ADS_1
Sesuai dugaan Rendy, tidak ada satu pun orang yang menegurnya. Mereka sibuk dengan diri mereka masing-masing. Ketika pintu lift terbuka, semua orang keluar dan mengosongkan lift. Rendy pun ikut keluar dengan menatap tiap sudut di sekelilingnya.
"Tempat apa ini?" tanya Rendy sambil berjalan perlahan.
Tidak berselang lama, suara langkah kaki yang ramai terdengar. Beberapa orang yang memakai jas hitam lengkap berjalan memasuki lorong. Rendy pun menepi sambil memperhatikan semua orang itu. "Aku terpaksa datang terburu-buru karena presdir mengadakan rapat dadakan. Seharusnya dia membuat jadwal jauh hari agar kita bisa tahu." protes salah satu di antara rombong itu.
"Entahlah, aku pun terkejut. Mungkin rapat ini adalah masalah besar bagi perusahaan Clady Group. Makanya presdir ingin membahasnya sekarang juga."
"Iya, aku tahu. Tetapikan, lihat waktu juga. Hari ini, banyak karyawan yang tidak masuk bekerja tetapi mereka terpaksa datang kerena acara rapat darurat ini. Benar-benar sangat menyebalkan." ucapnya dengan wajah tidak senang.
Setelah mereka masuk ke dalam ruangan, Rendy pun menunggu presdir yang mereka bicarakan. Tidak lama, pintu lift terbuka dan tiga orang berjalan menyusuri lorong. Ponsel kakak Friska berdering membuat dia berhenti sambil mengangkat teleponnya. Kakak Friska lalu memberi kode kepada pengawalnya agar mereka masuk lebih dulu. Rendy pun memperhatikan orang yang lewat sampai mengikuti mereka dan tidak melihat jika kakak Friska berada di belakangnya.
"Anak ini, dia anak nakal yang selalu mencari masalah. Aku harus sembunyi, jangan sampai dia melihatku." ucap kakak Friska yang berbalik sambil berlari menjauh dari sana. Rendy pun yang sempat menoleh, hanya melihat punggungnya dari belakang.
"Siapa orang itu?" tanya Rendy yang penasaran. Rendy lalu melangkah menuju orang tadi, ingin melihat siapa orang tadi.
Tetapi sebelum sampai di tempat persembunyian kakak Friska yang sengaja tidak memperlihatkan dirinya, Rendy di tarik oleh staf yang memberinya izin masuk tadi.
"Apa yang kau lakukan di sini, Dek. Bukannya aku sudah bilang, jangan masuk ke mana-mana. Hanya pergi ke toilet saja dan setrlah itu keluar. Lihat, presdir sampai tahu tingkahmu ini dan menyuruh semua orang menangkapmu segera." jelas staf dengan wajah memerah.
"Maaf, paman tadi bilang presdir? Aku kok ngak lihat presdirnya. Bisa paman tunjukkan yang mana di antara mereka presdirnya?" tunjuk Rendy mengarah pada pintu kaca dimana ruangan di dalamnya terlihat jelas. Semua orang duduk saling berhadapan dan masih ada satu kursi paling depan yang belum terisi.
"Loh, kenapa presdir belum datang juga. Perasaan tadi dia sudah masuk bersama tiga orang karyawan." kata staf dengan wajah bingung.
__ADS_1
"Dia pasti bersembunyi, tetapi untuk apa?" sahut Rendy yang merasa ada yang ganjal. Rendy lalu berlari kembali ke dalam lift dan menekan tombol lantai satu. Saat itu juga, presdir Clady Group keluar dari balik tembok.
"Dia sudah berani masuk ke dalam perusahaanku untuk mencari sesuatu yang penting baginya, tetapi dia lupa jika dirinya akan kesulitan untuk kembali keluar. Aku tidak akan biarkan anak nakal itu keluar dari sini dengan cepat." ucapnya sambil memperbaiki jasnya.