
Malam harinya, Rendy mengetik di laptopnya. Rendy dan Kanaya menginap di apartemen Gilang sampai keadaannya membaik. Awalnya, Kanaya menolak tetapi nenek Rani terlihat bersedih ketika Kanaya menolaknya.
"Kau bicara apa saja dengan nenekku tadi?" tanya Gilang sambil menyodorkan teh kepada Kanaya yang duduk di sofa, tidak jauh dari Rendy.
"Banyak, dia juga membahas masalah pernikahan. Tetapi, aku rasa terlalu dini membahas masalah seperti itu." ucap Kanaya.
"Kau bisa pertimbangkan perkataan nenekku. Dia pasti punya alasan membahasnya denganmu." ucap Gilang yang sebenarnya ingin membujuk Kanaya, tetapi neneknya memberitahu jika Kanaya sepertinya menolak menikah dengannya.
Gilang mengalihkan pandangannya menatap Rendy. Kedua alisnya tiba-tiba bertaut melihat tangan Rendy yang bergerak cepat menekan keyboard.
"Rendy serius sekali? Apa dia sedang bermain game?" sahut Gilang seketika. Kanaya menoleh menatap anaknya sambil bergeser ingin melihat apa yang dikerjakan Rendy.
"Jangan mengintip, Ma. Nanti mata mama sakit lagi, aku yang akan mendapat amukan dari mama." ujar Rendy yang menyadarinya.
"Sombong sekali, aku kan mau melihatnya sebentar." jawab Kanaya sambil terus menatap layar laptop Rendy.
"Ini bukannya kamera cctv? Untuk apa kau memperbesar dan memperkecil fotonya? Ingin mengeditnya?" tanya Kanaya yang menjadi bingung. Rendy memang selalu membuat semua orang tidak mengerti dengan apa yang di lakukannya.
Gilang yang mendengar perkataan Kanaya, berpindah tempat duduk ke sisi kiri Rendy sambil memperhatikan layar laptop Rendy. "Sekarang, papa yang ikut-ikutan." ucap Rendy menegur Gilang.
"Aku penasaran saja." jawab Gilang tersenyum manis.
"Baiklah, kalau kalian berdua ingin tahu, Rendy akan jelaskan apa yang Rendy lakukan. Pertama, Rendy mendapat video cctv dari petugas keamanan apartemen ini. Setelah bertemu dengan pelakunya tadi, Rendy merasa ada yang tidak beres. Makanya Rendy ingin mencari tahu dan aku akhirnya mengerti." ucap Rendy menoleh ke kanan melihat Kanaya, lalu menoleh ke kiri melihat Gilang.
__ADS_1
"Mengerti apa?" tanya Kanaya dan Gilang kompak.
"Dia bukan pelaku yang sebenarnya." ujar Rendy dengan sangat yakin.
"Apa maksudmu? Jangan memberi kesimpulan bodoh. Petugas polisi jauh lebih pintar darimu anak kecil." Ejek Kanaya.
"Aku serius, Ma. Jika kita memperhatikan videonya, jelas sekali banyak perbedaannya. Nah, orang yang berdiri di apartemen terlihat begitu kurus, sementara orang yang duduk santai di pinggir jalan terlihat agak gemuk. Bukan hanya itu, warna kulit mereka terlihat berbeda. Jika kita memperhatikan tangan yang meletakkan alat peledak itu sebelum berlari, warnanya begitu putih. Kemudian orang yang duduk di pinggir jalan, terlihat sedikit coklat. Kita bisa melihat tangan yang memegang ponselnya." jelas Rendy panjang lebar.
"Menurutku, mereka berdua terlihat sama. Sama-sama menggunakan jaket hitam, menggunakan topi hitam, bahkan jam di tangannya juga sama. Kemudian warna kulitnya tidak terlihat karena mereka menutupi semua dirinya. Kalau kurus dan gemuknya, kau tidak bisa memastikannya. Mereka menggunakan jaket, yang terlihat membuat tubuhnya besar. Jadi tidak ada yang salah kalau menurut kesimpulanku." bantah Kanaya yang mengeluarkan pendapatnya.
"Karena itulah mama bodoh, bisa di tipu dengan mudah. Lain kali, belajar dariku, Ma." singgung Rendy yang merasa kesal karena Kanaya tidak mau percaya atau mendukung pendapatnya.
"Apa kau bilang anak kecil?" teriak Kanaya yang menatap Rendy dengan tajam, ingin kembali bertengkar dengan Rendy.
"Sudahlah, aku mau tidur saja. Kalian berdua tidak bisa di andalkan." ucap Kanaya dengan suara perlahan, merasa kalah dari Rendy karena Gilang berpihak kepada anaknya.
"Selamat malam, Ma." teriak Rendy memberi ucapan kepada Kanaya sebelum mamanya tidur. Setelah itu, Rendy pun kembali menonton rekaman cttv.
"Sejak kapan kau begitu cerdas? Bahkan hal seperti ini saja bisa kau ketahui. Apa Kanaya yang mengajarimu?" tanya Gilang menatap Rendy dengan lekat-lekat.
"Tidak. Aku belajar sendiri, mungkin karena IQ otakku lebih tingginya makanya semuanya terasa mudah di depan mataku." ujar Rendy.
"Itu bagus. Aku sejak kecil juga sering berurusan dengan penjahat sampai kedua orang tuaku memutuskan membawa aku pergi ke luar negeri. Aku lebih aman di sana dan setelah menginjak dewasa, aku kembali dan mengelolah bisnis keluargaku yang sempat tertinggal. Walau tidak mudah, aku terus berjuang mengandalkan diriku sendiri." jelas Gilang yang kini curhat dengan anaknya.
__ADS_1
"Papa terlihat mau menangis, apa karena pantulan layar laptopku? Papa sebaiknya istirahat lebih dulu, nanti kalau pekerjaanku sudah selesai aku juga akan pergi tidur." Pintah Rendy sambil berkata manis.
Gilang tersenyum tanpa dia sadari sebuah kecupan mendarat di pipinya. "Selamat malam, papa." ujar Rendy.
"Baiklah, selamat malam juga anak terbaik papa." kata Gilang sambil memberi Rendy kecupan kembali. Gilang lalu bergegas ke dalam kamarnya, beristirahat dengan tenang.
"Aku sebaiknya mencari tahu orang ini. Setelah dia meletakkan alat peledaknya, dia lalu pergi menuruni tangga. Kemudian di lantai dua, dia masuk lift menuju lantai dasar. Masih ada yang mengganjal, kenapa dia memilih turun menuju lift ketika berada di lantai dua? Seharusnya dia tetap turun lewat tangga agar bisa aman?" tanya Rendy kepada dirinya sendiri.
"Lalu, cctv mati di lantai dasar. Aku tidak bisa memastikan dia pergi ke mana setelahnya. Dan orang yang menjadi tersangka muncul di pinggir jalan ketika semua orang mulai heboh. Jangka waktu yang dia gunakan setelah keluar dari lift selisih 10 menit. Ini cukup untuk melarikan diri."
Ketika Rendy sibuk berpikir, sebuah pesan masuk di ponselnya. Rupanya dari Gilang. Wajah Rendy menjadi terkejut melihat nama pengirim pesan itu.
^^^[Aku butuh bantuan denganmu, jika kau tidak keberatan membantuku, kita bisa bertemu besok siang di kafe dekat perusahaanku.]^^^
"Papa pasti juga stres memikirkannya. Kasihan, aku harus membantu papa." kata Rendy sambil menutup layar laptopnya. Dia lalu berjalan menuju kamar Gilang, mengintip dari balik pintu yang terbuka sedikit dan melihat Gilang sibuk mengetik di laptopnya juga. Gilang rupanya tidak istirahat, tetapi dia juga sedang memikirkan kasus yang menimpah dirinya.
Setelah mengintip, Rendy menutup pintu kamar Gilang perlahan kemudian pergi menuju kamar Kanaya yang berada di samping kamar Gilang.
"Mama sudah tidur, dia pasti sangat capek mengkhawatirkan aku." ujar Rendy yang memandang wajah Kanaya yang sudah terlelap dalam tidurnya.
Cup..
"Semoga tidur nyanyak, Ma. Rendy sayang sekali dengan mama." ucap Rendy kemudian menarik selimut agar bisa membalut tubuh Kanaya. Dia lalu ikut berbaring di dekat Kanaya sambil memejamkan matanya bersiap untuk tidur.
__ADS_1
"Semoga besok aku bisa memulai penyelidikan." ucap Rendy dengan suara perlahan sebelum dirinya kembali ke alam mimpi.