
"Wah hebat, anak mama bisa memenjarakan empat orang sekaligus. Luar binasa, ha ha ha," puji Kanaya sambil tertawa lebar di samping Rendy.
"Sudahlah, Ma. Itu tidak lucu." kata Rendy yang kesal. Kanaya terus saja mengulang perkataanya dan tertawa senang seperti mengejek anaknya saja.
"Tentu saja itu lucu. Ini pertama kali ada anak kecil yang memenjarakan para penculik dan anak itu adalah anakku sendiri. Ha ha ha,"
"Ma, masih ada satu orang yang harus aku bawa ke penjara." sahut Rendy seketika membuat Kanaya terdiam.
"Siapa?" tanya Kanaya penasaran.
"Dirgantara, kakek tua itu. Dia yang merencang kasus penculikan diriku. Aku juga ingin memberinya pelajaran." jelas Rendy mengepal keras kedua tangannya.
"Boleh-boleh, tetapi apa sebaiknya kamu penjarakan satu orang yang mama minta dulu?"
"Siapa?"
"Itu, ibu kos yang suka marah-marah. Masa kemarin dia hampir mengusir kita?"
"Lalu, salah ibu kos dimana?" tanya Rendy sambil menaikkan pundaknya.
"Iya, salahnya dia mencoba mengusir kita dengan menaikkan biaya sewa. Aku sudah ancam dia jika kamu bakal penjarakan dia." jelas Kanaya.
"Maaf, Ma. Aku rasa, ibu kos tidak salah. Yang punya tempat kosan kan, dia. Terserah ibu kos mau apakan dan berapa biaya sewanya. Diakan pemilik asliya." Nasehat Rendy. Kanaya yang tadinya bersemangat berapi-api, kini diam seribu bahas mendengar ceramah anaknya.
"Ayo masuk, lalu tidur. Jangan main ponsel atau membuka laptop." perintah Kanaya dengan suara datar. Dia buru-buru membuka pintu dengan membanting pintu keras sampai Rendy terkaget-kaget.
"Hufft, kalau emak sudah kesal, pintu pun jadi korbannya." sahut Rendy sambil menghela nafas kasar.
Keesokan Harinya..
Rendy mengganti bukunya sebelum berangkat ke sekolah. Dia menemukan alat pelacak yang di simpan Alex. Rendy pun bingung, mencoba berpikir sejak kapan alat pelacak ini ada di tasnya.
"Apa seseorang sengaja menyimpangnya? Tetapi untuk apa?" tanya Rendy yang tidak mengerti.
"Rendy, ayo sarapan sebelum berangkat!" teriak Kanaya dari luar. Rendy pun memasukkan alat pelacak itu kembali ke dalam tasnya dan keluar menemui Kanaya.
__ADS_1
"Ma, Rendy naik taksi saja. Hari ini, mama harus buka kafe lebih pagi kan?" tanya Rendy sambil memakan roti yang diberikan Kanaya.
"Kenapa tiba-tiba mau naik taksi? Tidak suka aku antar pakai motor pinjaman?"
"Bukan, hanya saja Rendy merasa mama nanti terlalu capek. Tidak apa kan, Ma. Kalau Rendy naik taksi hari ini saja?" tanya Rendy dengan suara memohon.
"Yakin bisa sendirian?"
"Yakin dong. Rendy kan pernah naik taksi sepulang sekolah waktu itu." jawab Rendu dengan cepat.
"Baiklah, aku izinkan. Tetapi kalau sudah sampai di sekolah, kabari aku biar tidak mengcemaskanmu." ujar Kanaya menyetujui. Rendy pun berlari memeluk mamanya dan memberinya kecupan lembut di dahi sebagai tanda terima kasih.
"Mama memang yang terbaik." puji Rendy.
"Iya, kalau ada maunya pasti baik sekali." balas Kanaya yang ikut senang melihat tingkah anaknya.
Kanaya pun mencarikan Rendy taksi di pinggir jalan. Setelah menemukannya, Kanaya memberi pengertian berkali-kali kepada sopir taksi.
"Bang, anakku ini itu sangat mahal. Awas ya, kalau tidak sampai di sekolahnya dengan selamat!" ancam Kanaya sambil menunjuk sopir taksi.
"Iya, bu."
"iya, bu. Aku mengerti kok." jawab pak sopir sambil mengangguk perlahan.
"Satu lagi, Bang. Pastikan dulu anakku sudah masuk ke sekolah sebelum abang pergi dari saja, takutnya ada yang menculik anakku, abang yang aku salahin." tutur Kanaya.
"Iya, bu."
"Jangan iya-iya terus, bang. Ingat apa yang aku katakan, kalau sampai salah satunya lupa, cubit kuping abang daripada nanti aku yang hilangin sekalian."
Pak sopir meneguk ludahnya, dia seperti menjadi takut mendengar semua ancaman Kanaya. Rendy pun menggeleng kepalanya yang duduk di kursi penumpang.
"Bang, satu lagi." Kata Kanaya menepuk pundak pak sopir taksi.
"Ma, sudah. Nanti Rendy terlambat." tegur Rendy.
__ADS_1
"Iya, tunggu sebentar dulu. Bang, pastikan anakku tidak terlambat juga." ucap Kanaya untuk terakhir kalinya.
"Sudah boleh pergi kan, bu?" tanya pak sopir memberanikan diri.
"Iya, tetapi jangan sampai..." kata Kanaya terjeda karena pak sopir sudah membawa mobilnya, tidak mau mendengar arahan Kanaya lagi.
"Aku kan belum selesai bicara, awas saja kalau Rendy terluka. Aku cari sopir taksi itu sampai ketemu." ucap Kanaya yang kesal.
******
Di sebuah rumah mewah, anak kecil berlari karena takut datang terlambat ke sekolah. "Pa, antar aku ke sekolah cepat. Aku sudah terlambat ini." kata Alex melirik jam tangannya.
"Kau sudah memberikan Rendy alat pelacak itu?" tanya Azal yang duduk di sofa miliknya.
"Sudah, pa. Aku simpan di tas Rendy." jawab Alex.
"Tetapi, kenapa alat pelacaknya tidak berfungsi? Kok malah berputar-putar tempatnya? Apa Rendy tidak ke sekolah dan malah berkeliling?" tanya Azal yang bingung melihat layar ponselnya.
"Tidak biasanya Rendy absen sekolah. Dia selalu rajin ke sekolah." kata Alex berterus terang. Azal lalu menepuk meja di depannya membuat tubuh Alex bergetar.
"Kau bilang sudah memberi Rendy alat pelacak itu, tetapi lihat hasilnya. Alat pelacak itu malah jatuh ke tempat salah. Kau bisa mengerjakan apa yang papa minta atau bagaimana sih!" teriak Azal sambil menatap tajam Alex.
Salah satu pembantu di rumah Azal pun berlari ketika mendengar tuannya berteriak. Dia pun memeluk tubuh Alex yang ketakutan.
"Pak Azal, jangan terlalu kasar dengan Alex. Dia masih anak kecil." tegur bibi Unni.
"Justru karena dia masih anak kecil, harus di didik dengan baik. Lihat saja, tugas yang aku berikan tidak di kerjakan dengan baik, bagaimana bisa aku punya anak seperti dia?" ucap Azal semakin meninggikan suaranya membuat Alex menangis. Azal lalu pergi setelah memarahi Alex.
"Axel harus sabar yah." ucap bibi Unni sambil mengelus punggung Alex. Sudah sering Alex di perlakukan seperti ini, bahkan pernah mendapat hukuman lebih kejam dari sang papa karena tidak mau menurut. Anak yang seharusnya masih di manjakan dengan kasih sayang saat usianya seperti Alex, malah justru mendapati kebalikannya.
Alex menangis tersedu-sedu sambil memeluk bibi Unni-nya. Mengingat perlakukan manis Kanaya terhadap Rendy membuat Alex semakin iri dengan Rendy karena punya ibu yang baik seperti Kanaya.
"Aku kok tidak bisa seperti Rendy, Bi. Kenapa? Apa aku memang di takdirkan hidup menderita seperti ini?" tanya Alex di sela isak tangisnya.
"Masa sih, nak. Semua orang itu selalu di takdirkan hidup dengan bahagia. Tidak ada yang menderita. Mungkin papa Alex belum mengerti itu." bujuk Bibi Unni sambil menghapus air mata Alex perlahan-lahan.
__ADS_1