Anak Bak Dewa

Anak Bak Dewa
Bab 70. Kode


__ADS_3

Malam harinya ketika semua orang sudah tertidur, Alvin diam-diam keluar larut malam dengan mengendap-endap. Langkah kakinya begitu perlahan dan tak mengeluarkan suara. Rendy yang sempat berjalan ke dapur untuk mengambi air minum, tiba-tiba melihat Alvin yang keluar dari rumah. Rasa penasaran Rendy muncul, dia berbelok arah dan mengikuti Alvin diam-diam.


Ketika mobil Alvin mulai berjalan, Rendy bangun dari tempat persembunyiannya dan memperlihatkan dirinya pada Alvin. "Kita mau ke mana uncle?" sahut Rendy.


"Astagfirullah Al-azim. Rendy! Aku hampir jantungan." ujar Alvin yang terkejut setengah mati. Mobilnya sampai berhenti mendadak.


"Lagian Uncle pergi seperti pencuri saja. Memangnya Uncle Alvin mau ke mana?" tanya Rendy sambil melipat kedua tangannya dan berpindah duduk ke samping Alvin.


"Rahasia, kau tidak boleh tahu." jawab Alvin.


"Kenapa Rendy tidak boleh tahu?" tanya Rendy yang mengusul masalahnya sampai ke akar-akarnya.


"Karena Rendy masih anak kecil, ini urusan orang dewasa. Aku langsung membawamu pulang saja ya?" pintah Alvin yabg berniat berbalik arah.


"Boleh, tetapi jangan harap uncle Alvin bisa keluar. Aku bangunkan seluruh penghuni rumah, kalau perlu satu rt pun aku bangunkan tengah malam." ucap Rendy mengancam. Nyali Alvin menciut. Dia tidak jadi memutar mobilnya dan kembali melanjutkan perjalanan hingga tiba di tempat yang sepi. Tidak ada rumah dan hanya di kelilingi pohon kelapa. Tidak ada pula alat penerang jalan dan hanya lampu mobil saja membuat Rendy bergetar.


"Uncle tidak sedang menguji nyali menemukan hantu kan?" tanya Rendy yang menarik tangan Alvin.


"Tidak." jawab Alvin singkat.


"Lalu, kenapa kita berhenti di jalan sepi ini? Tidak ada orang lagi."


"Kau banyak bicara, siapa suruh mau ikut. Aku sudah bilang tadi jika ini masalah orang dewasa. Anak kecil tidak boleh berada di sini." jelas Alvin.


"No, Rendy terlanjur sudah ada di sini. Tidak apa selama Uncle tidak meninggalkan Rendy di sini." ujar Rendy sambil mendongak menatap wajah Alvin.


Tidak lama menunggu, sebuah mobil hitam sedan datang. Turun seorang wanita cantik yang menggunakan gaun berwarna merah terang. Rendy memegang erat tangan Alvin.


"Dia bukan hantu kan, Uncle?" tanya Rendy lagi.


"Bukan, tenang saja. Dia itu teman Uncle. Sekarang, Rendy tidak boleh bilang ke siapapun menyangkut masalah ini. Janji?" tanya Alvin sambil mengajukan jari kelingkingnya.

__ADS_1


"Janji selama itu kebaikan bersama." jawab Rendy yang mengajukan jari kelingkingnya membalas jari Alvin.


"Anak pintar, sekarang kamu masuk ke dalam mobil. Biar uncle bicara dengan teman Uncle dulu." titah Alvin.


Rendy menurut dan berjalan masuk ke mobil Alvin. Sekilas matanya menatal wanita cantik di depan Alvin. Perasaan aneh muncul, Rendy merasa tidak asing dengan orang ini seolah pernah berurusan dengannya.


"Jadi, bagaimana selanjutnya?" tanya wanita itu yang tidak di ketahui namanya.


"Nanti aku kabari, hanya saja beberapa hari ke depan kita tidak perlu bergerak. Aku akan menyampaikan perintah lewat email." jelas Alvin yang menatap tajam wanita itu.


"Lalu, tentang Gilang. Apa kau setuju dengan penawaranku?" ucap wanita itu lagi sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Cih.. Mana mau Gilang denganmu. Gilang sudah punya pasangan baru yang tinggal bersama kami saat ini. Anak yang tadi kau lihat adalah anak Gilang dan wanita itu. Jadi jangan terlalu berharap. Selesaikan saja kerja sama kita sebelum kau menyesal seumur hidupmu." titah Alvin yang masuk ke dalam mobilnya meninggalkan Wanita itu.


Mobil Alvin pun melaju, Rendy sibuk melihat wanita cantik itu berharap bisa mengingat dimana dia pernah bertemu dengannya.


"Siapa dia Uncle?" tanya Rendy memancing Alvin.


"Tidak, Rendy merasa tidak asing dengannya seolah pernah bertemu. Mungkin hanya perasaan Rendy saja karena selama ini Rendy tidak pernah keluar negeri." kata Rendy yang menepik pemikirannya.


"Ya sudah, kita langsung pulang saja. Tetapi kau harus janji tidak akan memberitahu kepada siapapun masalah ini. Apa yang kau lihat atau apapun itu, jangan beritahu siapapun." kata Alvin mengingatkan Rendy kembali.


"Uncle tenang saja, Rendy masih punya telinga dan berfungsi dengan baik." ucap Rendy.


Keesokan Harinya...


Di rumah nenek Rani, tiga orang sibuk menelpon ke sana sini. Rendy yang bar bangun segera duduk di samping mamanya. "Ada apa, Ma?" tanya Rendy ingin tahu.


"Husst, jangan berisik. Terjadi masalah di perusahaan Gilang tadi malam." jawab Kanaya dengan suara perlahan.


"Masalah apa? Data papa di bobol lagi?" ucap Rendy yang bingung. Setau dirinya, hanya dia yang sering bermain dengan perusahaan Gilang. Tidak ada yang lain.

__ADS_1


"Entahlah, mama tidak tahu." jawab Kanaya sambil menaikkan kedua bahunya.


"Oke-oke. Aku kirim orang ke sana sekarang." sahut Gilang sambil menutup panggilannya. Gilang duduk di depan neneknya dengan wajah khawatir. Matanya terpejam berkali-kali sambil menghela nafas kasar.


"Sudah beres?" tanya nenek Rani.


"Belum, masalahnya semakin melebar saja. Aku tidak bisa mengatasinya sendiri. Perusahaanku sebentar lagi akan hancur, tinggal terima nasib saja jika begini terus." ucap Gilang yang pasrah.


"Ada apa, Pa?" tanya Rendy yang tidak bisa diam. Kanaya sampai menyenggol lengan anaknya yang selalu ingin ikut campur.


"Tidak perlu di beritahu, Lan. Rendy tidak akan bisa membantu." jawab Kanaya.


"Tidak apa-apa, sayang. Ini masalah papa jadi papa yang akan menyelesaikannya sendiri." ucap Gilang yang memaksakan senyumannya pada Rendy.


"Sepulang sekolah nanti, Rendy boleh kan mampir di perusahaan papa lagi?" tanya Rendy.


"Tentu saja boleh, tidak ada yang melarang. Rendy puas datang kapan saja ke perusahaan papa." ucap Gilang.


"Bagus, aku bisatahu masalah papa nanti." guman Rendy.


"Nah, sekarang Rendy berangkat ke sekolah saja biar mama yang antar." ajak Kanaya sambil memegang tangan Rendy dan menariknya masuk ke dalam kamar.


Di depan gerbang sekolah, terlihat Alex berdiri menunggu Rendy. Setelah melihat Rendy turun dari motor, senyum Alex pun terpancar. Dia dengan cepat berlari menghampiri Rendy.


"Hei! Kawan. Aku pikir kau di culik lagi di tengah jalan karena terlambat datang ke sekolah." sapa Alex.


"Tidak, papaku lagi ada masalah di perusahaannya jadi kami semua duduk dulu mendengarkan." jelas Rendy yang berjalan perlahan masuk ke dalam sekolah.


"Masalah apa? Papamu bangkrut?" tanya Alex berkata dengan mudah.


"Tidak juga. Mungkin masalah sistem perusahaan atau saham. Aku juga belum tahu pasti." ucap Rendy yang sampai di kelasnya. Mereka berdua lalu barengan duduk sambil meletakkan tasnya di kursi.

__ADS_1


Tiba-tiba, sebuah pesan yang tertulis di papan membuat Rendy dan Alex terkejut. Sebuah simbol kode yang tidak di mengerti. Rendy menarik ponselnya dan mengotak atiknya ingin tahu apa arti simbol itu.


__ADS_2