
"Apa yang kau lakukan dengan tanahnya, Lan?" tanya Alvin yang melihat Gilang sibuk mengcangkul, mengarahkan sekuat tenaganya.
"Menurutmu, apa yang kau lihat?" balas Gilang yang sudah di basahi keringat.
Alvin menepuk dahinya sambil menggeleng kepalanya. Ini hal yang mustahil bagi Gilang. Seorang presdir yang di takuti semua pengusahan malah terjun menjadi petani. Dan yang lebih mengerikannya lagi, Alvin harus melihatnya secara langsung.
"Lan, mau aku bantu?" tanya Alvin yang menunggu jawaban dari Gilang.
"Kalau kau ingin membantuku, kenapa harus bertanya dulu? Dari tadi hanya berdiri saja di situ. Tidak ada apa rasa kasihanmu padaku?" ujar Gilang yang menegur.
"Aku belum pernah bertani sebelumnya, namun itu cukup mudah. Biasanya, petani langsung menyiram benihnya seperti ini. Jadi, dia tidak repot membuat lubang apalagi sampai mengcangkul." ujar Alvin yang membuat benih cabai ke tiap tanah yang di lihatnya.
"Kau serius, seperti ini caranya?" tanya Gilang yang merasa ragu.
"Tentu saja. Aku pernah menonton petani yang sedang menanam padi. Benih padinya langsung di buang ke sawah tanpa di cangkul. Jadi, kau harus lebih sering melihat berita di tivi." Tepuk Alvin yang menyerahkan ember kecil pada Gilang. Semua benih cabai, sudah dia lempar ke kebun ibu Kanaya.
"Kita tunggu besok, semoga semuanya tumbuh sesuai perkiraan kita." ujar Alvin yang berlalu pergi. Gilang masih dirundung kebingungan. Pasalnya, dirinya terus saja merasa ada yang salah.
Sementara itu di dalam rumah, Kanaya terus saja mengetuk pintu kamar Rendy. Dia ingin membujuk anaknya yang terlanjur marah.
"Hei, Rendy! Kau tidak mau beli es krim? Bakso?" tanya Kanaya memancing.
"Aku hanya bercanda, kenapa kau memasukkannya ke dalam hati. Tidak biasanya kau jadi orang yang mudah kesal. Maafkan, Mama, Oke?" teriak Kanaya.
"Rendy! Kau dengar?" ujar Kanaya lagi yang tidak mendapat respon dari Rendy.
__ADS_1
Rendy malah sibuk memanjat jendela kamarnya agar bisa keluar dari rumah neneknya. Setelah sampai di bawah, senyum manisnya pun bersinar. Dia segera pergi berlari, mencari tempat atm.
"Hei, Lex. Tolong kirimkan uangku yang berada di dalam tasku!" perintah Rendy.
"Kalau aku tidak mau, bagaimana? Aku pikir kau memberikan semua uang itu padaku." ujar Alex dari seberang telepon.
"Kau cari mati, ha? Hei, kembalikan uangku sebelum tubuhmu ditampung di dalam tanah." ucap Rendy mengancam. Dia sudah seperti Gilang, menakutkan jika dirinya sudah marah.
"Kau dimana sekarang? Kau seharusnya datang mengambilnya sendiri."
"Lex, aku tidak mau bermain-main. Transfer saja uangku ke rekening yang sudah aku kirimkan. Uang itu akan aku pakai untuk membantu papaku. Kau mengerti?"
"Maaf, pak Rendy. Sepertinya anda salah paham, aku tidak sedang bermain-main." canda Alex yang malah tertawa. Dia puas mengerjai Rendy kali ini.
"Naya, Rendy ke mana? Tidak biasanya dia terus mengurung diri di dalam kamar. Apa kau habis memarahinya lagi?" tanya Ibu Kanaya yang menatap anaknya dengan tatapan curiga.
"Mana mungkin, Bu. Aku ini ibu yang terbaik bagi Rendy. Ibu pasti tahu kan?" jawab Kanaya.
"Ya sudah, aku akan memanggil Rendy dan memastikannya langsung." ucap Ibu Kanaya yang bangkit.
"Stop!" pintah Kanaya yang menahan ibunya sendiri. Dia lalu tersenyum penuh makna.
"Biar aku saja yang memanggil Rendy di kamarnya. Ibu tunggu di sini. Tidak baik meninggalkan dua orang tamu kita yang sudah duduk manis di sini." jelas Kanaya sambil berlari masuk ke dalam rumahnya. Ibunya hanya menatapnya dengan heran. Dia lalu duduk kembali sambil menatap Alvin dan Gilang bersamaan.
"Pekerjaan kalian sudah selesai?"
__ADS_1
"Iya, calon mertua. Semuanya beres." jawab Gilang dengan sopan dan santun.
"Bagus, kau juga bisa di andalkan. Nanti kita lihat hasilnya." balas ibu Kanaya yang tersenyum puas sekaligus bangga.
Di depan kamar Rendy, Kanaya mengetuk kembali pintu kamar anaknya. Namun, masih belum ada suara dari dalam kamar. Karena panik, Kanaya memilih mendobrak pintu kamar Rendy sampai rusak.
"Rendy tidak ada?" ucap Kanaya yang terkejut melihat sosok anak itu tidak ada di dalam kamarnya. Hanya jendela kamar yang terbuka dan terdapat tali yang ikat.
"Wah, anak ini selalu mencari masalah denganku. Setiap hari, aku selalu saja di jadikan orang jahat." Hela Kanaya yang duduk di kursi belajar anaknya.
Tiba-tiba, seseorang menarik tali yang terikat di jendela kayu itu. Kanaya segera bangkit lalu bersembunyi. Dia menunggu Rendy masuk ke kamar.
"Hufft, aman. Setidaknya semua uangku berhasil sampai dengan selamat." kata Rendy yang merasa lega. Dia menyimpang kartu atmnya di dalam tas Alex.
"Dari mana kamu, Anak kecil?" tanya Kanaya yang keluar dari bawah meja. Dia langsung melipat kedua tangannya dan menatap anaknya dengan tajam.
"Oh, Mama. Rendy pikir tadi tikus. Masa mama sembunyi di kamar Rendy?" balas Rendy.
"Benarkah, mama tikus? Kalau kau juga tikus, berarti mama juga tikus."
"Tidak, mama kucing dan Rendy yang jadi tikusnya. Seperti tom dan Jerry, Ma." senyum Rendy.
"Cepat keluar, nenek sudah menunggumu. Awas jika kau mengadu macam-macam pada nenek, aku bisa tidur di luar. Mengertilah sedikit." kata Kanaya memperingati anaknya.
"Tenang saja, Ma. Rendy ini anak baik, seperti mama dan papa." balas Rendy yang menyusul Kanaya.
__ADS_1