
Saat Rendy dan Alvin sampai di kediaman nenek Rani, terlihat Gilang dengan pakaian kerjanya menunggu mereka. Terlihat juga Kanaya berdiri di belakang sambil menggunakan gaun cantik berwarna senada dengan Gilang. Wajah mereka berdua terlihat serius. Sementara Nenek Rani langsung masuk ke dalam rumah ketika melihat Alvin.
"Ren, kenapa mereka semua melihat kita dengan tajam?" bisik Alvin yang gemetar. Ada yang tidak beres dengan tatapan tajam Gilang.
"Rendy juga tidak tahu, Uncle. Tetapi, Rendy akan memberitahu papa semua masalah Uncle. Jadi, jangan mengemis pada Rendy." ucap anak nakal itu sambil berjalan menghampiri Gilang lebih dulu.
Saat Rendy ingin bicara, Kanaya segera menutup mulut anaknya dan memeluk tubuh Rendy sambil berbisik. "Jangan bicara sekarang, Gilang sedang marah besar." kata Kanaya dengan suara perlahan.
"Why?" tanya Rendy dengan alis mengerit.
"Tadi di pesta pernikahan teman kerja Gilang, tiba-tiba.." belum selesai Kanaya menjelaskan, suara Gilang mengemparkan mereka berdua. Gilang memukul Alvin dengan keras dan tanpa ampun.
Semua tatapan tertuju pada Gilang. Rendy merasa kasihan pada Alvin yang punya bekas pukulan papanya.
"Kak Gilang?" teriak Alvin yang belum mengerti.
"Tidak terima, ha? Bagaimana bisa kau di bodohi temanmu sendiri. Kau tahu masalah besar yang terjadi, sudah tidak bisa aku hadapi lagi." ujar Gilang dengan tegas.
"Apa maksud kak Gilang?" tanya Alvin meski dia sudah bisa menebak apa yang membuat Gilang marah besar.
Mobil Reyhan masuk ke parkiran. Reyhan segera turun dan menghampiri Gilang. Dia mendorong kecil tubuh Gilang agar menjauh dari Alvin. "Sudahlah, Lan. Biar aku yang mengurus Alvin." kata Reyhan.
"Tidak. Perusahaanku sudah hancur. Itu bukan perusahaanku, itu perusahaan keluarga kita, hasil keringat kakek dan ayahku ada di situ. Tetapi, dengan naifnya Alvin memberikannya pada temannya sendiri. Dasar bodoh!" teriak Gilang dengan suara tinggi.
Kanaya dan Rendy sampai kaget. Mereka berdua spontan mundur. Reyhan melirik Rendy sekilas, lalu memutar bola matanya pada Gilang memberi kode jika anaknya berada di sampingnya dan melihatnya.
"Huff. Aku kesal sekarang." ujar Gilang sambil masuk ke dalam rumah dengan wajah memerah. Dia masuk ke ruang kerjanya dan membasmi semua barang-barang yang ada di sana, sambil melampiaskan kemarahannya.
Setelah Gilang pergi, Rendy menghampiri Reyhan dengan berani. Kanaya yang melihatnya, langsung menegur anaknya yang selalu penasaran.
"Hei, anak kecil. Kau mau ke mana? Ayo masuk, besok kau harus ke sekolah." kata Kanaya mengingatkan.
Rendy tidak peduli dengan teguran Kanaya dan tetap menghadap Reyhan. Dia bingung apa yang terjadi sebenarnya. "Uncle Reyhan, kenapa papa sangat marah?" tanya Rendy memasang wajah imutnya.
__ADS_1
Kanaya menarik anaknya dengan cepat, tidak mau memperpanjang masalah besar yang dia tidak mengerti. Kanaya sampai menggendong tubuh Rendy masuk ke dalam kamarnya. Sementara Alvin, menunduk tidak tahu harus melakukan apa.
Di dalam kamar, sang anak menatap tajam mamanya sambil melipat kedua tangannya. Kanaya itu melototi Rendy sambil memanyungkan bibirnya.
"Kenapa mama menghalangiku, sudah bosan hidup?" ancam Rendy dengan wajah murung.
"Kau sudah ingin berhenti jadi anak mama? Berhenti menatapku tidak suka seperti itu." balas Kanaya yang duduk di tepi tempat tidurnya.
"Rendy ingin membantu agar papa tidak marah lagi. Mama menggagalkan semua rencana Rendy." titah Rendy yang keras kepala.
"Hei, anak kecil. Kau tidak lihat wajah Gilang berusaha menjadi monster? Aku saja, orang dewasa takut melihatnya." jelas Kanaya.
"Tetapi, Rendy anak tersayang papa. Jelas papa tidak memakan anaknya sendiri. Monster saja, pilih-pilih makanan." ucap Rendy yang duduk di samping Kanaya.
"Benar juga. Apa kita sebaiknya bicara pada Gilang agar emosinya reda?" pikir Kanaya sambil melirik Rendy.
Merela berdua lari bersamaan mencari Gilang. Semua pintu kamar di buka Rendy dan Kanaya. Tetapi mereka tidak bisa menemukan Gilang.
"Monster itu sudah menghilang." sahut Kanaya yang terhenti di depan ruang kerja Gilang.
"Oke, kita periksa. Ini yang terakhir kali." kata Kanaya mengiyakan. Rendy berlari dengan cepat dan membuka pintu dengan perlahan.
Gelap, seluruh ruangan berwarna hitam. Lampu mati dan tidak ada yang bisa di lihat Rendy.
"Sejak kapan di rumah ini ada ruangan khusus hantu?" tanya Kanaya sambil berjalan masuk perlahan mencari tombol saklar lampu.
Tiba-tiba kaki Kanaya tersandung membuat tubuhnya terjatuh. Rendy mencari mamanya yang tidak terlihat.
"Bangsat! Siapa yang berani denganku, ha? Keluar kamu sekarang, dasar hantu tidak tahu diri." teriak Kanaya yang merasakan kakinya sakit.
Ceklek..
Lampu menyala seketika membuat semua ruangan yang tadinya gelap, kini terang berderang. Terlihat manusia yang di cari Kanaya berdiri tepat di hadapannya sambil menunduk menatap Kanaya. Rendy lari keluar dan segera mengunci pintu dari luar.
__ADS_1
"Hei, anak kecil! Mama ketinggalan di sini!" teriak Kanaya meminta tolong.
Gilang menatap wajah Kanaya yang ketakutan dan mengeluarkan keringat dingin. Kanaya berusaha mengalihkan pandangannya karena tak berani menatap wajah Gilang yang masih marah.
"Hantu lebih suka orang yang ketakutan." sahut Gilang.
"Aku tidak takut. Aku hanya kesakitan karena jatuh." ucap Kanaya yang mengelus kakinya.
Gilang berjongkok, membantu Kanaya. Dia mengambil kotak tempat obat-obatan. Segera melap kaki Kanaya dan membalut luka kaki Kanaya yang terdapat goresan karena dirinya.
"Kau tidak marah lagi?" tanya Kanaya yang memberanikan dirinya.
"Kenapa bertanya?" balas Gilang dengan suara dingin tanpa menatap wajah Kanaya.
"Bisa saja bukan, kau memutar kakinya karena kesal. Semua barang yang ada di ruang ini pecah. Itu pasti ulah hantu yang menakutkan itu." Sindir Kanaya.
"Kalau begitu, keluar segera sebelum aku benar-benar memutar kakimu." ucap Gilang. Kanaya bangkit dengan cepat, lalu berjalan menghampiri pintu yang terkunci.
Berapa kali Kanaya memutar gang pintu, pintu tidak kunjung terbuka. Kanaya menoleh menatap Gilang yang juga menatapnya. "Kau tidak berpikir Rendy mengunci dari luar kan?" tanya Kanaya. Gilang hanya menaikkan pundaknya.
"Hei, Rendy. Kau ada di luar?" teriak Kanaya sambil mengetuk pintu di depannya.
"Rendy sudah tidak ada." sahut Rendy yang bersandar di pintu menguping pembicaraan Kanaya dan Gilang di dalam sana.
"Jangan bermain-main dengan mama. Kau tidak akan lepas nanti. Cepat! Buka pintunya!" titah Kanaya yang mengancam anaknya sendiri.
"Tidak mau. Mama selalu saja marah-marah." balas Rendy sebelum pergi meninggalkan tempat kerja Gilang.
"Hei! Rendy! Tolong buka. Aku tidak mau lama-lama di sini." teriak Kanaya dengan suara tinggi, tetapi dirinya tidak mendapat balasan dari anaknya. Kanaya yakin, Rendy sudah pergi. Terpaksa, tubuh Kanaya bersandar di pintu meratapi nasibnya.
"Ini sudah larut malam. Terpaksa kita tidur di sini. Mau pakai jaketku? Di sini dingin sekali." kata Gilang yang menghampiri Kanya yang murung.
"Anak itu pasti sengaja melakukannya. Dia mau balas dendam denganku. Huff, kenapa aku harus punya musuh dengan anakku sendiri." ujar Kanaya dengan suara perlahan sambil menyandarkan kepalanya di pundak Gilang.
__ADS_1
Di luar pintu, Rendy berbaring di lantai depan pintu. Dia yakin, mamanya kedinginan di dalam. Makanya, Rendy pun memilih tidur di lantai sama seperti mama papanya.
"Kita sama-sama menderita." umpat Rendy yang memejamkan matanya.