Anak Bak Dewa

Anak Bak Dewa
85. Keputusan Menikah


__ADS_3

Kanaya memutar bola matanya saat mendengar perkataan ibunya. Dia tidak terima, jelas sekali dirinya sampai bangkit dari tempat duduknya.


"Serius, Ma?" tanya Rendy yang malah menatap manis ke arah Kanaya.


"Bu, kita belum mendiskusikannya. Kenapa ibu mengambil keputusan sepihak. Aku tidak mau menikah dengan Gilang." titah Kanaya sambil melipat kedua tangannya.


"Kanaya, pikirkan Rendy. Dia butuh seorang ayah." ujar Ibunya dengan tatapan tajam.


"Bu, sejak lahir Rendy tidak pernah mendapat kasihan sayang seorang ayah. Aku sendiri yang membesarkannya, dia sudah terbiasa tanpa Gilang. Jadi, aku tidak akan mau menikah dengan Gilang!" titah Kanaya lagi yang keras kepala.


Gilang dan Alvin hanya bisa menundukkan diri. Hati Gilang terasa sakit, belum pernah seorang perempuan berhasil mengcabik hatinya meski pernah bertunangan dengan Friska.


"Lan, aku minta maaf. Sebaiknya kau pulang sekarang juga, jangan pernah datang ke rumahku lagi." kata Kanaya yang malah mengusir Gilang.


"Mama." sahut Rendy dengan suara perlahan, namun Kanaya segera masuk ke dalam kamarnya dan menutup rapat pintu kamarnya. Tatapan Rendy mengarah ke Gilang, dia merasa kasihan melihat wajah sedih papanya.


"Dasar Kanaya, susah sekali di beritahu. Sabar Gilang, nenek akan terus membujuk Kanaya." ucap Ibu Kanaya yang pergi ke depan kamar anaknya, mengetuk pintunya dan berusaha bicara kembali.


Di ruang tamu, tidak ada senyum yang terpancar dari tiga orang ini. Mereka semua fokus dengan diri masing-masing. Alvin yang biasanya cerewet, kini menutup mulutnya rapat-rapat. Dia tidak ingin menambah kesedihan Gilang.

__ADS_1


"Pa, mau Rendy bantu bujuk mama?" tanya Rendy sambil memegang jari tangan Gilang.


"Sebenarnya, Pa. Mama itu orangnya sangat baik dan penyayang. Dia di kenal ramah oleh teman-temannya. Namun, setelah Rendy ada, mama terus di hujat sana sini. Bahkan, teman mama secara terang-terangan mengatakan mama seorang pelacur. Rendy ikut sakit mendengarnya, namun mama selalu mengembangkan senyumannya pada Rendy. Dia yakin, mama akan baik-baik saja." jelas Rendy. Gilang dan Alvin menjadi sadar, ini alasan kenapa Kanaya tetap pendirian menolak menikah dengannya.


"Lan, kamu harus memberi Kanaya waktu. Dia belum siap saat ini." tepuk Alvin.


"Ah, kalau begitu kita pulang malam ini. Kebetulan, ada masalah di kota yang harus aku selesaikan. Reyhan tidak bisa di andalkan." ujar Gilang yang kembali tersenyum. Suasana mulai membaik.


Menjelang magrib, mobil Gilang sudah berangkat. Kanaya hanya mengintip dari jendela kamarnya. Hatinya terus bersuara, menyuruhnya menghentikan Gilang.


"Aku ini berpikir apaan? Aku sendirikan yang mau Gilang pergi?" ujar Kanaya yang duduk di kursi riasnya. Tiba-tiba anaknya langsung masuk dan mengagetkan dirinya.


"Kenapa? Kau takut mamamu sakit? Wah, kau sudah semakin peduli denganku." ucap Kanaya yang menepuk perlahan wajah gemas Rendy.


"Ma, jika mama tidak mau menikah dengan papa, lalu mama mau menikah dengan siapa? Uncle yang pernah mama jemput di bandara sudah tidak ada. Entah dia berada di mana. Apa mama dekat dengan seorang laki-laki tanpa Rendy ketahui?" tanya rendy dengan wajah seriusnya.


"Benarkah? Apa mama perlu mencari duda juga?" ujar Kanaya sambil berpikir.


"Rendy tidak suka duda, Ma. Kalau masih ada perjaka, kenapa harus duda? Tetapi kalau mama pilih papa, Rendy semakin senang." ujar Rendy yang berteriak keras. Kanaya malah tersenyum melihat wajah imut anaknya. Perasaan tak enak dari dalam hati Kanaya, mendadak hilang.

__ADS_1


Keesokan Harinya, Kanaya selesai bersih-bersih. Dia lalu masuk ke kamar Rendy melihat kondisi anaknya yang belum keluar sejak pagi. Rendy malah fokus dengan laptopnya.


"Kau sedang bekerja?" tanya Kanaya yang menghampiri anaknya.


"Bukan, Ma. Rendy belajar. Rendy sedang mencari informasi bagaimana cara mengembangkan sebuah perusahaan." jelas Rendy yang membaca berita dari laptopnya.


"Rendy, apa kau membantu Gilang lagi?" ujar Kanaya yang kini mengubah nada suaranya.


"Benar, Ma. Kenapa? Mama tidak suka dan ingin melarang Rendy melakukannya?" balas Rendy sambil menoleh menatap wajah mamanya yang dilanda perasaan aneh.


"Sejujurnya, mama telah berpikir keras semalam. Mama pikir, tidak ada pilihan selain menikah dengan Gilang. Benar bukan?" ucap Kanaya yang gugup.


"Kenapa mama berpikir seperti itu? Tidak ada laki-laki yang mau dengan mama? Ha ha ha, Rendy sudah duga. Senior mama yang sangat menyukai mama, kini telah pergi. Tersisa papa." ujar Rendy tertawa mengejek.


"Hei, anak nakal. Mamamu sedang curhat, kenapa kau malah tertawa seperti itu. Tidak sopan." tegur Kanaya.


"Baiklah, Rendy akan dukung seratus persen keputusan mama. Apa perlu, Rendy yang beritahu papa?" tanya Rendy yang masih tersenyum. Kanaya menjadi ragu, namun melihat wajah anaknya berbinar-binar, Kanaya memberanikan diri mengangguk.


"Yeah, Rendy bakal punya mama dan papa!" teriak Rendy kegirangan.

__ADS_1


__ADS_2